Site icon Wanita Indonesia

Dompet Dhuafa Salurkan Hewan Kurban ke Palestina, Somalia, dan Myanmar

Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa Jamah Palestina, Somalia, dan Myanmar.

Wanitaindonesia.co,  Tangerang — Di tengah situasi konflik berkepanjangan di Palestina dan krisis kemanusiaan di beberapa negara lainnya, Dompet Dhuafa kembali menggulirkan program Tebar Hewan Kurban (THK) ke wilayah-wilayah terdampak, termasuk Palestina, Somalia, dan Myanmar.

Program ini menjadi bagian dari komitmen lembaga filantropi Islam tersebut dalam merespons berbagai kondisi darurat kemanusiaan, khususnya di wilayah yang sulit dijangkau. Di Palestina, misalnya, konflik dengan Israel yang masih terus berlanjut mengakibatkan kelangkaan pangan dan obat-obatan, terlebih setelah adanya pengetatan distribusi bantuan.

Manajer Aliansi Strategis Dompet Dhuafa, Syamsul Ardiansyah, menjelaskan bahwa pihaknya menerapkan tiga pola dalam pelaksanaan kurban untuk luar negeri.

“Kalau untuk program kurban luar negeri pada tahun ini kita ada tiga tipe, ada tiga pola. Pola yang pertama adalah pemotongan hewan hidup. Di Myanmar sama Somalia, insya Allah kita akan potong hewan hidup, baik kambing maupun sapi. Jadi proses pengadaan akan dilaksanakan di sana. Kita melibatkan mitra yang sudah bertahun-tahun bekerja sama dengan Dompet Dhuafa di dua negara tersebut,” ucapnya saat mengisi Talk Show Kurban Se-Ngaruh Itu di Bens Radio, Jumat (30/5/2025).

Lebih lanjut, Syamsul mengungkapkan bahwa distribusi kurban untuk Palestina dilakukan dengan cara berbeda, yakni menggunakan daging beku dan daging kaleng. Penyembelihan dilakukan di luar wilayah Palestina, tepatnya di India, untuk kemudian dikirimkan ke Gaza.

“Bentuk yang kedua adalah pengiriman hewan perubahan dalam bentuk beku. Jadi hewannya dipotong di luar Palestina, kemudian dikirimkan ke Palestina. Dan dari proses ini sudah kita mulai sejak tahun 2023. Jadi pada saat itu kita memotong hewan kurbannya di India. Di India tidak bisa memotong sapi, jadi kita memotongnya kerbau. Iya karena nggak boleh kalau di sana ya,” ujarnya.

Menurut Syamsul, sejak meletusnya perang pada tahun 2023, distribusi kurban untuk Palestina mengalami perubahan. Awalnya daging dikirim dalam bentuk beku (frozen), namun kini dikemas dalam bentuk kaleng demi menyesuaikan kondisi infrastruktur setempat yang rusak, termasuk ketiadaan listrik.

“Kita pakai model frozen pada saat itu sebenarnya nggak ada masalah dengan frozen karena listrik ada di sana. Nah pada saat perang sejak 2023 kita mengubah dari daging beku menjadi daging kaleng, kenapa daging kaleng karena di sana sudah nggak ada listrik. Jadi kalau dikirim daging beku itu tidak ada freezer yang bisa menyimpan daging,” cerita Syamsul.

“Ini sebenarnya pertimbangannya ya tentu saja karena semata-mata mempertimbangkan situasi di sana ya. Susah banget di sana, untuk ngapa-ngapain itu. Dan di laporan tahun lalu, alhamdulillah masyarakat menerima konsep itu gitu,” imbuhnya.

Syamsul juga mengajak generasi muda untuk turut serta dalam program kurban Dompet Dhuafa. Menurutnya, ibadah kurban membawa kebahagiaan bagi yang memberi maupun yang menerima.

“Kami mengajak Abang dan None untuk juga terlibat dalam program kurban dengan Dompet Dhuafa, dan sudah pasti kurban Abang dan None itu sengaruh itu bagi masyarakat yang membutuhkan,” ajaknya.

Dompet Dhuafa memastikan bahwa seluruh proses penyembelihan dan distribusi kurban dilakukan sesuai syariat, tepat sasaran, dan mengikuti standar protokol yang berlaku. Pada Iduladha 1446 H tahun ini, Dompet Dhuafa menargetkan distribusi kurban setara 35.000 ekor kambing, yang tersebar di 28 provinsi, 105 kabupaten/kota, dan tiga negara terdampak konflik.

Seluruh hewan kurban telah melalui proses quality control yang ketat. Selain itu, program Tebar Hewan Kurban tahun ini mengusung empat prinsip utama: sesuai syariat, pasti jantan, sampai ke pelosok negeri, dan laporan yang cepat. (ADV)

Exit mobile version