
WANITAINDONESIA.CO – Rote Ndao dianugerahi keindahan alam dan budaya eksotis mendunia. Tapi ada sisi kelam kehidupan sosial masyarakatnya.
Ihwal Stunting di Kabupaten Rote Ndao tak bisa dipungkiri. Tingkat prevalensi Stunting tercatat 32,4 persen(Survei Status Gizi Indonesia/SSGI 2024), sementara angka stunting di i Provinsi Nusa Tenggara Timur mencapai 37 persen.
Untuk mengurai serta menekan angka stunting dibutuhkan cara pandang baru bagi masyarakat di sana yang selama ini menganggap pengasuhan anak merupakan tugas utama ibu.
Peran tersebut kian menantang ketika muncul permasalahan stunting, rendahnya konsumsi pangan bergizi serta kesejahteraan keluarga. Kalau sudah begini peran ibu tak seharusnya dibiarkan sendiri. Butuh partner handal suami untuk turut berkontribusi dalam pola pengasuhan.
Kondisi tersebut menjadi penanda bahwa upaya perbaikan gizi perlu berjalan beriringan, dengan penguatan pengasuhan, dan perubahan perilaku keluarga.
Berangkat dari pemahaman tersebut, Yayasan Selancar Arungi Indonesia (ARUNGI), afiliasi dari SurfAid International, bersama Pemerintah Kabupaten Rote Ndao menyelenggarakan Festival Keluarga Malole #BapaHebat #MamaBijak.
Ini merupakan sebuah gerakan bersama dengan mengajak ayah, dan ibu berbagi peran dalam pengasuhan, demi membangun keluarga yang lebih sehat, setara, dan tangguh.
“Tema besar yang didukung Festival Keluarga Malole sangat relevan dengan tantangan yang sedang kita hadapi saat ini, yaitu persoalan stunting, kesehatan keluarga, dan kualitas pengasuhan anak, “kata Paulus Henuk S.H., Bupati Rote Ndao.
“Karena itu, Pemerintah Kabupaten Rote Ndao menyambut baik gerakan #BapaHebat #MamaBijak #KeluargaMalole yang mendorong keterlibatan ayah dan ibu secara bersama-sama untuk membangun generasi masa depan Rote Ndao, “tambahnya.
“Harus disadari bahwa pembangunan sumber daya manusia harus dimulai dari keluarga. Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Tempat nilai-nilai kehidupan ditanamkan, tempat kasih sayang diberikan, dan tempat masa depan bangsa dipersiapkan,” ujarnya lagi.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Nusa Tenggara Timur, dr. Mauliwaty Bulo, M.Si. (Foto: Dokumentasi Arungi)
Ihwal Stunting Tak Hanya Soal Makanan
Melalui gerakan #BapaHebat #MamaBijak #KeluargaMalole, ARUNGI ingin mendorong pemahaman, bahwa stunting bukan hanya persoalan kurangnya asupan gizi, tetapi juga berkaitan dengan pola pengasuhan, kesehatan ibu, dan anak. Juga perilaku keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari.
Berbagai penelitian menunjukkan, keterlibatan ayah dalam pengasuhan berkontribusi terhadap kesehatan, perkembangan, dan kesejahteraan anak. Focus Group Discussions yang melibatkan 73 ayah di 6 desa dampingan ARUNGI di Februari 2026, mayoritas ayah tidak secara aktif terlibat dalam aktivitas pengasuhan.
Hampir semua peserta FGD juga menyampaikan, bahwa mereka tidak pernah menyiapkan makanan untuk anak. Selain itu, terdapat 83% bapak yang menyatakan bahwa kunjungan posyandu hanyalah tugas mama.
“Ketika ayah terlibat aktif dalam pengasuhan, ibu mendapat dukungan yang lebih besar, anak memperoleh perhatian yang lebih baik, dan keluarga memiliki peluang lebih besar untuk menerapkan pola hidup sehat. Karena itu, pengasuhan bersama merupakan bagian penting dari solusi pencegahan stunting, ”ujar Dinnia Joedadibrata, Direktur Eksekutif ARUNGI.
Senada dengan hal tersebut, Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kemendukbangga/BKKBN, Dr. Bonivasius Prasetya Ichtiarto, S.Si., M.Eng., menegaskan, keluarga merupakan fondasi utama dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas.
“Pembangunan keluarga adalah investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa. Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang sehat, harmonis, dan saling mendukung memiliki peluang lebih besar untuk berkembang secara optimal, baik dari aspek kesehatan, pendidikan, maupun pembentukan karakter, ”ujar Dr. Bonivasius.
Menurutnya, berbagai tantangan yang dihadapi keluarga saat ini, termasuk stunting, tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan kesehatan semata. Penguatan fungsi keluarga serta peningkatan kualitas pengasuhan, menjadi faktor penting dalam menciptakan generasi yang sehat, dan berkualitas.
“Pencegahan stunting bukan hanya soal pemenuhan gizi, tetapi juga berkaitan dengan pola asuh, keterlibatan orang tua, kesehatan ibu, serta lingkungan keluarga yang mendukung tumbuh kembang anak.”
“Karena itu, keterlibatan ayah, dan ibu secara bersama-sama dalam pengasuhan menjadi sangat penting, ”jelasnya.

Asa Kintal Gizi
Salah satu pendekatan yang akan diperkuat melalui festival ini adalah integrasi antara kelas pengasuhan, dan Kintal Gizi. Kintal Gizi adalah sebutan lokal untuk kebun gizi pekarangan rumah.
Melalui kelas pengasuhan, orang tua memperoleh pengetahuan mengenai pengasuhan anak, kesehatan keluarga, pola konsumsi pangan bergizi, dan pentingnya keterlibatan ayah dalam kehidupan sehari-hari keluarga.
Sementara Kintal Gizi menjadi sumber pangan keluarga yang menyediakan bahan makanan bergizi, untuk mendukung kebutuhan rumah tangga melalui kegiatan kelas memasak.
Kintal Gizi dikembangkan bersama masyarakat, diterapkan di 6 Desa di Kabupaten Rote Ndao. Melalui kelas pengasuhan, dan Kintal Gizi masyarakat memperoleh pengetahuan, sekaligus akses terhadap sumber pangan sehat.
Pendekatan ini menghubungkan pengasuhan, perubahan perilaku, dan akses terhadap pangan bergizi sebagai bagian dari upaya membangun keluarga yang lebih sehat.
“Dari keluarga yang saat ini sudah menerapkan kintal gizi, kami menargetkan 50% keluarga dampingan yang dapat meningkatkan jumlah tanaman yang bergizi tinggi serta meningkatkan jumlah rumah tangga baru, yang menerapkan kintal gizi sebesar 20%, ” urai Dinnia Joedadibrata.
Pada kesempatan yang sama, Pemerintah Kabupaten Rote Ndao mengumumkan komitmennya untuk mengalokasikan anggaran tahun 2027, guna mereplikasi 1.200 Kintal Gizi di seluruh wilayah Kabupaten Rote Ndao dengan mengadopsi model yang dikembangkan bersama ARUNGI.
“Kami melihat pendekatan ini tidak hanya membantu meningkatkan akses masyarakat terhadap sumber pangan bergizi, tetapi juga mendorong perubahan perilaku keluarga menuju kehidupan yang lebih sehat dan mandiri, “imbuh Paulus.
“Karena itu, sebagai bentuk komitmen nyata mendukung percepatan penurunan stunting, dan penguatan ketahanan pangan keluarga, Pemerintah Kabupaten Rote Ndao berkomitmen untuk mereplikasi sekaligus mengadopsi model Kintal Gizi yang telah dikembangkan bersama ARUNGI di seluruh kabupaten Rote Ndao.”
“Upaya ini merupakan bagian dari strategi pembangunan keluarga, kesejahteraan masyarakat, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, ”kata Paulus lebih lanjut.

Sinergitas Apik Untuk Permata Rote Ndao
“Kami percaya tantangan stunting, dan kualitas pengasuhan tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah sendiri. Diperlukan kolaborasi kuat antara pemerintah, masyarakat, organisasi pembangunan, dan keluarga itu sendiri.”
“Kerja sama dengan ARUNGI merupakan bagian dari komitmen kami untuk mempercepat pencapaian target pembangunan kesehatan, gizi, dan kesejahteraan keluarga di Kabupaten Rote Ndao, “imbuh Paulus.
Lebih lanjut, Dr. Bonivasius juga menegaskan bahwa keluarga berkualitas adalah keluarga yang mampu menjalankan delapan fungsi keluarga secara seimbang.
Apa sajakah fungsi-fungsi tersebut? Yang pertama fungsi keagamaan, lalu sosial, dan budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi, dan pendidikan, ekonomi, serta pembinaan lingkungan.
Menurutnya, pelaksanaan delapan fungsi tersebut menjadi fondasi penting dalam membentuk keluarga yang tangguh, harmonis, sejahtera, dan berdaya saing.
“Ketika delapan fungsi keluarga dapat dijalankan dengan baik, keluarga akan menjadi lingkungan pertama dan utama dalam membentuk karakter, menanamkan nilai-nilai kehidupan, meningkatkan kesejahteraan, serta menyiapkan generasi yang sehat, cerdas, dan berakhlak mulia,” ungkapnya.
Dr. Bonivasius mengapresiasi pendekatan berbasis komunitas yang dikembangkan melalui Festival Keluarga Malole, dan gerakan #BapakHebat #MamaBijak #KeluargaMalole.
Menurutnya, inisiatif tersebut menunjukkan bagaimana pembangunan keluarga dapat tumbuh dari kekuatan masyarakat, dan budaya lokal.
“Ketika nilai-nilai budaya lokal, kekuatan komunitas, dan semangat gotong royong menjadi bagian dari upaya membangun keluarga, perubahan yang dihasilkan akan lebih kuat, dan berkelanjutan.”
“Apa yang dilakukan di Rote Ndao menunjukkan bahwa pembangunan keluarga dapat tumbuh dari masyarakat sendiri dan menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia, ”tuturnya.
Pembelajaran Berharga untuk Rote Ndao
Festival Keluarga Malole dibangun atas pengalaman panjang SurfAid, yang dilanjutkan ARUNGI dalam mendampingi komunitas di daerah terpencil di Indonesia.
Selama lebih dari 25 tahun bekerja di Indonesia, SurfAid telah mendampingi masyarakat di empat (4) provinsi, delapan (8) kabupaten, dan 200 desa, serta menjangkau lebih dari 500.000 penerima manfaat melalui berbagai program kesehatan ibu dan anak, peningkatan gizi keluarga, dan penguatan ketahanan komunitas di daerah dekat lokasi surfing (selancar).
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perubahan yang paling berkelanjutan, terjadi ketika keluarga menjadi bagian dari solusi, dan masyarakat dilibatkan secara aktif dalam proses pembangunan.
“Pembelajaran inilah yang kini ingin kami perkuat dan kembangkan bersama masyarakat Rote Ndao melalui Festival Keluarga Malole dan gerakan #BapaHebat #MamaBijak,” ujar Dinnia Joedadibrata.
Selain menyoroti pentingnya keterlibatan ayah, Festival Keluarga Malole juga mengangkat pentingnya kesejahteraan para ibu.
Berdasarkan pengalaman pendampingan ARUNGI di berbagai wilayah, banyak perempuan menghadapi beban ganda dalam mengurus rumah tangga, mengasuh anak, dan mendukung ekonomi keluarga. Karena itu, kesejahteraan keluarga tidak hanya diukur dari kecukupan ekonomi atau tersedianya makanan bergizi, tetapi juga dari dukungan emosional yang diterima anggota keluarga, terutama para ibu.
Festival Keluarga Malole telah terselenggara dengan sukses di halaman rumah jabatan Bupati Rote Ndao, Kabupaten Rote Ndao, NTT, Selak asa (9/6). Diikuti lebih dari 300 peserta dari berbagai kecamatan di Kabupaten Rote Ndao. Juga hadir 50 mitra strategis nasional, dan daerah yang berkontribusi dalam pembangunan kesehatan, kesejahteraan keluarga serta pemberdayaan masyarakat di Nusa Tenggara Timur.
Hadir pula pasutri selebritis, dan aktivis keluarga Widi Mulia bersama suami Dwi Sasono. Mereka bungah bisa ikut merayakan Festival Keluarga Malole sembari berbagi pengalaman, mengenai pentingnya membangun keluarga yang sehat, harmonis, dan saling mendukung.
Tentu saja selama festival Keluarga Malole berlangsung dihadirkan beragam kegiatan edukatif, dan partisipatif seperti kelas pengasuhan, kelas memasak, dialog komunitas, aktivitas keluarga serta ruang berbagi pengalaman, yang mendorong perubahan perilaku positif di tingkat rumah tangga.
Melalui gerakan #BapaHebat #MamaBijak #KeluargaMalole, ARUNGI ingin mendorong terciptanya keluarga yang saling mendukung, menghargai, dan berbagi peran.
“Setiap anak di Rote Ndao berhak tumbuh sehat, cerdas, dan bahagia. Ketika ayah lebih hadir dalam pengasuhan, ketika ibu merasa didukung dan dihargai, dan ketika keluarga memiliki akses terhadap pangan bergizi, maka kita sedang membangun fondasi yang kuat bagi masa depan generasi Rote Ndao,” tutup Paulus. (*)




