WANITAINDONESIA.CO — Sebuah terobosan berteknologi tinggi kini tengah disiapkan untuk menjaga kelestarian benteng terakhir mamalia besar di Ujung Timur Sumatra. Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) resmi mematangkan pengembangan sistem pusat komando ( command center ) terpadu berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI).
Fasilitas canggih ini dirancang khusus untuk memetakan koridor lintasan gajah sekaligus memantau keasrian hutan dari balik layar kaca secara waktu nyata ( real-time ).
Langkah transformatif ini menjadi sinyal kuat bahwa upaya perlindungan satwa terancam punah kini makin modern dan presisi. Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra di TNWK Brigjen TNI Sriyanto mengungkapkan bahwa kehadiran teknologi ini akan mengubah cara manusia menjaga alam.
“Fasilitas digital mutakhir ini disiapkan untuk memperkuat pengawasan satwa liar, memetakan koridor lintasan gajah, sekaligus mendeteksi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kejahatan kehutanan secara waktu nyata (real-time),” ujar Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra di TNWK Brigjen TNI Sriyanto.
Keunggulan utama dari sistem digital ini terletak pada kemampuannya mengenali setiap penghuni rimba secara mendalam. Pusat komando multifungsi ini kelak mampu membaca biodata individual gajah melalui integrasi data visual dan posisi berbasis sistem penentu posisi global ( global positioning system / GPS). Pengumpulan data biologis ini menjadi krusial untuk menganalisis jalur jelajah kawanan gajah yang kerap berubah seiring pergantian musim, sekaligus meminimalkan risiko perburuan liar.
“Pengembangan sistem command center ini dirancang multifungsi, mulai dari mengenali data biologis satwa, memitigasi potensi perburuan dan pencurian, hingga menganalisis korelasi data satwa guna memetakan jalur jelajah gajah sesuai perubahan musim,” tutur Sriyanto.
Proses pengumpulan data di lapangan pun melibatkan teknologi udara yang mutakhir. Komite mengerahkan tim khusus yang mengoperasikan wahana nirawak ( drone ) jenis M1 Drone untuk memindai area secara intensif pada pagi dan sore hari. Pengambilan sampel fokus dilakukan di kantong-kantong populasi gajah, seperti di Kamp Unit Tanggap Gajah ( Elephant Response Unit / ERU) dan Pusat Latihan Gajah (PLG). Setiap gajah diabadikan dalam 30 foto serta rekaman video 360 derajat guna membangun basis data pembelajaran mesin ( machine learning ).
“Target pengumpulan data visual gajah sebagai materi pembelajaran AI ditargetkan rampung dalam satu hingga tiga hari ke depan,” tambah Sriyanto.
Tidak hanya fokus pada keselamatan gajah, pusat komando ini juga menjadi benteng pertahanan utama dari ancaman kebakaran hutan. Empat titik rawan yang mencakup kawasan Braja Luhur, Braja Kencana, Karang Anyar, dan Wako kini dipantau secara berkala melalui layar monitor khusus. Perangkat ini dibekali fitur simulasi peringatan dini (early warning system) yang peka terhadap indikasi kejahatan kehutanan maupun tingkat keparahan api.
Guna memperkuat penjagaan di perbatasan, komite turut mengintegrasikan perangkat pengeras suara ( speaker ) dan mikrofon peringatan jarak jauh. Teknologi suara ini berfungsi praktis untuk menghalau perambah hutan sekaligus mencegah kawanan gajah agar tidak masuk ke pemukiman warga di desa penyangga.
“Untuk langkah mitigasi langsung di batas kawasan, komite juga mendemonstrasikan integrasi perangkat pengeras suara (speaker) dan mikrofon peringatan jarak jauh guna menghalau perambahan ataupun mencegah kawanan satwa mendekati pemukiman warga desa penyangga,” tutup Sriyanto.
Harmoni antara kecerdasan buatan dan kearifan menjaga alam ini membawa harapan baru bagi keberlangsungan Gajah Sumatra. Mari bersama-sama mendukung setiap langkah pelestarian lingkungan agar keindahan fauna kekayaan Nusantara ini tetap lestari dan dapat disaksikan oleh generasi masa depan. (Gdi)

