Site icon Wanita Indonesia

Guncangan Geopolitik 2026: Krisis Venezuela hingga Greenland Picu “Demam Emas” Global

Perlambatan daya beli dari sektor menengah harus diwaspadai. (Foto: WI/Gdi)

WANITAINDONESIA.CO — Memasuki tahun 2026, peta kekuatan ekonomi dunia kembali diuji oleh tensi geopolitik yang ekstrem. Head of Macroeconomic & Financial Bank Mandiri, Dian Ayu Yustina, mengungkapkan bahwa meski tekanan tarif dagang sempat mereda, dunia kini menghadapi babak baru konflik antarnegara besar yang memicu ketidakpastian pasar keuangan global.

Dua faktor utama yang menjadi sorotan adalah invasi Amerika Serikat (AS) ke Venezuela, krisis akut di Iran, hingga rencana kontroversial AS mencaplok (takeover) Greenland. Rentetan peristiwa ini tak pelak membuat investor “tiarap” dan berbondong-bondong menyelamatkan aset mereka ke instrumen safe haven.

Dian Ayu menjelaskan bahwa di tengah jatuhnya harga komoditas seperti minyak dan CPO, emas justru menjadi primadona. Setidaknya ada tiga alasan utama:

“Tahun 2026 kita harus waspada. IHSG sempat di-hold dua kali dan Rupiah mengalami tekanan volatilitas. Di saat seperti ini, investor asing berburu emas karena nilai kepastiannya,” tambah Dian.

Meski dibayangi perlambatan global, ekonomi Indonesia diprediksi tetap tangguh dengan target pertumbuhan 5,2% pada 2026. Kekuatan domestik masih ditopang oleh:

  1. Konsumsi Rumah Tangga: Adanya momentum musiman seperti Nataru dan Lebaran.
  2. Pembebasan PPh properti dan akselerasi belanja pemerintah yang lebih efisien di awal tahun.
  3. Langkah antisipatif pemerintah lewat diversifikasi ekspor yakni dengan cara mengalihkan ke negara non-tradisional untuk mengurangi dampak perlambatan di China dan AS.

Namun, Dian mengingatkan perlunya perhatian khusus pada penurunan daya beli kelas menengah (turun 16,6%) dan penyerapan tenaga kerja di sektor jasa yang belum optimal.

Tahun 2026 adalah tahun “optimisme yang hati-hati”. Dengan potensi penurunan suku bunga global oleh The Fed, Bank Indonesia memiliki keleluasaan untuk menyesuaikan kebijakan. Bagi masyarakat, kuncinya adalah tetap tenang, tidak panik, dan mulai melakukan diversifikasi portofolio ke aset yang lebih stabil seperti emas atau asuransi berbasis dolar. (gdi)

Exit mobile version