WANITAINDONESIA.CO – Siap-siap ucapkan selamat tinggal pada nomor seluler abal-abal yang sering dipakai menipu. Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) resmi merilis Peraturan Menteri No. 7 Tahun 2026.
Intinya? Daftar kartu SIM sekarang nggak cuma butuh NIK, tapi juga verifikasi biometrik wajah.
Kenapa Harus Repot-Repot Scan Wajah?
Angka kerugian akibat kejahatan digital di Indonesia sudah masuk tahap “darurat”. Bayangkan saja:
- Rp9,1 Triliun total kerugian penipuan digital sejak November 2024.
- 50 Juta orang atau 22% pengguna internet kita pernah jadi korban scam.
- Pelaku biasanya pakai nomor sekali pakai untuk phishing atau SIM swap, lalu dibuang setelah beraksi.
Empat aturan main baru yang wajib diketahui:
- Wajib pindai wajah (biometri) yang terkoneksi langsung dengan data Dukcapil. Artinya no hoaks, no tipu-tipu identitas.
- Tidak ada lagi cerita beli kartu perdana langsung bisa pakai. Semua kartu di toko harus dalam kondisi non-aktif.
Artinya dengan aturan ini satu NIK hanya boleh punya maksimal 3 nomor per operator. Mau nambah? Harus ada alasan jelas dan prosedur ketat.
Menkomdigi Meutya Hafid menegaskan operator seluler tidak menyimpan data biometrikmu. Mereka hanya “menumpang lewat” untuk mencocokkan data ke Dukcapil.
Menteri Meutya berharap langkah ini memutus mata rantai penipuan dari hulu.
“Kita kuatkan ini demi perlindungan konsumen,” tegasnya.
Meski sudah biometri namun harus diingat sistem ini tidak 100% aman dari peretasan. Namun, metode ini jauh lebih aman dibanding sekadar mengetikkan nomor NIK/KK.
Berikut adalah analisis sisi keamanannya:
Mengapa lebih aman?
- Sulit Diduplikasi: Berbeda dengan nomor NIK yang mudah bocor dan disalahgunakan orang lain, wajah kamu adalah kunci fisik yang unik.
- Menghilangkan “Bot” dan “Scammer” Massal: Penipu tidak bisa lagi meregistrasi ribuan kartu menggunakan database NIK curian karena mereka tidak punya ribuan wajah aslinya.
Di Mana Celah Risikonya?
- Teknologi Deepfake: Penjahat tingkat tinggi mulai menggunakan AI untuk memanipulasi video wajah (face swap). Namun, sistem biometrik modern biasanya punya fitur liveness detection (kamu diminta berkedip atau menoleh) untuk menangkal ini.
- Honeypot Data: Jika database pusat (Dukcapil) yang menyimpan data biometrik tersebut bocor, maka dampaknya akan sangat fatal karena kita tidak bisa “mengganti wajah” seperti kita mengganti password.
- Keamanan Perangkat: Jika HP kamu sudah terinfeksi malware, ada risiko data dikirim sebelum terenkripsi.
Kesimpulannya biometrik bisa menjadi tembok pengaman yang jauh lebih tinggi bagi penipu kelas teri dan menengah, tapi tetap membutuhkan perlindungan data tingkat dewa di level pemerintah.
Mengingat aturan ini baru, pastikan melakukan registrasi di gerai resmi atau aplikasi resmi operator untuk menghindari pencurian data oleh pihak ketiga. (Gdi)





