
WANITAINDONESIA.CO – Suasana di Bandara Internasional Soekarno-Hatta berubah menjadi riuh ketika ratusan jadwal penerbangan mendadak terhenti pada Minggu pagi. Guguran abu vulkanik akibat letusan Gunung Anak Krakatau memaksa otoritas penerbangan menghentikan sementara seluruh aktivitas lepas landas dan pendaratan demi keselamatan udara.
Berdasarkan pencatatan operasional, pembatalan jadwal terjadi secara masif dalam waktu singkat. Assistant Deputy Communication & Legal Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Yudistiawan, menyatakan bahwa hingga jam 09.30 WIB terdapat 209 pergerakan pesawat yang terpaksa dibatalkan. Pembatalan tersebut mencakup 160 penerbangan dalam negeri (domestik), 39 penerbangan antarnegara (internasional), serta 10 penerbangan pengangkutan barang (kargo).
Guna meringankan beban para calon penumpang yang tertahan di terminal, pengelola bandara langsung mengaktifkan prosedur pemulihan layanan (service recovery activation). Fasilitas pendukung seperti penyediaan makanan ringan, penyiapan bus penghubung menuju hotel, hingga pembukaan posko koordinasi di Terminal 1B disiagakan. Selain itu, seluruh tempat usaha komersial (tenant) di dalam area terminal diminta beroperasi selama 24 jam penuh untuk memenuhi kebutuhan para pengguna jasa penerbangan.
“Bandara Internasional Soekarno-Hatta terus melakukan koordinasi dengan pemangku kepentingan (stakeholder) terkait dalam menangani dampak penutupan sementara, termasuk penyesuaian jadwal penerbangan dan penanganan penumpang,” ungkap Yudistiawan saat memberikan keterangan resmi di Tangerang.
Langkah penghentian operasional ini juga diperkuat oleh pemberitahuan resmi navigasi udara. EVP of Corporate Secretary AirNav Indonesia, Hermana Soegijantoro, menjelaskan bahwa penutupan ruang udara terpaksa diperpanjang melalui penerbitan warta kepada penerbang (notice to airmen). Penutupan sementara ini tidak hanya melumpuhkan Bandara Soekarno-Hatta, tetapi juga berdampak pada Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta dan Bandara Radin Inten II di Lampung.
“AirNav Indonesia juga terus berkoordinasi dengan pemangku kepentingan penerbangan dalam memastikan informasi terkait kondisi ruang udara dan pelayanan navigasi penerbangan tersampaikan secara tepat waktu,” ujar Hermana.
Proses pemulihan aktivitas penerbangan akan dilakukan secara bertahap dengan memantau pergerakan arah angin dan sebaran abu vulkanik di langit Indonesia. Bagi Anda yang memiliki agenda perjalanan udara dalam waktu dekat, sangat disarankan untuk terus memantau status penerbangan secara berkala dan menghubungi pihak maskapai sebelum berangkat menuju bandara. (Gdi)




