Kisah-kisah Unik SELANGKAH, Asa Itu Selalu Ada!

Melda awalnya takut, kini SELANGKAH MAJU lewat pengobatan medis, gaya hidup sehat, support system keluarga, dan tim dokter Foto : Istimewa.

WanitaIndonesia.co, Jakarta – Momen pencapaian 32.000 penerima manfaat skrining kanker payudara dari Program Charity SELANGKAH, harus menjadi awal baru Skrining menjadi lifestyle masyarakat Indonesia. (David Utama, Presiden Direktur, Rumah Sakit Siloam).

Rasa takut menjadi alasan sekaligus ancaman terbesar buat masyarakat, khususnya kaum wanita dari keganasan penyakit kanker payudara. Hal yang tak lazim ditemukan pada saat hendak dilakukan skrining. Cerita miris hadir dari seorang dokter serta pendidik penerima manfaat.

Mereka tahu, mereka merasakan, melihat serta meraba adanya benjolan pada payudaranya.
Tapi keduanya memilih opsi berdiam diri, walau sejatinya kedua wanita penerima manfaat skrining cuma-cuma dari Program SELANGKAH memiliki background serta wawasan yang baik.

“Lho kok bisa ya seorang dokter, dan pendidik menghadapi persoalan yang dilematis karena kanker payudara?. Hal ini menjadi pertanyaan menggelitik para jurnalis yang hadir untuk menyemangati keberhasilan Program SELANGKAH, ” Rayakan Harapan : Perjalanan 32.000 Skrining Kanker Payudara.”

Kekinian semakin maju serta terdepan atas pencapaian skrining yang dilakukan secara cuma-cuma yang telah terselenggara dengan sukses di 150 Desa serta komunitas
menapak pada hitungan ke 32.000 penerima manfaat.

Mereka menarget sebanyak 50.000 orang penerima manfaat. Pun guna percepatan target, cakupan wilayah kian diperluas dengan bertambahnya Rumah Sakit Siloam yang terlibat dalam program. Sebanyak 41 fasilitas kesehatan dalam Siloam Hospitals Group turut terlibat.

Faktanya boleh jadi kedua wanita tersebut layaknya tipikal Wanita Indonesia pada umumnya. Mereka tak mampu melenyapkan rasa takut, dikarenakan stigma masyarakat serta alasan lainnya yang tak mendasar. Seperti yang diceritakan oleh dr. Vera, N. Tarigan, Sp. Rad, Subsp. PRP(K), Kepala Departemen Radiologi Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk. Beliau ikut menjadi
tim dokter relawan SELANGKAH serta Melda Hutagalung, salah seorang penerima manfaat.

dr. Vera galau sendiri ketika ada sejawatnya takut melakukan skrining
Foto : WanitaIndonesia.co

“Enyahkan Takutmu!. Jadikan Skrining Lifestyle

Takut Skrining, takut terdeteksi, takut pengobatan yang menimbulkan rasa sakit, takut kematian, takut biaya pengobatannya mahal menjadi peer para Pemangku Kepentingan untuk menghilangkannya.

Dokter Vera menjelaskan, Guna menyukseskan capaian target sebanyak 50.000 penerima manfaat, kami berjibaku berkejaran dengan waktu. Menyambangi sejumlah ekosistem seperti Lapas Khusus Wanita, organisasi maupun komunitas wanita di berbagai daerah. Saat melakukan Charity di sebuah Lapas,
dr. Vera menjadi paham dengan permasalahan klasik ihwal penyakit kanker payudara.

Baca Juga :  "SELANGKAH, Peace, Love Asa Tinggikan Marwah Wanita Indonesia

Walau di tengah gencarnya edukasi, kampanye, skrining serta beragam inisiasi yang telah dilakukan oleh Pemangku Kepentingan, namun rasa takut yang dipicu oleh beragam hal, utamanya oleh stigma masyarakat menjadi hal terbesar, penyebab tingginya prevelansi penyakit kanker payudara serta angka kematian di Indonesia.

Turut memberikan pendapat sekaligus pesan kunci untuk menang melawan kanker payudara, dr. Ruth Vonky Rebecca, SpPD, K-HOM. Ia pun turun langsung untuk melakukan skrining. Dokter Ruth menegaskan bahwa deteksi dini akan meningkatkan peluang kesembuhan secara signifikan. Jika ditemukan sejak awal kemudian dilakukan pengobatan secara medis, maka tingkat kesembuhannya jauh lebih tinggi serta kualitas hidup pasien tetap terjaga.

dr. Ruth memotivasi perempuan penerima manfaat untuk melanjutkan pemeriksaan secara medis serta berobat saat terdeteksi.
Foto : Istimewa.

Kepada WanitaIndonesia.co, Dokter Ruth menyampaikan, “Jika ada temuan tertentu pada penerima manfaat, saya selalu meng encourage lewat sesi konseling. Seperti jika ditemukan tumor jinak, tumor akan membesar dalam hitungan setahun. Tapi jika tumor tersebut ganas waktunya lebih cepat berkisar 6 bulan.

Guna mencapai target 50.000 skrining Dokter Vera bersama tim dokter Siloam Hospitals Group kerap menyambangi Rutan Wanita serta komunitas. Selama menjalani tugas mulia sebagai dokter relawan untuk melakukan skrining, ia mengaku mendapatkan banyak pengalaman berkesan. Salah satunya cerita seorang dokter wanita yang kerap melakukan skrining kanker payudara di sebuah Lembaga Pemasyarakatan.

Saat berinteraksi sebutlah sosok tersebut dengan inisial dokter C. Di sela kesibukan, dokter C curhat sambil berbisik, bahwa ia menemukan banyak benjolan di payudaranya, di sebelah kiri.
Selama ini ia menyembunyikan rapat-rapat temuan benjolan tersebut, karena didera perasaan takut serta malu.

Dokter Vera menceritakan, Saya kaget, heran juga bingung dong. “Lho, kok bisa ya, seorang dokter yang tugasnya lekat melakukan skrining, ternyata ia sendiri malah takut untuk melakukan pada dirinya sendiri?, selain yang bersangkutan juga kerap memberikan edukasi. Hal ini sangat saya sesalkan, “ujarnya miris.

Baca Juga :  Cerita Unik Sup Buntut dari Hotel Mewah Fullerton Singapura, hingga Jamuan Keluarga di Malaysia

Dari pengalamannya tersebut, ia mengajak masyarakat luas untuk berani melawan ketakutan, berani melakukan pemeriksaan serta berani menjalankan pengobatan secara medis bukan ke alternatif.

Momen ini sekaligus menjadi semacam alert, bahwa tingginya prevalansi penyakit kanker payudara stadium lanjut itu nyata, dikarenakan ketakutan serta terlambat untuk melakukan deteksi dini.

Hal ini memotivasi saya, dan tim dokter dari Rumah Sakit Siloam Group untuk berjibaku dengan waktu guna menyukseskan Program SELANGKAH.

Dokter Vera menambahkan, “Bersyukur setelah curhat itu, ia mau melakukan skrining. Waktu diperiksa, saya sampai kaget karena menemukan banyak benjolan di payudara sebelah kirinya.
Butuh waktu hingga setengah jam untuk menemukan semua benjolan tersebut. Temuan ini lalu saya catat kemudian direkomendasikan untuk penanganan lebih lanjut.

Menyambung pembicaraan Presiden Direktur Siloam, David Utama, “Selain skrining program mencakup edukasi, pembacaan hasil serta sesi konseling. Tahun ini hadir inovasi dengan pemantauan lanjutan bagi peserta dengan hasil temuan tertentu, guna memastikan skrining ini efektif serta berdampak lewat tindakan lanjut yang cepat, dan tepat.”

Dokter Vera melanjutkan, “Dari hasil skrining 80% benjolan yang ditemukan itu adalah tumor jinak.
Sisanya sebanyak 0,9% penerima manfaat didiagnosis dengan Birads kategori 4. Ini menandakan adanya massa mencurigakan serta membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Kami berharap peserta segera berobat secara medis.”

Cerita Pendidik Optimisme Yang Diuji

Cerita lain meluncur dari bibir seorang guru Melda Hutagalung. Siang dalam teriknya matahari Bulan Ramadan, penderita penyakit kanker payudara ini tampil segar, ceria penuh percaya diri seolah tanpa terbebani oleh penyakitnya itu.

Ia mengaku telah mengetahui adanya benjolan pada payudara sebelah kanan. “Saya paham ini berbahaya serta butuh pemeriksaan medis lebih lanjut. Saya juga banyak mendengar omongan pakar atau membaca, bahwa tak semua benjolan tersebut merupakan penyakit kanker payudara,
karena bisa juga hanya tumor jinak. Saya pun paham, bahwa hal ini tak boleh disepelekan. Butuh penanganan medis, “tambahnya.

“Namun karena takut terdiagnosa, juga pusing dengan biaya pengobatan yang sangat mahal, selain tak muncul rasa sakit, saya pun abai. Mencoba melupakan sembari beraktivitas.
Ketika sekolah tempat saya mengajar mendapat tawaran untuk melakukan skrining lewat Program SELANGKAH, saya enggan untuk mendaftar, “imbuh Melda.

Baca Juga :  Kisah Ayesha: Dari Bully karena Kacamata Tebal hingga Percaya Diri Berkat Terapi Ortho-K
Komunitas Perempuan Menari, awalnya pun takut terdeteksi, kini kian optimis SELANGKAH Maju lewat pengobatan medis serta tarian indah mereka.
Foto : WanitaIndonesia.co

Melda melanjutkan, “Atas inisiatif kakak, saya lalu didaftarkan bersama dengan guru-guru lainnya.
Ketika waktunya tiba, perasaan saya jadi campur aduk, deg- degan. Kian menjadi ketika dokter menjelaskan kondisi benjolan tersebut adalah kanker!. “Tidak, batinku menjerit.”

“Sedih, takut, serta beragam perasaan tak nyaman lainnya mendera batin.
Beruntung dokter yang memeriksa saya mampu memberikan support system, ia memberikan waktu untuk meluapkan perasaan. Ketika mulai berangsur tenang, beliau memberikan penjelasan seputar proses pengobatan, harapan sembuh serta upaya untuk meningkatkan kualitas hidup, dengan bahasa yang mudah dicerna oleh perempuan yang sedang panik. Penjelasannya itu ringkas serta lengkap, “curhatnya.

“Singkat cerita aku harus melakukan mastektomi (bedah untuk pengangkatan payudara) pada payudara sebelah kanan, dikarenakan lebar benjolannya lebih dari 35 cm,” terang Melda.

“Aku juga rutin melakukan kemoterapi. Saat kemo ke – 7, dokter memeriksa payudara sebelah kiri. Tuhanku, ditemukan benjolan baru. Takut itu kembali menyergap. Beruntung berkat support system dari tim dokter SELANGKAH, aku kembali optimis, dan akan selalu optimis untuk berjuang bersama ribuan perempuan lainnya, ” imbuhnya.

“Saya kini percaya bahwa asa untuk hidup lebih lama serta produktif bagi penderita kanker payudara itu selalu ada, bilamana terdeteksi di stadium awal, lalu ditangani secara medis sesungguhnya penyakit ini mudah untuk ditaklukkan, ” tambahnya.

“Selain itu penting untuk berpikir positif, melakukan manajemen stres. Aku jadi rajin menjalankan lifestyle gaya hidup sehat guna mendukung proses pengobatan secara medis. Bagiku ini kombinasi pengobatan yang klop, “pungkas Melda.

Selain Melda, hadir komunitas Perempuan Menari yang telah menerapkan manfaat dari Program SELANGKAH yang menjadi bukti konkrit kepedulian Siloam Hospitals terhadap kesehatan Wanita Indonesia. Lewat deteksi dini, edukasi serta pemantauan berkelanjutan, berharap dapat lebih banyak memberikan harapan serta kesempatan bagi Wanita Indonesia untuk mendapatkan perawatan tepat waktu.