
WANITAINDONESIA.CO – Untaian tradisi dan keunikan budaya yang terbentang luas di bumi Nusantara adalah harta karun tak ternilai yang menanti untuk diceritakan kepada dunia. Kekayaan tradisi ini bukan sekadar warisan masa lalu yang statis, melainkan ruh utama yang mampu menghidupkan karakter kekayaan intelektual (intellectual property) lokal agar memiliki daya pikat yang mendalam dan relevan dengan perkembangan zaman.
Pandangan visioner ini diangkat oleh Wakil Menteri Ekonomi Kreatif sekaligus Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Irene Umar, dalam sebuah forum berbagi gagasan pada ajang Festival Manajer (Manager Fest) 2026 yang digelar di Jakarta. Beliau menegaskan bahwa keberagaman budaya di Indonesia merupakan kode sumber (source code) atau sumber inspirasi yang tidak akan pernah habis untuk diolah ke dalam industri kreatif yang bernilai tinggi.
Salah satu contoh nyata yang telah berhasil membuktikannya adalah kisah sukses Desa Timun, yang mampu mengemas kearifan lokal menjadi sebuah karya yang memikat hati.
Langkah kreatif seperti ini diharapkan dapat memicu lahirnya ekosistem kreatif yang tumbuh subur dari akar rumput. Dengan sentuhan inovasi, kekayaan intelektual berbasis budaya tidak lagi sekadar menjadi pajangan yang pasif, melainkan sebuah gerakan aktif yang memperkenalkan identitas bangsa kepada generasi muda dengan cara yang menyenangkan.
“Kementerian Ekonomi Kreatif senantiasa menyediakan panggung dan ruang bagi kekayaan intelektual lokal untuk tampil ke permukaan. Dari situlah, ekosistem kreatif bisa dibuat atau tumbuh,” ujar Irene Umar, mengajak semua pihak untuk bergandengan tangan dalam mengasuh karya anak bangsa.
Merawat budaya melalui karya kreatif adalah bentuk cinta tertinggi kita kepada tanah air. Ketika sebuah produk lokal berhasil menyentuh hati masyarakat karena kedekatan budayanya, ia tidak hanya menjadi sebuah komoditas bisnis, melainkan sebuah warisan emosional yang mempererat rasa bangga dan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia. (gdi)




