Ibu Rumah Tangga Berperan Penting Pasca Banjir Bandang Sumatera

Wanita berperan di dapur umum penanganan bencana di Sumatera. WI/BSI

WANITAINDONESIA.CO – Penanganan banjir bandang di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh masih terus bergulir melibatkan pemerintah, relawan, hingga masyarakat yang bahu membahu untuk mendorong kawasan yang porak poranda tersebut bisa segera pulih.

Di tengah hiruk pikuk upaya perbaikan jangan dilupakan peran ibu rumah tangga yang juga memiliki peranan penting. Kehadiran mereka, membuat bantuan tanggap darurat berupa bahan pangan bisa diolah menjadi makanan yang lezat dan bergizi.

Keberadaan dapur darurat hanya sementara saja karena selebihnya diharapkan masyarakat menjadi lebih mandiri, ternyata keberadaan ibu rumah tangga ini tidak kalah dengan kaum pria, bahkan pada beberapa pekerjaan mereka memiliki peranan yang sangat penting.

Tak hanya itu di balik evakuasi dramatis dan kerugian materiil, muncul satu narasi kuat yang konsisten di ketiga provinsi: peran tak tergantikan kaum perempuan dalam manajemen krisis dan pemulihan pascabencana.

Baca Juga :  Cepat Tanggap! Dompet Dhuafa dan OK OCE Kemanusiaan Salurkan Bantuan Korban Banjir Sumatra Barat

Sebagai contoh di Sumatera Barat dalam menghadapi banjir bandang atau galodo yang melanda wilayah seperti Pesisir Selatan dan Tanah Datar memperlihatkan ketangguhan perempuan Minang.

Berdasarkan laporan lapangan, kaum ibu adalah kelompok pertama yang mengorganisir dapur umum mandiri. Dengan bahan seadanya, mereka memastikan ribuan pengungsi tetap mendapatkan asupan makanan bergizi.

Dalam banyak kasus, perempuan menjadi sosok yang paling sigap mengamankan dokumen penting keluarga dan kebutuhan anak-anak saat air datang secara tiba-tiba, meminimalisir kerugian administratif di masa pemulihan.

Sedangkan di Sumatera Utara, perempuan berada di garda terdepan di bidang kesehatan. Banjir bandang yang melanda wilayah seperti Deli Serdang dan beberapa titik di Tapanuli menyoroti peran perempuan di sektor kesehatan dan perlindungan anak.

Baca Juga :  Kabar Baik Bagi Kaum Ibu, Harga Emas Diprediksi Tetap Cerah Ke Depan

Kader-kader Posyandu (yang didominasi perempuan) berperan aktif memantau kesehatan balita dan lansia di pengungsian untuk mencegah wabah penyakit pascabanjir seperti diare dan penyakit kulit.

Tak hanya itu mereka juga menjadi penyokong psikologis yang efektif. Banyak kelompok perempuan di Sumut yang menginisiasi kegiatan bermain bagi anak-anak di tenda darurat sebagai bentuk trauma healing sederhana agar anak-anak tidak mengalami tekanan mental akibat kehilangan tempat tinggal.

Tak berbeda jauh dengan Aceh, perempuan di sini memiliki kemampuan di bidang ketahanan ekonomi dan mitigasi berbasis keluarga saat banjir bandang melanda Aceh Tenggara dan Aceh Selatan.

Setelah banjir surut, kaum perempuan bergerak cepat membersihkan tempat usaha (seperti kedai kecil atau hasil tani) untuk memastikan roda ekonomi keluarga tidak berhenti total.

Lantas melalui komunitas pengajian dan arisan, perempuan Aceh mulai aktif bertukar informasi mengenai tanda-tanda alam sebelum banjir bandang terjadi, menjadikan mereka agen mitigasi dini di level rumah tangga.

Baca Juga :  Kokola Salurkan 66 Ribu Biskuit untuk Korban Bencana di Sumatera

Peran Penting

Dari pengalaman di tiga daerah ini, menunjukkan perempuan memiliki tiga keunggulan utama dalam penanganan banjir bandang yang bisa ditularkan di daerah lain.

Pertama kemampuan dalam meneliti logistik. Memastikan ketersediaan bantuan spesifik seperti susu bayi, pembalut, obat-obatan.

Kedua memiliki kemampuan membangun jejaring bantuan sosial yang lebih cepat di tingkat akar rumput.

Sedangkan terakhir memiliki kemampuan resiliensi mental yang merupakan sosok penenang bagi anggota keluarga di tengah situasi “chaos”.

Keberhasilan penanganan bencana di masa depan sangat bergantung pada pelibatan perempuan dalam pengambilan keputusan, bukan hanya sebagai penerima bantuan, tetapi sebagai perencana mitigasi. (Gdi)