
WANITAINDONESIA.CO – Indonesia Health Development Center (IHDC) melaporkan temuan studi berbasis pengabdian masyarakat terkait beban kognitif pada siswa sekolah dasar perkotaan di Jakarta. Studi terhadap 1.007 siswa di empat SD negeri menemukan 68,5 persen responden masuk kategori fungsi kognitif sehari-hari kurang baik, sementara 49,3 persen memiliki skor harapan masa depan rendah.
Studi ini mengidentifikasi fungsi kognitif harian mencakup kemampuan untuk memusatkan perhatian, mengingat informasi, dan mengolah apa yang dipelajari.
Prof. Nila F. Moeloek, Pendiri dan Ketua Dewan Pembina IHDC, menekankan bahwa pembangunan sumber daya manusia harus dimulai dengan memastikan anak memperoleh kondisi kesehatan yang mendukung proses belajar.
“Indonesia Emas 2045 dimulai dari anak-anak yang duduk di bangku sekolah hari ini. Kita perlu memastikan mereka dapat melihat dengan jelas, belajar dengan tenang, dan memiliki keyakinan untuk meraih masa depan. Kesehatan anak harus menjadi bagian dari agenda pendidikan dan pembangunan bangsa,” ujar Prof. Nila yang merupakan Menteri Kesehatan RI 2014-2019 ini.
Menurutnya, temuan tersebut perlu mendorong kerja bersama sektor kesehatan dan pendidikan agar hambatan belajar dapat dikenali serta ditangani sejak dini.
Sementara itu, Direktur Eksekutif IHDC dan Ketua Tim Peneliti, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH menegaskan, studi berbasis pengabdian masyarakat ini menggunakan desain potong lintang pada siswa berusia 9–14 tahun. Pemeriksaan mencakup penglihatan, penilaian asupan gizi, serta skrining kesehatan jiwa dan perilaku. Pemeriksaan refraksi menemukan 303 siswa, atau sekitar 30 persen peserta, mengalami gangguan refraksi yang memerlukan tindak lanjut koreksi penglihatan.
Dr. Ray Wagiu Basrowi menjelaskan bahwa keluhan belajar perlu dibaca secara lebih menyeluruh agar anak mendapatkan bantuan yang sesuai.
“Anak yang sulit fokus perlu diperiksa, bukan buru-buru dicap malas. Kesulitan melihat materi pelajaran atau kecemasan yang tidak tertangani dapat berkaitan dengan kesulitan belajar sehari-hari. Temuan ini mengajak orang tua dan guru melihat kebutuhan kesehatan di balik perilaku anak di kelas,” ujar Dr. Ray.
Analisis studi menunjukkan kelompok dengan risiko gangguan penglihatan sedang hingga tinggi memiliki odds fungsi kognitif harian kurang baik sekitar 3,1 kali dibandingkan kelompok tidak berisiko hingga berisiko rendah. Risiko ansietas yang tinggi juga berkaitan dengan odds fungsi kognitif kurang baik sekitar 3,3 kali, sedangkan risiko depresi yang tinggi berkaitan dengan odds sekitar 2,5 kali.
Angka tersebut menunjukkan hubungan statistik, bukan bukti sebab-akibat. Hasil skrining kesehatan jiwa juga memerlukan penilaian lanjutan oleh tenaga profesional dan tidak dapat diperlakukan sebagai diagnosis klinis.
“Yang kita temukan adalah hubungan yang perlu ditindaklanjuti. Studi ini tidak membuktikan bahwa penglihatan atau kecemasan menjadi penyebab tunggal kesulitan kognitif. Namun, temuan tersebut memberi arah yang jelas untuk pemeriksaan dan pendampingan anak,” jelas Dr. Ray yang sering mempublikasikan kajian ilmiah di akun instagram @ray.w.basrowi ini.
Studi ini diperuat tim peneliti yang terdiri dari Dr. Kianti Raisa Darusman, Dr. Levina Chandra Khoe, dan Bunga Pelangi MKM, dengan menggunakan instrumen PedsQL Cognitive Functioning Scale untuk menilai fungsi tersebut, serta Children’s Hope Scale untuk menilai keyakinan anak dalam berusaha dan mencari jalan mencapai tujuan. Skor harapan rendah tidak berarti anak tidak mempunyai cita-cita atau kehilangan kemampuan berimajinasi.
IHDC mendorong skrining penglihatan di sekolah yang terhubung dengan pemeriksaan refraksi, pemberian kacamata sesuai kebutuhan, dan pemantauan penggunaannya. Pada aspek kesehatan jiwa, sekolah perlu memiliki jalur pendampingan dan rujukan, disertai upaya menciptakan lingkungan belajar yang aman serta memperkuat empati dan kesetiakawanan antarsiswa.
“Pemeriksaan perlu berujung pada pertolongan. Anak yang membutuhkan kacamata harus bisa mendapatkannya, dan anak yang mengalami masalah psikologis harus memiliki akses pendampingan. Keberhasilan program perlu terlihat dari kebutuhan anak yang benar-benar tertangani,” tegas Prof. Nila dan Dr Ray.
Dr. Ray menambahkan bahwa keluarga, sekolah, dan layanan kesehatan memiliki peran bersama dalam mendukung kemampuan belajar anak.
“Setiap angka dalam studi ini mewakili anak yang berhak memperoleh kesempatan belajar sebaik mungkin. Membantu anak melihat lebih jelas dan mendapatkan pertolongan ketika cemas merupakan langkah konkret untuk mendukung kemampuan belajar serta keyakinannya menghadapi masa depan,” tutupnya.
Temuan ini berlaku pada peserta di empat SDN yang diteliti dan belum dapat digeneralisasi sebagai prevalensi seluruh siswa Jakarta maupun Indonesia. IHDC menempatkannya sebagai dasar untuk memperkuat layanan kesehatan sekolah dan mendorong penelitian lanjutan. (wib)




