
WANITAINDONESIA.CO – Panggung teater tanah air bersiap menyuguhkan sebuah mahakarya visual yang memikat emosi. Kelompok seni legendaris, Teater Koma, akan segera mementaskan lakon terbarunya bertajuk “Rumah Sakit Jiwa” yang dijadwalkan menyapa publik pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.
Namun, pementasan kali ini tidak hanya menjanjikan kekuatan naskah atau kematangan seni peran semata. Di sisi visual, ada pergerakan mode yang sangat emosional dan penuh filosofi berkat tangan dingin desainer senior kebanggaan Indonesia, Samuel Wattimena. Didapuk sebagai perancang busana utama bersama Rima Ananda, Samuel membawa pendekatan fashion yang sangat personal ke atas panggung. Mode dalam pementasan ini tidak sekadar berfungsi sebagai penutup tubuh atau pelengkap estetika panggung, melainkan sebuah instrumen komunikasi visual yang menceritakan dinamika psikologis, latar belakang, hingga perjalanan taTeater Komakdir setiap karakter.
“Kami tidak ingin kostum hanya menjadi pelengkap visual. Setiap rancangan dibuat untuk membantu penonton mengenali karakter, latar belakang, hingga perubahan yang dialami masing-masing tokoh sepanjang cerita. Karena itu, prosesnya melibatkan diskusi yang cukup panjang dengan sutradara agar setiap detail kostum benar-benar mendukung penceritaan,” ujar Samuel Wattimena hangat.
Eksplorasi menarik langsung terasa ketika membedah rancangan pakaian untuk jajaran karakter dokter. Jika biasanya seragam medis di rumah sakit jiwa digambarkan monoton, Samuel memilih masuk lebih dalam ke sisi kejiwaan dan relasi kuasa antar-tokoh.
Secara detail, Samuel merancang luaran (outer) para dokter yang sekilas menyerupai lab jacket atau jas formal pria. Namun, jika diperhatikan lebih dekat, ada modifikasi potongan lengan yang sangat unik dan tidak biasa. Pola lengan tersebut sengaja dibuat dengan struktur khusus yang menciptakan impresi keterbatasan ruang gerak dan kesan “patah”.
Filosofinya ternyata sangat mendalam. Ketika karakter dokter utama hadir pertama kali, ia berpakaian normal dan berwibawa. Namun, begitu masuk ke dalam siklus rumah sakit jiwa tersebut, ia ikut terimpit (squeezed). Pola lengan baju yang kaku dan terbatas melambangkan bahwa seluruh dokter di bawah komandonya berada di bawah dominasi dan kuasa penuh sang dokter utama, sebuah metafora visual yang apik mengenai hilangnya kebebasan berekspresi bahkan bagi mereka yang tampak memegang kendali.
Tak kalah visioner, busana untuk jajaran tokoh pasien dirancang dengan detail kontras yang penuh teka-teki. Pada bagian atas pakaian pasien, potongan lengan sengaja dibuat terbuka lebar. Ini menyimbolkan bahwa esensi ekspresi diri, emosi, dan gerakan para pasien tersebut sebenarnya bebas tanpa batas melalui bahasa tubuh.

Namun, kontradiksi dramatis dihadirkan pada bagian bawah busana yang dirancang menggembung berbentuk balon (heavy layout) dengan sentuhan gradasi warna dari gelap ke terang. Dipadukan dengan kaos kaki dan sepatu hitam, serta detail kerah (rib) leher berwarna hitam pekat, siluet ini melambangkan jerat keterjebakan yang nyata. Desain ini membisikkan pesan kepada penonton bahwa para pasien ini telah terperangkap di dalam sistem rumah sakit jiwa dalam waktu yang sangat lama tanpa bisa keluar.
Menariknya, Samuel memilih warna kuning dominan untuk beberapa adegan berkelompok atau saat para pasien berkumpul bersama. Pilihan warna ini menyimpan metafora yang hangat sekaligus magis. Ketika para aktor berkumpul di atas panggung, kombinasi warna kuning dan siluet busana balon tersebut akan memancarkan efek visual layaknya pendaran cahaya lilin.
“Warnanya kuning, kalau nanti di beberapa scene waktu mereka kumpul itu kayak cahaya lilin. Lilin yang atasnya tipis, bawahnya hitam Jadi ada filosofi-filosofi agak gila-gila dikit,” kelakar Samuel sembari tersenyum menyinggung konsep estetikanya. Secara keseluruhan, ada sekitar sepuluh tampilan (look) berbeda yang dihadirkan khusus untuk karakter pasien sepanjang pementasan.
Salah satu momen yang diprediksi akan mencuri perhatian adalah adegan sesi penyambutan karakter Nyonya Marlina. Dalam adegan penting ini, seluruh pemain akan tampil mengenakan kain sarung. Samuel sengaja mengangkat sarung sebagai representasi identitas kultural utama bangsa Indonesia yang sangat lekat dengan kehidupan sehari-hari; mulai dari urusan tidur, bersantai, hingga aktivitas komunal. Di sinilah letak keseruannya, penonton akan disuguhkan kebebasan berekspresi para pemain dalam mengenakan sarung dengan gaya mereka masing-masing yang sangat personal dan ekspresif.
Sebagai maestro yang konsisten menggaungkan kekayaan budaya nasional, Samuel Wattimena memanfaatkan panggung Teater Koma ini untuk mengawinkan seni peran dengan pesona Wastra Nusantara. Berbagai material tekstil tradisional dipadukan secara apik menjadi busana yang sangat modis (stylist), modern, dan jauh dari kesan kaku.
Sepanjang pementasan, mata penonton akan dimanjakan oleh keindahan kain Tenun Trosso asal Jawa Tengah, keunikan motif lurik Klaten, eksotisme tenun Baduy dari Banten, hingga kelembutan detail bordir khas Tasikmalaya yang dihadirkan lewat ornamen pakaian para tokoh.
Melalui proyek kolaborasi di lakon “Rumah Sakit Jiwa” Teater Koma ini, Samuel Wattimena seolah ingin mengingatkan kembali esensi terdalam dari dunia mode. Menurutnya, karya seorang perancang busana tidak melulu harus didefinisikan atau didikte oleh perputaran tren komersial global (fashion trend).
Panggung teater memberikan kebebasan mutlak bagi insan mode untuk berekspresi, bereksperimen dengan emosi manusia, dan melahirkan karya seni yang memiliki “nyawa”.
Melalui barisan busana komunikatif yang dihadirkan dalam pementasan ini, Sahabat Wanitaindonesia.co tidak hanya diajak menikmati jalinan cerita teater yang menggelitik, tetapi juga membaca pesan-pesan tersembunyi yang tersirat lewat helai demi helai kain yang bergerak dinamis di atas panggung.
Bagi Kamu pencinta fashion dan penikmat seni, pementasan Teater Koma “Rumah Sakit Jiwa” pada akhir Juli hingga awal Agustus 2026 ini jelas menjadi agenda kultural yang haram untuk dilewatkan. (Des)




