WANITAINDONESIA.CO – Masalah munculnya kutu pada simpanan beras kerap menjadi kendala yang menyebalkan, baik di wadah beras dapur rumah tangga maupun di gudang penyimpanan skala besar. Menjawab persoalan harian tersebut, sekelompok mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas), Kota Makassar, Sulawesi Selatan, berhasil merancang terobosan ramah lingkungan berupa pita kertas beraroma alami yang ampuh mengusir hama tanpa mengotori beras.
Inovasi yang diberi nama Rice Protection with Natural Volatile Aroma atau disingkat Riceva ini merupakan hasil karya Tim Pharmacount Unhas. Produk ini memanfaatkan keajaiban kombinasi minyak atsiri serai wangi dan ekstrak pandan wangi untuk melepaskan senyawa volatil (senyawa mudah menguap) secara bertahap demi menciptakan lingkungan yang dihindari oleh kutu beras.
Ketua Tim Pharmacount Unhas, Humairah Afifah, mengungkapkan bahwa penggunaan bahan alami ini aman bagi kualitas pangan sekaligus menawarkan tingkat kepraktisan yang tinggi bagi konsumen.
“Kami berharap Riceva dapat menjadi alternatif perlindungan beras yang lebih aman, praktis, dan ramah lingkungan,” ujar Humairah Afifah.
Secara ilmiah, minyak atsiri serai wangi kaya akan senyawa aktif seperti sitronelal, sitronelol, dan geraniol yang dikenal memiliki aroma khas serta efektif menolak kehadiran serangga. Kehadiran ekstrak pandan wangi tidak hanya memberikan keharuman alami, tetapi juga memperkuat daya serang aroma dalam mengusir hama pengganggu.
Daya tarik utama produk inovatif ini terletak pada cara penggunaannya. Berbentuk pita kertas (paper strip), Riceva cukup diletakkan di dalam wadah penyimpanan tanpa harus bersentuhan langsung dengan bulir beras. Pendekatan ini memastikan beras tetap higienis, bebas dari kontaminasi zat kimia, dan aman dikonsumsi. Inovasi ini sejalan dengan tren global yang kian gencar mengampanyekan pestisida nabati sebagai solusi penyimpanan pangan yang berkelanjutan.
Keunggulannya yang serbaguna membuat Riceva berpotensi digunakan secara luas oleh berbagai kalangan. Mulai dari penghuni indekos, dapur rumah tangga, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sektor kuliner, hingga pemilik toko beras dan sembako dapat memanfaatkannya secara langsung. Selain menyelesaikan masalah penyimpanan, pemanfaatan komoditas hayati lokal ini menjadi wujud nyata hilirisasi sektor pertanian Indonesia agar memiliki nilai tambah ekonomi yang lebih tinggi.
Pengembangan inovasi berbasis sains ini terus melangkah maju. Tim Pharmacount Unhas tengah bersiap memasuki tahap pembuatan purwaprupa (prototipe), pengujian tingkat efektivitas penolakan kutu, hingga penyempurnaan model bisnis agar siap dipasarkan secara komersial.
Proses melahirkan Riceva juga membuktikan pentingnya kolaborasi lintas disiplin ilmu. Sinergi antara mahasiswa Program Studi Farmasi dan Akuntansi menjadi modal kuat dalam menyusun solusi yang mantap secara ilmiah sekaligus prospektif secara bisnis.
“Tantangan terbesar adalah mengintegrasikan aspek kesehatan, inovasi produk, dan strategi bisnis ke dalam satu proposal yang komprehensif,” tutur Humairah Afifah, menjelaskan dinamika di balik layar pembuatan produk tersebut.
Kehadiran Riceva menjadi bukti nyata bahwa solusi cerdas atas persoalan sehari-hari dapat lahir dari paduan sains dan kekayaan alam lokal. Akankah pita kertas aromatik ini menjadi standar baru penyelamat kualitas beras di tempat penyimpanan Anda? Kesiapan produk ramah lingkungan ini di pasaran layak untuk terus dinantikan. (Gdi)

