Ketika Warga Jakarta “Sulap” Eks Lahan Kontainer Jadi Oase Melepas Penat

Forum Udara Warga yang diinisiasi Katadata Green bersama Breathe Cities Jakarta berfoto bersama usai menggelar program bertajuk ""Udara Kita, Suara Kita". (Katadata)

WANITAINDONESIA.CO – Menghirup udara bersih di Jakarta kini menjadi sebuah kemewahan yang mahal. Sebagai salah satu kota dengan kualitas udara terburuk di Asia Tenggara, ibu kota terus dikepung lapisan polutan lintas arah, mulai dari emisi kendaraan bermotor, cerobong industri, hingga aktivitas pembakaran sampah rumah tangga. Di tengah kepungan kabut asap yang pekat ini, sebuah gerakan dari bawah tanah mulai bersemi. Warga Jakarta memilih tidak tinggal diam dan mengambil peran nyata demi merebut kembali hak paling mendasar mereka, yakni napas yang sehat.

Kehadiran masyarakat yang berkumpul di kawasan hijau Tebet Eco Park pada Minggu (21/6) menjadi bukti nyata dari urgensi tersebut. Melalui Forum Udara Warga yang mengusung tajuk “Udara Kita, Suara Kita”, riuh rendah diskusi mengalir bukan dari balik meja birokrasi, melainkan dari penuturan jujur para warga yang sehari-hari berhadapan langsung dengan polusi. Kegiatan yang diinisiasi oleh Katadata Green bersama Breathe Cities Jakarta ini menggeser paradigma lama, menegaskan bahwa udara bersih adalah hak kesehatan warga yang mutlak, bukan sekadar komoditas isu lingkungan yang diperdebatkan di atas kertas.

Breathe Cities sendiri merupakan sebuah kemitraan global yang disokong oleh Bloomberg Philanthropies, Clean Air Fund, dan C40 Cities, serta dijalankan bersama Vital Strategies di Jakarta untuk menyokong kota-kota besar dalam membenahi kualitas udara dan kesehatan publik.

Aksi nyata ini menepis anggapan bahwa urusan lingkungan hanyalah tanggung jawab pemerintah semata. Ajie, seorang penggerak masyarakat sekaligus penyuluh kesehatan dari Kebayoran Lama Selatan, mengungkapkan bahwa ruang perjumpaan seperti ini sangat krusial. Baginya, forum tersebut menjadi wadah strategis untuk saling mengadopsi praktik baik dari komunitas lain yang menghadapi tantangan serupa di wilayahnya. Ke depan, ia menaruh harapan besar agar generasi muda bisa mengambil estafet gerakan dan terlibat lebih masif dalam menyuarakan hak atas udara bersih.

Baca Juga :  Kolaborasi Bakti Melalui Perda No.4 Hadirkan Kesejahteraan Sosial Bagi Warga Jakarta

Cerita-cerita inspiratif memang mengalir deras dari perwakilan warga Penjaringan, Kebayoran Lama Selatan, Kebon Kosong, hingga Semper Barat. Mereka membawa bukti autentik mengenai pengelolaan bank sampah, pembangunan kebun komunitas, transisi energi di dapur rumah tangga, hingga advokasi ruang terbuka hijau (RTH). Semua gerakan ini tumbuh organik dari kebutuhan bertahan hidup yang paling rijal.

Gerakan berbasis komunitas ini pun mendapat apresiasi tinggi dari pemerintah daerah. Kepala Sub-kelompok Pemantauan Kualitas Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Rahmawati, menegaskan bahwa model partisipasi aktif dari akar rumput ini memiliki nilai yang sangat strategis. Menurutnya, apa yang dilakukan oleh komunitas-komunitas ini bukan lagi sekadar pelengkap atau penambal lubang dari program kerja pemerintah. Sebaliknya, aksi swadaya masyarakat inilah yang sudah sepatutnya dijadikan sebagai fondasi utama dalam merumuskan kebijakan udara bersih di masa depan.

Salah satu potret perjuangan yang paling kontras terlihat di RW 004 Semper Barat, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Bagi masyarakat di sana, polusi udara bukanlah sebuah abstraksi visual atau angka-angka di aplikasi pemantau gadget. Kawasan pemukiman mereka berbatasan langsung dengan delapan titik wilayah bongkar muat Pelabuhan Tanjung Priok. Saban hari, kepulan emisi diesel dari truk kontainer kelas berat memenuhi jalanan dan paru-paru warga, memicu berbagai gangguan pernapasan kronis.

Baca Juga :  Bazar Ramadhan di Balai Kota, Warga Jakarta Bisa Tebus Paket Sembako Rp150 Ribu Hanya Rp100 Ribu

Situasi kian pelik dengan adanya kebiasaan buruk pembakaran sampah secara terbuka di area pemukiman padat. Praktik ini menyumbang polutan halus berbahaya berukuran 2,5 mikrometer atau PM2.5 (particulate matter 2.5) yang langsung mengancam kesehatan kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia (lansia).

Menghadapi ancaman berlapis tersebut, Nur Fiyah bersama rekan-rekannya di Bank Sampah Kenanga bergerak melakukan perubahan. Berawal dari gerakan memilah limbah rumah tangga sejak tahun 2017, inisiatif ini kini bertransformasi menjadi gerakan advokasi ruang hidup. Nur Fiyah menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif bahwa warga memiliki daya dan kekuatan untuk memutus rantai polusi dari sumbernya, yang pada akhirnya membawa manfaat ekonomi dan kesehatan kembali ke kantong warga.

Kini, Bank Sampah Kenanga telah merangkul lebih dari 600 nasabah aktif, di mana tabungan sampah yang terkumpul dikonversi untuk membantu biaya pendidikan, persalinan, hingga modal usaha mikro. Uniknya, mereka tidak mengandalkan aturan hukum formal untuk menghentikan pembakaran sampah liar, melainkan lewat kesepakatan sosial dan sanksi adat antartetangga.

Langkah maju terus dirajut oleh Nur Fiyah dan komunitasnya. Lahan bekas parkir kontainer yang dulunya gersang dan berdebu kini sukses disulap menjadi taman hijau yang asri berkat kolaborasi bersama pemerintah setempat. Tak berhenti di situ, sebuah waduk buatan kini tengah dibangun untuk menyempurnakan fungsi ruang terbuka hijau tersebut. Impian mereka sederhana namun mendalam, yaitu memastikan generasi masa depan memiliki tempat bermain yang layak dengan udara yang bisa dihirup tanpa rasa waswas.

Baca Juga :  Menggugah Selera! Kawasan Benhil Tetap Jadi Magnet Berburu Takjil Warga Jakarta

Agar api gerakan ini tidak padam setelah berkumpul di taman, forum ini juga menandai peluncuran kembali platform digital Jakarta Rendah Emisi atau JRE melalui laman jakartarendahemisi.id. Media digital ini dirancang sebagai kanal komunikasi terintegrasi yang mempertemukan warga, organisasi masyarakat sipil atau CSO (civil society organization), dan pemerintah daerah untuk terus memantau serta melahirkan aksi nyata di tingkat lokal secara berkelanjutan.

Harapan besar pun digantungkan pada keberlanjutan interaksi ini. Indonesia Country Coordinator di Vital Strategies, Imelda Maidir, yang mewakili Breathe Cities Jakarta, mengingatkan bahwa dialog antarwarga ini tidak boleh menjadi seremoni sesaat. Platform JRE disiapkan sebagai ruang digital yang inklusif untuk menyambung napas percakapan, berbagi data, dan mematangkan taktik kolaborasi setiap harinya demi langit Jakarta yang kembali membiru.

Bagaimana dengan lingkungan tempat tinggal Anda? Perubahan besar selalu dimulai dari halaman rumah sendiri. Menjaga kualitas udara bukan lagi pilihan, melainkan keputusan bersama untuk menyambung kehidupan. Mari mulai memilah sampah, menghentikan pembakaran liar, dan ikut bersuara di platform Jakarta Rendah Emisi demi masa depan ruang hidup kita yang lebih sehat. (Gdi)