WANITAINDONESIA.CO – Aroma tradisi dan napas modernitas menyatu dengan anggun di atas panggung megah Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta Pusat. Kain Ulos, yang selama ini lekat sebagai lambang busana adat masyarakat Sumatera Utara, kini tampil mengejutkan dengan wajah baru yang jauh lebih segar, elegan, dan memikat mata dunia. Lewat balutan warna-warna lembut kekinian seperti warna pastel dan pewarna alami yang ramah lingkungan, helai demi helai benang ulos membuktikan bahwa warisan leluhur mampu melangkah gagah mengikuti derap zaman tanpa kehilangan martabat kebudayaannya.
Transformasi menakjubkan ini menjadi sorotan utama dalam perhelatan tahunan Indonesia Fashion Week (IFW) 2026. Desainer sekaligus pegiat kain ulos, Torang Sitorus, mengungkapkan rasa optimisnya melihat kebangkitan industri kriya daerah yang kian bergairah. Menurutnya, deretan aneka stan yang menjajakan kain ulos menjadi bukti nyata bahwa para penenun di tingkat daerah telah berani mendobrak batas tradisi. Mereka tidak lagi terpaku pada patron lama, melainkan aktif melahirkan beragam inovasi rancangan agar kain ulos makin nyaman dan luwes dikenakan oleh masyarakat di luar suku Batak, dari generasi muda hingga lintas usia.
Langkah panjang keberhasilan ini tidak dicapai dalam semalam. Torang mengenang kembali masa-masa kritis pada dekade 1980-an, ketika gelombang modernisasi dan gempuran mesin industri sempat mengancam keberlangsungan hidup para perajin tenun di daerah. Saat itu, tradisi tenun tangan hampir meredup akibat tergilas efisiensi pabrikasi. Namun, berkat ketangguhan serta dorongan inovasi tiada henti, ekosistem tenun daerah kini kembali bangkit. Jumlah penenun dan perajin terus tumbuh pesat, membentangkan harapan baru bagi masa depan kriya Nusantara.
Perjuangan gigih para penenun kini berbuah manis saat kain ulos diangkat sebagai pesona utama dalam ajang bergengsi IFW 2026. Ajang fesyen bergengsi yang telah memasuki penyelenggaraan ke-14 ini diinisiasi oleh Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI). Pada perhelatan tahun ini, Torang Sitorus berkolaborasi erat dengan Ketua APPMI sekaligus Presiden IFW, Poppy Dharsono. Kolaborasi anggun ini memadukan kemewahan ulos dengan sentuhan mode modern, membuktikan bahwa kain tradisional Indonesia siap bersaing di kancah antabangsa.
Mengusung tema keselarasan simetris (Ulos Simetria), ajang yang berlangsung pada 29 Juli hingga 2 Agustus 2026 ini menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara tradisi dan inovasi. Kain ulos disajikan bukan sekadar busana adat, melainkan simbol kehangatan, harmoni, dan persatuan. Pilihan harga yang ditawarkan pun sangat beragam, berkisar dari satu juta rupiah hingga puluhan juta rupiah tergantung pada kerumitan motif serta kehalusan desain. Ragam pilihan ini semakin membuka kesempatan luas bagi siapa saja untuk mengagumi dan memiliki mahakarya Nusantara ini.
Kini, helai kain ulos bukan lagi sekadar warisan masa lalu yang tersimpan rapat di dalam peti kayu, melainkan denyut nadi industri kreatif yang terus bertumbuh pesat. Keberhasilan ulos menembus ranah mode modern menjadi bukti terang bahwa tatkala keahlian lokal dibalut dengan keberanian berinovasi, kriya Nusantara akan senantiasa menemukan jalannya untuk bercahaya di panggung dunia. Mari terus mengapresiasi dan bangga mengenakan karya anak bangsa, karena dalam setiap jalinan benangnya tersimpan identitas serta kebanggaan Indonesia. (Gdi)





