
WANITAINDONESIA.CO — Menginjak tahun ke-16, program Diploma III Seni Rupa & Desain (Fashion Design) Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif (FHIK) Universitas Kristen Maranatha sukses menyelenggarakan perhelatan akbar Evolusia 2026 bertajuk “OMNIA: Many Worlds. One Human Experience.”
Berkolaborasi bersama Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Jawa Barat, acara yang berlangsung di Imah Seniman, Bandung, pada 5 November 2026 ini menampilkan 54 looks hasil karya mahasiswa Program Diploma III Seni Rupa & Desain (Fashion Design) Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif (FHIK) Universitas Kristen Maranatha.
Grace Carolline, S.Ds., M.Ds., selaku Dosen Program Sarjana Desain Mode & Ketua Program Diploma Seni Rupa dan Desain, mengungkapkan bahwa kata “OMNIA” yang berarti “segalanya” diterjemahkan secara mendalam oleh para desainer melalui karakter cahaya dan bayangan. Layaknya cahaya putih yang terurai menjadi spektrum warna sekaligus membentuk bayangan, konsep ini merepresentasikan keberagaman gagasan, budaya, dan pengalaman manusia yang berpadu dalam satu panggung mode yang harmonis.
”Eksplorasi yang dihadirkan tidak hanya berfokus pada keindahan estetika semata, melainkan turut mengangkat kekayaan budaya lokal, isu sosial, prinsip keberlanjutan, hingga respons adaptif terhadap perkembangan teknologi masa depan,” ujar Grace.
Karya-karya spektakuler ini merupakan hasil buah tangan dari delapan belas desainer muda, yaitu Dea Nathania Hendratno, Silmi Ainun Sadida, Nesha Sava, Cindy William Liem, Jennifer Twin Suwandi, Jessica Twin Suwandi, Vanessa Felina, Aurelia Verlyn Tjahjar, Jennifer Angeline Setiawan, Qory Adzania Destianty, Chereen Riby Tjen, Angeline Klemens Hewila, Evangelina Haryani, Vinca Natamaria Kosasih, Silvy Nur Angraeni, Keisha Stephanie, Hayfa Flavia Calista, serta Nadira Riska Belinda.
Grace juga membagikan pandangannya mengenai bagaimana dunia akademik mempersiapkan talenta muda yang kompeten dan berdaya saing global di tengah gempuran teknologi.
”Kehadiran Artificial Intelligence (AI) disikapi secara bijak dengan menanamkan mata kuliah etika sebagai fondasi utama mulai dari etika kampus, etika desain, hingga etika digital agar mahasiswa tidak sepenuhnya mengandalkan mesin. Proses desain manual seperti ilustrasi fesyen dan teknik menjahit tangan tetap ditekankan secara ketat, sementara AI dimanfaatkan secara proporsional untuk riset konsep atau styling digital pada figur tanpa harus selalu mengandalkan model fisik,” ungkap Grace.

Perkembangan industri ini turut membawa pergeseran besar pada peluang karier lulusannya. Stigma bahwa sekolah fesyen hanya melahirkan seorang perancang busana kini telah terpatahkan sepenuhnya, sebab para alumni dibekali keahlian multidisiplin yang membuka jalur karier yang sangat luas.
Grace juga mengatakan bahwa lulusan program fesyen Maranatha banyak yang sukses berkarier sebagai penata rias dan penata rambut profesional, ilustrator yang sukses membangun merek stationery, buku catatan, hingga produk cetak bernilai seni seperti print scarf, serta berkarier sebagai fashion merchandiser maupun fotografer profesional. Melalui ajang fashion show seperti EVOLUSIA, mahasiswa didorong untuk selalu terbuka terhadap peluang serta aktif membangun jaringan luas dengan para pelaku industri sejak masa kuliah.
Visi kebudayaan juga menjadi napas utama dalam kurikulum melalui mata kuliah Tinjauan Budaya Indonesia. Mahasiswa diajak mengeksplorasi ragam budaya dari berbagai wilayah Timur, Tengah, hingga Barat mencakup tekstil tradisional, busana adat, tenun ikat, hingga songket.
Dalam mengolah kain tradisional, desainer muda dibekali panduan penting untuk melakukan riset mendalam dari sumber valid seperti buku dan jurnal, mempelajari aturan serta filosofi di balik kain agar tetap menghormati ketentuan adat, serta memadukan tren kontemporer agar tetap relevan dengan selera pasar generasi muda tanpa mengabaikan prinsip keberlanjutan demi menekan angka limbah tekstil global.
Sebagai puncak apresiasi atas pencapaian akademik dan kreativitas mahasiswa, EVOLUSIA 2026 turut memberikan tiga penghargaan khusus kepada talenta terbaiknya. Kategori Best Final Project diraih oleh Cindy William Liem berkat kualitas karya tugas akhir yang konsisten dari proses perencanaan awal hingga hasil akhir yang maksimal di panggung peragaan busana. Sementara itu, predikat Best All-Around Performance disematkan kepada Vinca Natamaria Kosasih atas keseimbangan prestasi akademik, keaktifan organisasi termasuk pernah memimpin HIMA, kepanitiaan, hingga prestasi di luar kampus selama tiga tahun masa perkuliahan. Selain itu, penghargaan Best Presentation & Portfolio diberikan kepada Qory Adzania Destianty yang mengagumkan lewat kemampuan mengemas portofolio dan konsep desain secara selaras dan profesional, baik dari segi estetika maupun komersial.
Perhelatan EVOLUSIA 2026 sekali lagi membuktikan bahwa pendidikan fesyen di era modern menuntut perpaduan harmonis antara penguasaan teknologi, kematangan keterampilan tangan, serta kecintaan mendalam terhadap identitas budaya lokal.
”Langkah strategis yang konsisten diterapkan oleh Universitas Kristen Maranatha ini sukses mencetak talenta muda Indonesia yang tidak hanya handal sebagai kreator, tetapi juga menjadi penjaga warisan budaya yang inovatif di kancah global,” tutup Grace. (Des)




