Site icon Wanita Indonesia

Kolaborasi Indonesia-Australia dalam Kredit Keanekaragaman Hayati

Butuh fondasi yang kuat untuk kelestarian lingkungan. gdi

WANITAINDONESIA.CO – Upaya menjaga kelestarian alam kini tak lagi sekadar aksi tanam pohon, melainkan telah bertransformasi menjadi sebuah sistem tata kelola yang profesional dan berintegritas. Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup tengah mematangkan sebuah strategi inovatif bernama kredit keanekaragaman hayati (biodiversity credit).

Langkah ini menjadi angin segar bagi masa depan ekosistem kita, di mana perlindungan terhadap flora dan fauna kini didukung oleh pendanaan yang transparan dan berbasis pembuktian ilmiah. Komitmen ini dipertegas dalam dialog kebijakan bersama pemerintah Australia yang bertujuan menciptakan standar perlindungan lingkungan dengan integritas setinggi mungkin.

Dalam perjalanannya, pengembangan instrumen ini tidak hanya berfokus pada angka, tetapi juga pada keterlibatan manusia di dalamnya. Pemerintah menekankan pentingnya pelibatan seluruh pemangku kepentingan secara inklusif, mulai dari masyarakat lokal hingga sektor swasta. Melalui pembentukan satuan tugas (task force) dan proyek percontohan (pilot project), Indonesia bersiap membangun fondasi kuat agar setiap rupiah yang diinvestasikan benar-benar memberikan dampak nyata bagi kelestarian hayati yang berkelanjutan.

“Pengembangan kredit keanekaragaman hayati (biodiversity credit) di Indonesia harus dilandasi oleh integritas yang tinggi, pelibatan pemangku kepentingan yang inklusif, dan kerangka tata kelola yang kuat agar instrumen ini benar-benar memberikan dampak nyata bagi keanekaragaman hayati,” ujar Noer Adi Wardojo, Staf Ahli Menteri Bidang Kelestarian Sumber Daya Keanekaragaman Hayati dan Sosial Budaya Kementerian Lingkungan Hidup, di Jakarta, Sabtu.

Di sisi lain, Australia berbagi pengalaman berharga mereka melalui program pasar perbaikan alam (Nature Repair Market). Skema tersebut telah berhasil menciptakan perlindungan alam yang selaras dengan pasar karbon mereka. Salah satu poin menarik yang bisa dipelajari adalah pengakuan terhadap peran krusial masyarakat adat (First Nations) dalam menjaga keseimbangan alam. Semangat ini sejalan dengan harapan kita di Indonesia, di mana kearifan lokal perempuan adat dan masyarakat pesisir sering kali menjadi garda terdepan dalam menjaga “napas” Bumi Pertiwi.

Kolaborasi antardua negara ini diharapkan mampu mendukung implementasi Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Indonesia (IBSAP) 2025–2045. Lebih jauh lagi, langkah ini merupakan bentuk kontribusi nyata Indonesia dalam mencapai target global yang tertuang dalam Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal (KMGBF) serta Perjanjian Paris (Paris Agreement) untuk menekan laju perubahan iklim.

Kehadiran sistem kredit keanekaragaman hayati ini menjadi harapan bagi kaum perempuan yang merindukan dunia yang lebih hijau untuk anak cucu. Dengan tata kelola yang kredibel dan transparan, setiap jengkal hutan dan keunikan hayati yang kita miliki kini punya peluang lebih besar untuk tetap lestari. Pada akhirnya, menjaga alam adalah cara terbaik kita mencintai kehidupan, memastikan bahwa warisan ekologis Indonesia tetap terjaga dengan integritas yang tak tergoyahkan. (Gdi)

Exit mobile version