Kemenkes Gandeng The Lancet, Rancang “Reimagining Healthcare” untuk 2045

Kerja sama bertajuk “Reimagining Healthcare in Indonesia for 2045” ini resmi diresmikan di Auditorium J. Leimena, Kantor Kemenkes baru-baru ini.

WANITAINDONESIA.CO – Pernah terpikir tidak, seperti apa wajah pelayanan kesehatan di Indonesia saat anak-cucu kita tumbuh dewasa nanti. Pastinya kita semua mendambakan fasilitas kesehatan yang merata, canggih, dan ramah untuk siapa saja, bahkan hingga ke pelosok desa.

​Kabar baiknya, langkah besar menuju ke sana sedang dipersiapkan dengan sangat matang. Dilansir dari rilis resmi Kemenkes.go.id, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI baru saja meluncurkan kolaborasi bersama The Lancet Regional Health Western Pacific Commission . Kerja sama bertajuk “Reimagining Healthcare in Indonesia for 2045” ini resmi diresmikan di Auditorium J. Leimena, Kantor Kemenkes baru-baru ini.

​Langkah strategis ini diambil karena pemerintah ingin menyusun rekomendasi kebijakan jangka panjang berbasis bukti ilmiah yang kuat. Targetnya, tentu saja untuk menyambut 100 tahun kemerdekaan Indonesia alias Indonesia Emas 2045 dengan kualitas masyarakat yang jauh lebih sehat dan sejahtera.

Baca Juga :  Kemenkes Perketat Pengawasan di Pintu Masuk Negara untuk Cegah Penyebaran Hantavirus

​Ada yang spesial dari peluncuran ini. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, komisi dari rumpun jurnal medis paling bergengsi dan berpengaruh di dunia sejak tahun 1823 ini, diprakarsai dan dipimpin bersama (co-chaired) langsung oleh para ahli dan ilmuwan asli dari Indonesia.

​Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya atas pencapaian bersejarah ini.

​“Kita patut bangga bahwa Indonesia kini melahirkan komisi jurnal Lancet pertama yang dipimpin putra-putri bangsa. Ini menunjukkan kematangan ekosistem riset kita,” ujar Menkes Budi.

​​Lalu, bagaimana cara kolaborasi ini bekerja untuk masa depan kita. Menkes Budi mengingatkan tentang pentingnya memanfaatkan periode bonus demografi yang diprediksi terjadi pada tahun 2030–2035 nanti. Agar negara kita bisa maju dan keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah, syarat utamanya cuma dua: masyarakatnya harus pintar dan sehat.

Baca Juga :  Cuaca Ekstrem Melanda Indonesia, Dompet Dhuafa dan Kemenkes Tekan Pola Hidup Bersih dan Sehat Cegah Penyakit

​Di sinilah peran penting kita sebagai wanita dan bagian dari keluarga diuji. Kemenkes berkomitmen untuk menjaga kesehatan manusia Indonesia bahkan sejak masih di dalam kandungan hingga usia lanjut.

​“Tidak mungkin kita menghasilkan masyarakat yang produktif dan berpendapatan tinggi jika mereka tidak pintar dan tidak sehat. Saya berharap para peneliti dapat membantu kami menyediakan data dan bukti ilmiah yang kuat untuk mengevaluasi efektivitas kebijakan-kebijakan yang kami jalankan,” tambah Menkes Budi.

​Sebagai langkah nyata, pemerintah sendiri sudah memasang target jangka pendek dalam RPJMN 2025–2029, yaitu meningkatkan angka harapan hidup masyarakat Indonesia menjadi 76 tahun, dan harapan hidup sehat menjadi 65 tahun lewat penguatan 6 pilar transformasi kesehatan langsung di lapangan.

​Tidak sekadar riset di atas kertas, misi utama dari kolaborasi ini sangat menyentuh hati. Dr. Sandersan Onie, selaku Founding Co-Chair Komisi Lancet Regional Health – Western Pacific, menegaskan bahwa mereka ingin memastikan realitas kesehatan di berbagai daerah Indonesia diakui dunia.

Baca Juga :  Persiapan Haji 2026: Jangan Sampai Penyakit 'Kambuh' di Tanah Suci, Ini Tips Kemenkes!

​“Komisi ini pada akhirnya tentang satu hal: memastikan masyarakat termiskin, terpencil, dan paling terpinggirkan di negeri ini dapat menjangkau layanan kesehatan yang bermutu dan bermartabat pada 2045,” kata Dr. Sandersan.

​Langkah proaktif Indonesia ini juga mendapat acungan jempol dari Dr. Jie Cai, Editor-in-Chief The Lancet Regional Health – Western Pacific. Menurutnya, Indonesia sangat mandiri dan berani dalam menentukan masa depan kesehatannya sendiri lewat kekuatan riset lokal.

​Dengan adanya rekomendasi dari Komisi Lancet ini, Kemenkes berharap seluruh pihak makin berani mendesain ulang sistem kesehatan masa depan yang inklusif hingga ke pelosok pulau terjauh. (Des)