
WANITAINDONESIA.CO – Tepat pukul sepuluh pagi di kawasan pelabuhan Tanjung Priok, riak gelombang laut dan gemuruh mesin mendadak hening ketika ratusan pekerja berdiri tegak menyatukan denyut nadi ekonomi nusantara dalam sebuah momen pemantik kebanggaan nasional.
Suasana haru dan penuh khidmat menyelimuti lapangan PT Jakarta International Container Terminal (JICT), Jakarta Utara pada Jumat (21/8/2026). Dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, manajemen beserta jajaran pekerja menggelar aksi refleksi unik bertajuk “81 Seconds of Pride – We Move Indonesia” (81 Detik Kebanggaan – Kita Menggerakkan Indonesia) pada Perayaan Merdeka ketiga JICT.
Selama 81 detik yang menggetarkan dada, ratusan insan pelabuhan diajak menghentikan sejenak aktivitasnya untuk meresapi makna di balik tumpukan peti kemas (container) dan lalu lalang kapal niaga. Narasi kolektif yang dibacakan membawa ingatan seluruh peserta pada setiap rupiah barang dagangan, pasokan pangan, hingga kebutuhan industri yang bergantung pada ketepatan jemari mereka dalam mengoperasikan terminal logistik. Momen tersebut mencapai puncaknya saat bendera Merah Putih diangkat serempak diiringi seruan bergemuruh yang mengguncang kawasan pelabuhan.
Direktur Utama PT Jakarta International Container Terminal (JICT), Ade Hartono dalam keterangan resmi, Sabtu, menegaskan bahwa kemerdekaan di era modern bukan lagi sekadar seremonial tahunan, melainkan wujud nyata dari tanggung jawab mempertahankan roda kehidupan bangsa agar tak berhenti berputar. Menurutnya, kerja keras insan terminal merupakan rantai tak terputus yang menghubungkan pabrik, pasar, hingga meja makan jutaan keluarga Indonesia.
“Apa yang kita kerjakan mungkin terlihat sebagai aktivitas sehari-hari. Melayani kapal, menggerakkan peti kemas, memastikan pelayanan berjalan dengan baik. Tetapi di balik itu ada industri yang harus terus berproduksi, perdagangan yang harus terus berjalan, dan kebutuhan masyarakat yang harus terus bergerak. Karena itu, setiap insan JICT memiliki kontribusi bagi sesuatu yang jauh lebih besar,” ujar Ade.
Ia mengimbuhkan bahwa nilai-nilai perjuangan sangat relevan dengan komitmen setiap pekerja dalam mengawal gerak arus barang. “Kemerdekaan bukan hanya tentang apa yang kita rayakan, tetapi tentang apa yang kita kerjakan untuk menjaganya tetap berarti. Ketika kita bergerak bersama dengan tujuan yang sama, kita ikut menggerakkan Indonesia,” tambahnya.
Tidak hanya berfokus pada ketahanan rantai pasok (supply chain), momentum perayaan ini juga dirancang sebagai ajang mempererat hubungan kerja internal serta memperkuat budaya keselamatan (safety culture) kerja.
Semangat kolaborasi ini diwujudkan melalui serangkaian kegiatan interaktif, mulai dari Parade Merdeka, Tarian Massa Merdeka “We Move Together” (Kita Bergerak Bersama), Tantangan Eksekutif dan Karyawan, hingga Tantangan Dekorasi Merdeka.
Di tengah gempita perayaan tersebut, rasa empati sosial tetap terpelihara; seluruh keluarga besar terminal memanjatkan doa bersama serta menyampaikan keprihatinan mendalam bagi masyarakat yang sedang dilanda bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur.
Komisaris Utama PT Jakarta International Container Terminal, W.S. Wiryawan, menekankan bahwa integritas dan sinergi antar lini menjadi kunci utama keberlanjutan perusahaan dalam mengawal gerak ekonomi nasional.
“Semangat kemerdekaan diwujudkan dalam kolaborasi dan integritas setiap insan. Apa yang kita kerjakan hari ini, bukan hanya menentukan masa depan JICT, tapi juga ikut menjaga Indonesia tetap bergerak,” tutur W.S. Wiryawan dengan tegas.
Pada akhirnya, kemerdekaan sebuah bangsa teruji dari sejauh mana setiap anak negeri bersedia menjaga nyala semangat di pos pengabdiannya masing-masing. Ketika tumpukan baja peti kemas bergerak melintasi Samudra, di situlah denyut kehidupan dan harapan seluruh rakyat Indonesia terus berlayar menuju masa depan yang lebih cerah. (Gdi)




