Gelora Proklamasi di Udara, Kisah Dramatis Pemancar Gelap DJK 1 Menembus Barikade Kempeitai

Menlu Adam Malik menghadiri Sidang PBB. (Kementerian Luar Negeri RI)

WANITAINDONESIA.CO – Penyegelan pemancar radio oleh tentara Kempeitai Jepang pada 20 Agustus 1945 tepat pukul 09.00 WIB tidak sedikit pun menyurutkan nyali para pejuang kemerdekaan. Di tengah tekanan militer yang begitu ketat, sebuah langkah nekat dan dramatis justru diambil demi memastikan teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia terdengar hingga ke ujung nusantara.

Kejadian berawal saat tokoh pemuda Adam Malik menyambangi kantor pemancar pada pukul 10.00 WIB dan mendapati situasi yang serba terbatas akibat tindakan sepihak tentara pendudukan. Melihat kondisi tersebut, Waidan B. Palenewen bersama para teknisi muda langsung mengambil keputusan cepat untuk membongkar gudang peralatan radio dan mengamankan komponen-komponen penting.

Peralatan radio yang berhasil diselamatkan itu kemudian dibagi dan diselundupkan ke dua lokasi terpisah, yakni kediaman pribadi Waidan dan markas pemuda di Menteng 31. Proses merakit kembali pemancar radio cadangan menghadapi tantangan yang sangat berat, terutama dalam menyembunyikan bentangan antena agar tidak terpantau oleh patroli Kempeitai.

Namun, berkat kegigihan para perakit teknis seperti Soekarman, Soetamtoro, Soesilardjo, dan Soehandar, pemancar rahasia yang dinamai DJK 1 (Djakarta 1) berhasil mengudara hanya dalam kurun waktu satu pekan. Nama DJK 1 dipilih dengan harapan dapat dilanjutkan dengan pemancar DJK 2 jika kondisi darurat kembali terjadi.

Hasil pengujian siaran menghasilkan kabar yang sangat menggembirakan. Laporan dari Surabaya mengonfirmasi bahwa daya jangkau dan kualitas sinyal DJK 1 justru jauh lebih jernih serta kuat dibandingkan pemancar utama yang disegel Jepang, sehingga kabar kemerdekaan Indonesia dapat disebarkan secara meluas tanpa hambatan.
Sosok kunci di balik keberhasilan teknis tersebut, Soekarman, terus mengabdikan hidupnya di dunia penyiaran dan telekomunikasi hingga mengakhiri masa bakti sebagai Direktur Teknik Kantor Berita ANTARA pada dekade 1980-an, serta melahirkan Radio Kayu Manis yang sangat melegenda.

Perjuangan gigih para perakit DJK 1 menjadi bukti nyata bahwa semangat kemerdekaan tidak akan pernah bisa dibungkam oleh kendala teknis maupun intimidasi fisik. Keberanian mendirikan pemancar di bawah bayang-bayang musuh mengajarkan kita bahwa senyapnya aksi nyata sering kali mampu menghasilkan gema perjuangan yang melintasi zaman dan menginspirasi generasi masa depan. (Dikisahkan kembali oleh wartawan senior LKBN Antara, Boyke Soekapdjo) (Gdi)