Gerakan Ayah Mengantar Sekolah, Sentuhan Kecil Yang Berdampak Besar

Suasana penerimaan siswa baru di salah satu sekolah dasar negeri (SDN). Gdi

WANITAINDONESIA.CO – Hari pertama sekolah kerap diidentikkan dengan kesibukan para ibu yang menyiapkan segala keperluan buah hati. Namun, pemandangan berbeda tampak di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 02 Jakarta, Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Langkah-langkah tegap para ayah terlihat mengiringi putra-putri mereka memasuki gerbang sekolah. Kehadiran mereka bukan sekadar rutinitas baisa, melainkan sebuah simbol kembalinya peran penting seorang kepala keluarga dalam ruang pengasuhan dan komunikasi yang intim.

Langkah nyata ini dibungkus dalam sebuah inisiatif hangat bernama Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah (GAMAS). Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bahkan memberikan dukungan penuh dengan menerbitkan Surat Edaran Nomor 22/SE/2026 tentang Izin Mengantar Anak Sekolah pada Hari Pertama Sekolah. Kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Nomor 17 Tahun 2026. Melalui regulasi tersebut, para Aparatur Sipil Negara (ASN) mendapatkan kelonggaran absensi agar bisa meluangkan waktu berharga ini demi sang anak.

Kepala Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta, Dwi Oktavia, menegaskan bahwa kehadiran figur ayah secara fisik dan emosional adalah fondasi utama dalam membentuk keluarga yang ideal. Menurutnya, keluarga merupakan madrasah pertama tempat anak meneguk nilai-nilai kehidupan. Melalui momentum ini, Dinas PPAPP DKI Jakarta ingin menghidupkan kembali delapan fungsi keluarga yang komprehensif, mulai dari fungsi keagamaan, cinta kasih, perlindungan, pendidikan, sosial budaya, ekonomi, reproduksi, hingga kelestarian lingkungan.

“Ada delapan fungsi keluarga yang semua anggota keluarga perlu terlibat, terutama peran orang tua pastinya untuk bisa membangun mulai dari komunikasi. Kita berusaha agar ayah itu hadir mendampingi anak-anaknya untuk membangun keluarga yang ideal,” ujar Dwi Oktavia penuh harap.

Sentuhan hangat seorang ayah dirasa semakin bermakna bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang memerlukan kedekatan emosional ekstra untuk menumbuhkan rasa percaya diri mereka. Di SLBN 02 Jakarta sendiri, terdapat 230 siswa penyandang disabilitas (keterbatasan fisik atau mental) dari jenjang Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas yang sedang ditempa agar mampu hidup mandiri di masa depan.

Gayung bersambut, Kepala Sekolah SLBN 02 Jakarta, Dedeh Kurniasih, menyambut baik gerakan yang menjadi kelanjutan dari Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak (GEMAR) ini. Kehadiran para ayah di sekolah diyakini mampu menciptakan ekosistem pendukung yang optimal bagi tumbuh kembang anak-anak istimewa tersebut.

“Mudah-mudahan dan insya Allah kegiatan ini berdampak positif bagi kita semua, khususnya bagi SLB Negeri 02 Jakarta. Kami berharap gerakan ini mampu meningkatkan peran ayah dalam pengasuhan,” tutur Dedeh Kurniasih optimistis.

Dukungan penuh dari kebijakan birokrasi kini telah membuka jalan bagi para ayah untuk hadir di garda terdepan pendidikan anak. Pada akhirnya, selembar surat izin dari pemerintah tidak akan sekadar menjadi formalitas absensi kerja, melainkan sebuah investasi waktu yang tak ternilai harganya bagi masa depan generasi bangsa. Sudahkah para ayah mengambil peran hari ini? (Gdi)