Site icon Wanita Indonesia

Interpretasi Baru Kuliner Lokal, Nikmati Kreasi Lezat 18 Chef di “Future Menu 2026”

Kelezatan Sate Srepeh, inspirasi dari Future Menu Collaboration kreasi Chef Freddie dari SILK Bistro, unggul dari teknik pemanggangan, tekstur dada ayam lembut, saus asam manis, dan pelengkap saji pickles. (Foto: Wanitaindonesia.co)

WANITAINDONESIA.CO – Kuliner sebuah bangsa bisa dijadikan indikasi sebuah tatanan peradaban.

Kuliner masa kini tak lagi identik sebagai kebutuhan primer melainkan manifestasi tertinggi dari identitas, sejarah, ilmu pengetahuan serta pengaruh diplomasi budaya sebuah bangsa.

Yang menarik kuliner lokal lekat dengan beragam keunggulan seperti menyimpan cerita unik, lekat dengan tradisi sejarah sebuah suku serta kaya dengan keberagaman bahan pangan lokal yang menjadikan cita rasanya khas serta otentik. Tentu saja di era global, hal tersebut tak lagi memadai.

Kuliner lokal harus berkelanjutan serta adaptif menyelaraskan dengan selera masyarakat modern. Pun patut didukung oleh talenta-talenta profesional yang selalu mampu menghadirkan inovasi serta terobosan kreatif.

Untuk mensinergikan kebutuhan tersebut, Unilever Food Solutions kembali hadir membawa sejumlah inisiatif tahunan yang lekat dengan pembaharuan konsep penyelenggaraannya.

Saat ini preferensi kuliner masyarakat modern telah banyak mengalami pergeseran. Gen-Z penggemar kuliner lokal yang diperselisihkan menarik, mengutamakan aspek kesehatan serta tak meninggalkan cita rasa otentik yang menjadikan sebuah sajian menjadi istimewa.

Guna menjawab preferensi tersebut UFS kembali melakukan inisiatif tahunan “Future Menu 2026”. Tahun ini tema Culinary Roots & Street Food Couture 2026 diangkat sebagai dua tren utama Indonesia.

Seperti inisiatif sebelumnya, UFS terdepan selain menghadirkan tren mereka juga menggali lebih dalam ihwal kuliner yang dijadikan acuan Culinary Roots & Street Food Couture.

Sepanjang Juni – Juli 2026, UFS berkolaborasi dengan 18 Chef berbakat Indonesia dengan melakukan Culinary Trip dengan menyambangi sejumlah kota pusat kuliner tradisional di Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Kedua Provinsi dikenal memiliki lanskap kuliner yang begitu kaya, dan beragam.

Di kedua Provinsi mereka mengunjungi 12 titik pemberhentian, guna memahami lebih dalam tentang cerita sebuah sajian, karakter, bahan serta teknik pengolahan yang istimewa, di balik kuliner lokal tersebut.

Kunjungan khusus ini bertujuan untuk mengeksplorasi rasa, cerita keberagaman kuliner yang dieksplor.

Kian menarik selain berinteraksi dengan pelaku usahanya, menikmati sajian spesial tersebut, para Chef dengan kemampuan mumpuni tersebut akan menerjemahkan apa yang dilihat, didengar serta dirasakan menjadi kreasi Future Menu Collaboration. Hasil akhirnya akan tersaji di sejumlah resto mitra UFS.

Ki-ka : Chef Jovan (Mata Keranjang), Chef Rafael (BEER Hall), Ade Putri (Culinary Storyteller), Raditya Beer (Country Lead Marketing UFS Indonesia), Chef Uki (Dailah Sajian Kontemporer), Chef Rosdiana (Umatis). (Foto: Dokumentasi UFS Indonesia)

Pentas Culinary Roots & Street Food Culture

Country Lead Marketing UFS Indonesia, Raditya Beer menjelaskan, “Sebagai mitra strategis para Chef, dan pebisnis kuliner, melalui berbagai brand untuk dapur profesional seperti Knoor Profesional, Bango, dan Royco.”

“Setiap tahunnya UFS menghadirkan inisiatif Future Menu sebagai panduan tren kuliner masa depan, yang membantu kami memahami bagaimana preferensi konsumen berkembang, dan apa artinya bagi para Chef serta pebisnis kuliner.”

“Pemahaman ini disertai riset mendalam yang dikembangkan dengan memadukan laporan industri, analisis tren media sosial. Juga insight dari para Chef UFS, feedback dari ratusan Chef profesional hingga hasil pengamatan terhadap ratusan Gen-Z di berbagai belahan dunia.”

“Berangkat dari riset global tersebut, “Future Menu 2026″ kemudian dipersonalisasi untuk market Indonesia dengan menyoroti Culinary Roots & Street Food Couture, sebagai dua tren utama yang paling sejalan dengan dinamika preferensi konsumen masa kini.”

“Minat konsumen terhadap comfort food yang lekat dengan keseharian yakni masakan Indonesia,kini semakin tinggi.”

Survei Jakpat 2025, 61 persen masyarakat memilih makan di warung lokal, sedangkan 58 persen memilih di pedagang kaki lima.

Survei menjadi bukti bahwa pilihan kuliner yang familiar masih sangat mendominasi. Mereka tak mencari masakan yang hanya sekedar lezat, juga tertarik dengan pengalaman serta cerita dibalik kuliner Indonesia.

Salah satunya kuliner yang berasal dari fenomena “snackpacking” yang sedang tren di kalangan Gen-Z. Snackpacking yakni traveling dengan tujuan utama mengeksplorasi jajanan lokal.

Semangat untuk mengeksplorasi ini terlihat pula diantara para Chef, dan pebisnis kuliner.
Mereka selalu mencari inspirasi, untuk terus meningkatkan daya saing produknya, dengan beradaptasi pada preferensi konsumen.

Menjawab kebutuhan ini, melalui tren Culinary Roots & Street Food Couture, Future Menu 2026 hendak memberikan inspirasi nyata bagi para Chef, dan pebisnis kuliner, bahwa masa depan kuliner Indonesia, tidak harus dicari jauh-jauh.

“Justru kekayaan kuliner lokal merupakan kekuatan yang dapat terus dieksplorasi, menjadi pengalaman baru yang lebih elevated serta relevan dengan penikmat kuliner masa kini, “ucap Raditya.

“Terobosan pada penyelenggaraan inspirasi di Future Menu 2026 tentunya tak berhenti pada prediksi tren masakan Indonesia. UFS Indonesia menghadirkan gebrakan baru dengan menerjemahkan tren tersebut ke dalam pengalaman Culinary Trip yang imersif, “pungkasnya. (Rp)

Exit mobile version