WANITAINDONESIA.CO – Tragedi tenggelamnya KM Putri Sakinah di perairan Pulau Padar, Labuan Bajo, menjadi luka mendalam sekaligus tamparan keras bagi industri pariwisata tanah air.
Menanggapi insiden maut yang merenggut nyawa dan menyisakan duka bagi wisatawan mancanegara tersebut, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menegaskan bahwa tahun 2026 akan menjadi tahun “pembersihan” dan penguatan total standar keamanan wisata.
“Program kami di 2026 fokus penuh pada peningkatan keamanan. Kami tidak ingin lagi ada celah. Pelatihan, pendampingan, hingga edukasi sumber daya manusia di sektor transportasi dan usaha pariwisata akan diperketat,” tegas Menpar Widiyanti di Gianyar, Bali.
Cuaca Ekstrem
Menteri Widiyanti tak menampik bahwa cuaca buruk yang belakangan mengepung Indonesia menjadi faktor risiko tinggi. Namun, ia menekankan bahwa alam bukan satu-satunya variabel. Koordinasi antar-lembaga yang selama ini sering berjalan di jalurnya masing-masing kini dipaksa untuk menyatu.
Menpar secara khusus menyoroti peran Kementerian Perhubungan sebagai garda terdepan dalam pengawasan izin pelayaran.
“Izin layar dan kelaikan kapal ada di Kemenhub. Kami akan berkoordinasi lebih agresif. Jika ada yang harus diperbaiki, maka perbaikan itu harus terjadi sekarang. Keamanan tidak bisa ditawar,” ujarnya dengan nada bicara serius.
Update Tragedi KM Putri Sakinah
Hingga saat ini, dari 11 penumpang kapal nahas tersebut, tujuh orang berhasil selamat. Namun, satu wisatawan asal Spanyol ditemukan meninggal dunia, sementara tiga lainnya masih dalam pencarian intensif.
Pemerintah RI memastikan penanganan korban dilakukan secara humanis, termasuk pendampingan bagi anak korban yang telah dipulangkan melalui Denpasar. Kerja sama erat dengan Kedutaan Besar Spanyol terus dijalankan untuk memastikan proses evakuasi dan mitigasi berjalan maksimal di tengah upaya pencarian tiga korban yang masih hilang.
Tips Memilih Perahu Wisata: Jangan Hanya Tergiur Harga dan Estetika
Agar perjalanan laut Anda tetap berkesan tanpa mengabaikan nyawa, berikut adalah panduan kritis dalam memilih perahu wisata:
1. Cek Legalitas dan Sertifikasi Kelaikan
Sebelum memesan, jangan ragu bertanya: “Apakah kapal ini memiliki Surat Persetujuan Berlayar (SPB) dan sertifikat keselamatan yang masih berlaku?” Kapal yang legal wajib melewati uji petik secara berkala oleh otoritas pelabuhan.
2. Perhatikan Rasio Alat Keselamatan
Saat naik ke atas kapal, hal pertama yang harus Anda lihat adalah Life Jacket (pelampung).
Pastikan jumlah pelampung melebihi jumlah penumpang.
Pastikan letaknya mudah dijangkau, bukan terkunci di dalam gudang atau di bawah tumpukan barang.
3. Amati Kondisi Fisik Kapal (Bukan Cuma Catnya)
Jangan hanya terpukau oleh desain pinisi yang cantik untuk foto Instagram. Perhatikan:
Apakah ada kebocoran kecil atau bau solar yang menyengat?
Apakah alat komunikasi (Radio VHF) dan GPS berfungsi di ruang kemudi?
Apakah tersedia sekoci atau life raft yang memadai?
4. Kenali Kapasitas Maksimal (Overcapacity adalah Musuh)
Banyak kecelakaan terjadi karena kapal kelebihan muatan. Jika Anda merasa kapal terlalu penuh sesak dengan barang dan orang melebihi kapasitas tempat duduk, lebih baik batalkan keberangkatan. Nyawa Anda lebih berharga daripada tiket yang hangus.
5. Pantau Prakiraan Cuaca Mandiri
Jangan hanya percaya pada kata nakhoda. Selalu cek aplikasi BMKG (Info BMKG) atau Windy untuk melihat tinggi gelombang dan kecepatan angin di lokasi tujuan. Jika statusnya “Peringatan Dini”, jangan memaksakan diri untuk berangkat.
6. Kompetensi Kru Kapal
Kru yang profesional biasanya memberikan safety briefing (penjelasan keamanan) sebelum kapal berangkat, menjelaskan di mana letak pelampung dan apa yang harus dilakukan dalam kondisi darurat. Jika kru tampak acuh tak acuh, itu adalah red flag. (Gdi)





