Desainer Gen-Z Indonesia & Prancis Dialog Visual & Pertukaran Budaya di Panggung JF3 Fashion Festival

"BEAUTIES" menjadi perayaan bagi pluralitas femininitas, dan persepsi pribadi kreatornya tentang keindah Foto: Dokumentasi JF3an yang bebas, rasa percaya diri serta kekuatan perempuan.

WANITAINDONESIA.CO – Arron Bryan pemenang Future Fashion Designer, Paul Vidal, Maurine Willebien, Aurelien Voegelin ketiganya alumni dari Ecole Duperre Paris, sukses memukau penonton lewat karya inovatif mereka, yang mengedepankan dialog serta ekspresi kontemporer.

Melanjutkan kesuksesan koleksi terbaiknya, pemenang Future Fashion Designer, Arron Bryan mengembangkan koleksi OPPOSITE: The Fallen Virtue.

Interpretasi Dengan Membalik Sudut Pandang

Lulusan Susan Budihardjo Fashion Forward Institute menekuni dunia fesyen dengan fokus pada bidang custome made, dengan mengedepankan kualitas, detail, personalisasi untuk setiap klien.

OPPOSITE dimaknai sebagai eksplorasi kreatif dengan mengangkat makna dualitas, kontras serta transformasi karakter, dari ide-ide ke koleksi.

Koleksi lahir dari interpretasi dengan membalik sudut pandang terhadap sumber inspirasi. Arron Bryan mengambil inspirasi dari salah satu aksesori karya Rinaldy Yunardi, sebuah bridal headpiece bergaya Art Nouveau. Aksesori bridal berbentuk angsa putih, kaya detail yang merepresentasikan kemurnian, kebaikan serta keanggunan.

Menakjubkan, lewat koleksinya ini, Arron Bryan sukses menghadirkan interpretasi yang berlawanan. Angsa putih ditransformasikan menjadi figur angsa hitam. Representasi kekuatan, sisi antagonis, keterampilan serta aura yang mengintimidasi.

Ki-ka: Arron Bryan, Aurelien Voegelin, Maurine Willebien, Paul Vidal lebur di panggung megah BRI JF3 Fashion Festival, designer muda lintas benua ini sepakat untuk membawa angin segar di industri mode dunia, diantaranya praktik zero waste, upcycling. Foto: Wanitaindonesia.co

Pergeseran ini menjadi dasar utama dalam membangun identitas koleksi, yang mengeksplorasi bagaimana sebuah simbol dapat memiliki narasi berbeda, ketika dilihat dari perspektif berlawanan.

Dibalik karakter yang saling bertentangan, hadir benang merah yang menyatukan keduanya yakni keanggunan serta kemewahan. Angsa putih, dan angsa hitam memancarkan pesona, elegan, berkelas dengan cara yang berbeda.

Kesamaan nilai inilah yang menjadi landasan utama koleksi, sehingga konsep OPPOSITE tidak dimaknai sebagai pertentangan yang saling meniadakan, melainkan sebagai dua karakter berbeda, yang tetap berbagi esensi yang sama.

Siluet Clean, Refleksi Karakter Desain

Koleksi menghadirkan siluet yang lebih clean, dengan penekanan pada bentuk yang tegas, terstruktur, kesederhanaan garis desain menjadi kontras terhadap kompleksitas inspirasi awal. Hasilnya terlihat modern dengan tetap mempertahankan kesan mewah, dan elegan.

Setiap busana adalah cerminan dari sosok yang percaya diri, dominan, dan berani. Untuk mewujudkan karakter koleksi OPPOSITE: The Fallen Virtue, Arron Bryan memadukan material tweed, jet black fabric, dan tulle, guna menciptakan permainan tekstur yang merepresentasikan keseimbangan antara struktur, dan kelembutan.

Tweed menghadirkan kesan kokoh, dan berkelas. Sedangkan jet black fabric memperkuat karakter dramatis, dan berani. Tulle memberikan sentuhan ringan yang tetap mempertahankan nuansa elegan.

Eksplorasi desain semakin diperkaya melalui penerapan berbagai teknik konstruksi seperti draping, pleats, gathered, dan sculptural form. Teknik-teknik ini membentuk siluet yang tegas serta dinamis. Menghadirkan dimensi, dan volume yang memperkuat karakter black swan.

Interpretasi Paul Vidal terhadap busana bersejarah yang dilihatnya di lukisan klasik, dilakukan lewat detail lipit, kerut, lengan bervolume dengan bentuk kontemporer. Foto: Dokumentasi JF3

OPPOSITE: The Fallen Virtue hadir dalam empat koleksi eksklusif, merefleksikan karakter desain melalui perpaduan estetika, ketelitian detail, dan eksplorasi material.

Melengkapi koleksi, Arron Bryan membuat koleksi yang dirancang dengan pendekatan inovatif, ia memanfaatkan waste plastic sebagai elemen detail.

Baca Juga :  Rayu Gen -Z lewat Culinary Gem Kekinian, Bango Mumpuni Membaca Zaman

Eksplorasi material menghadirkan dimensi baru pada setiap karya, mengubah material sisa menjadi bagian dari ekspresi artistik.

Embalezz-moi (Wrap Me Up) Paul Vidal

Koleksi terbaik Paul Vidal hadir manakala ia membayangkan sosok eksentrik dalam lukisan “membungkus” diri mereka, seandainya hidup di masa kini.

Volume kostum bersejarah diterjemahkan menggunakan estetika material pelindung seperti terpal, plastik transparan serta pita perekat usang. Hadir perspektif baru tentang perlindungan, transformasi, dan memori.

Koleksi memadukan tailoring dengan draperi lembut, menciptakan keseimbangan antara konstruksi yang tegas, dan volume yang mengalir.

Siluet menggambarkan referensi busana historis dengan bentuk-bentuk oversized, menyerupai kemasan pelindung, sehingga setiap busana tampil seperti objek yang sedang dibungkus.

OPPOSITE: The FallenVirtue lahir dari interpretasi dengan membalik sudut pandang terhadap sumber inspirasi, sukses dieksekusi dengan sangat baik oleh Arron Bryan, pemenang Program Future Fashion Designer, kolaborasi JF3 bersama Susan Budihardjo Fashion Forward Institute. Foto: Dokumentasi JF3

Teknik potong mengintepretasikan ulang konstruksi busana bersejarah melalui detail lipit, kerut, lengan bervolume yang diolah menjadi bentuk kontemporer.

Material tekstil juga dikembangkan menyerupai kemasan pelindung, melalui permukaan yang disatukan dengan panas, lapisan transparan serta teknik trompe-l’ceil. Meniru pita perekat, dan plastik pembungkus, namun tetap mempertahankan fleksibilitas kain, dan kualitas craftsmanship.

Untuk BRI JF3 Fashion Festival 2026, Paul Vidal menampilkan 6 looks. Koleksi merupakan projek kelulusan, dan tidak ditujukan untuk kebutuhan komersial.

“BEAUTIES” Cara Maurine Willebien Mengeksplorasi Kaumnya Lewat Perspektif Pribadi

Willebien menghadirkan eksplorasi berani tentang tubuh perempuan serta reintrepretasi kode -kode pakaian intim. Dia menantang batas antara pakaian intim, dan pakaian sehari-hari melalui layering, reintepretasi , hybridisasi.

Karyanya menghadapi hiperseksualitas perempuan dengan mentransformasi underwear menjadi outerwear, tawarkan refleksi tentang representasi, dan pembebasan tubuh perempuan.

“BEAUTIES” mengeksplorasi representasi perempuan melalui perspektif Willebien sendiri. Sebuah ‘femalegaze’ yang menempatkan pengalaman perempuan di pusat dialog kreatif.

Koleksi ini terinspirasi oleh kehidupan pribadi, pengalaman masa lalu, dan sejumlah figur perempuan yang mengelilinginya seperti teman, keluarga, dan seluruh perempuan yang telah membangkitkan rasa fascinasi dalam dirinya.

Proses kreatif diperkaya lewat apa yang mengelilinginya setiap hari. Pertemuan, cerita serta objek yang melintasi jalannya. Dia menggunakan referensi yang beragam mulai dari buku hingga film, ada juga korset era 60-an yang ditemukan di pasar vintage hingga karya Botticelli.

Maurine Willebien desainer Paris yang berani menantang batas antara pakaian intim dengan pakaian sehari-hari melalui layering, reintepretasi, dan hybridisasi. Foto: Dokumentasi JF3

Pengayaan Proses Kreatif Berbasis Lingkungan

Lingkungan menjadi suport terbesar karena secara terus-menerus menginspirasinya, sebutlah itu jalanan di Paris.Ia mengamati detail, sikap, siluet, dan interaksi manusia. Pertukaran dengan orang lain menempati tempat esensial dalam pendekatan kreatifnya.

Ia merupakan persona yang penuh perhatian, yang menghabiskan waktunya untuk menganalisis, dan mengintepretasikan detail-detail yang mengelilinginya. Observasi kehidupan sehari-hari, rasa ingin tahu tentang manusia, dan cerita -cerita tersembunyi di balik setiap individu yang menginspirasi proses kreatifnya.

Koleksi merepresentasikan visi keindahan sebagai ruang emansipasi, kepercayaan diri, dan kebebasan. Melalui koleksinya penyandang gelar Bachelor dibidang Fashion, dan Design dari Belgia, dan Master di collection Design Ecole Duperre, Paris merepresentasikan visi keindahan sebagai ruang emansipasi, kepercayaan diri, dan kebebasan.

Baca Juga :  Kolaborasi, Passion dan Komitmen Gen-Z Stop Merokok di Kalangan Anak Muda

Lewat koleksinya, Willebien menyoroti perempuan yang merebut kembali kode-kode sosial, yang mungkin dipaksakan pada mereka. Atau bisa jadi sumber penghakiman, dengan menginterpretasikan kembali norma-norma ini. Mereka mentransformasikannya menjadi alat ekspresi, dan penegasan diri.

Koleksi menjadi perayaan bagi pluralitas femininitas, dan persepsi pribadi Willebien tentang keindahan yang bebas, rasa percaya diri serta kekuatan perempuan.

Melengkapi koleksinya Arron Bryan manfaatkan waste plastic sebagai elemen detail pada OPPOSITE: The Fallen Virtue. Foto: Dokumentasi JF3

Dari Material Tak Dianggap hingga Jamur Keabadian

Willebien bekerja melalui draping langsung di atas mannequin, menuangkan karyanya untuk segera berinteraksi dengan material, guna mengkonstruksi siluet dengan cara yang intuitif, dan sensitif.

Hubungan fisik dengan garmen adalah bagian esensial dari proses kreatifnya. Untuk material ia menggunakan tali lingerie sebagai bahan utama. Juga teknik knitting tangan memakai mesin lokal atau industri, menyesuaikan dengan kebutuhan setiap koleksi.

Pendekatannya juga bervariasi menurut garmen, tapi ia sangat terikat dengan kontak langsung dengan material, menyentuh serta mentransformasikannya, kemudian membentuknya dengan tangan, adalah bagian integral dari praktik kreatifnya.

Untuk siluet, Willebien mengembang kode -kode spesifik yang lahir dari imajinasinya. Ia tertarik pada garmen yang lembut, dan fleksibel yang dapat berkembang bersama tubuh pemakainya. Piece yang dapat tergelincir dari bahu, mengungkapkan framen kulit, dan memberi rasa kebebasan pada pemakainya.

Proses kreatif juga melibatkan fokus yang kuat pada pengerjaan strip, dan assembly seperti yang terlihat pada sweater leopard atau blazer yang direkonstruksi dari tali lingerie. Yang mana koleksi ini dibuat dari material existing, bersumber dari dead stock.

Koleksi Willebien berakar pada pendekatan fesyen berkelanjutan. Hampir semua material yang digunakan berasal dari dead stock, seperti benang yang didonasikan untuk sekolahnya oleh fashion house. Juga memanfaatkan tali lingerie dari up cycling toko secondhand, dan pasar loak.

Apapun itu material maupun objek yang menarik perhatiannya, Willebien akan segera menyimpannya, lalu memberi kehidupan kedua lewat kreasinya.

Willebien berkolaborasi pada tas yang terbuat dari material kulit yang diolah dari jamur “reishi”. Jamur masyarakat Asia yang kerap dimanfaatkan sebagai obat. Reishi punya nama ikonik, jamur keabadian yang berasal dari mycelium.

Material alternatif dari kulit tradisional adalah bagian dari proses penelitian, yang mengeksplorasi material yang lebih bertanggung jawab, dan melengkapi pendekatan yang berkelanjutan pada koleksinya.

Untuk BRI JF3 Fashion Festival, Willebien mempresentasikan sepuluh looks bersama aksesori, termasuk tights, dan tas.

Setiap siluet dirancang sebagai esemble lengkap, di mana elemen yang berbeda, berinteraksi satu dengan lainnya, guna menciptakan identitas visual yang kohesif.

Embalezz-moi koleksi memadukan tailoring dengan draperi lembut, menciptakan keseimbangan antara konstruksi yang tegas, dan volume mengalir. Foto: Dokumentasi JF3

“3088” Koleksi Aurelien Voegelin, Inspirasi Trah Keluarga Petani Prancis

Koleksi yang berakar pada sejarah keluarga, yang merupakan garis keturunan keluarga petani. Leluhur Voegelin telah mengolah pertanian lebih dari empat abad!

Baca Juga :  Tangan Dingin Desainer Muda JF3 Guncang Panggung Mode Masa Depan

Dengan riwayat yang sangat panjang ini, pria berpenampilan tenang ini berjuang untuk mengidentifikasikan diri dengan warisan tersebut. Hadir desain fesyen yang mengintepretasikan kembali warisan tersebut lewat perspektif pribadinya.

Mencari untuk kembali terhubung dengan dunia yang pernah ia rasakan. Proses rekonsialisasi ini menjadi fondasi dari seluruh praktik kreatifnya.

Koleksi dibangun atas riset ekstensif, dengan menggabungkan fotografi arsip keluarga, citra dokumenter yang diproduksinya serta referensi yang lebih luas dari lanskap pedesaan Prancis.

Voegelin juga melibatkan proses pengumpulan langsung dari peternakan keluarga. Dia mengumpulkan bentuk, material, tekstur, gerak, dan objek sehari-hari.

Setiap garmen menerjemahkan observasi yang telah menemani dia sejak kecil, mengubah perjalanan hidup jadi bahasa fesyen kontemporer.

Material utama koleksi “3088” berasal dari bahan natural, diantaranya dikembangkan dengan teknik artisanal yakni metode pembuatan secara manual. Foto: Dokumentasi JF3

“3088” merupakan koleksi yang mengakar dalam realitas. Setiap siluet, detail, dan material berasal dari elemen existing. Dari pertanian diintepretasikan kembali lewat pendekatan desain kontemporer. Mengeksplorasi memori, transmisi serta hubungan kita dengan dunia pedesaan.

Untuk membuat koleksi, Voegelin harus melakukan riset selama tiga tahun ihwal representasi dunia pertanian. Penelitian membawanya pada kesadaran esensial, tidak mungkin berbicara tentang petani sebagai kelompok yang homogen.

Realitas pertanian bersifat beragam , dan kompleks. Fesyen secara alamiah mentransformasikan, dan mengestetikan segala yang disentuhnya. Daripada mencoba merepresentasikan dunia ini, Voegelin memilih untuk bekerja dari pengalamannya sendiri.

Dialog Kerajinan dan Tailoring

Koleksinya berbentuk otobiografi visual, di mana peternakan menjadi teritori kreatif. Garmen-garmen mengekspresikan hubungan dengan tubuh, waktu, material, dan kerja. Bukan visi folklorik tentang kehidupan pedesaan.

Koleksi mengembangkan dialog antara kerajinan, dan tailoring. Menggabungkan desainer ready-to-wear, siluet eksperimental, dan statement pieces yang dirancang sebagai objek yang lebih ekspresif.

Koleksi berkolaborasi pada tas terbuat dari material kulit yang diolah dari jamur reishi. Foto: Dokumentasi JF3

Siluetnya genderless yang mengeksplorasi hubungan dengan tubuh, yang bergerak menjauh dari standar fesyen idealis. Inspirasi datang dari pergerakan tubuh, tubuh yang bekerja, dan jejak yang ditinggalkan oleh pengguna serta waktu.

Proses konstruksi mengandalkan kerja ekstensif pada cutting pola, volume, dan bentuk. Menggambarkan teknik tailoring , cording, braiding, macrame serta pengembangan tekstil buatan tangan.

Material utama berasal dari bahan natural, beberapa diantaranya dikembangkan menggunakan teknik artisanal. Memperkenalkan hubungan yang lebih lambat, dan eksperimental.

Material koleksi berfokus kuat pada panel construction, double top stitching, dan detail yang terinspirasi dari workwear serta streetwear aesthetic.

Menciptakan dialog antara fungsionalitas, durabilitas, dan konstruksi visual. Volume dikembangkan dari bentuk, dan objek yang diawali di pertanian keluarga. Khususnya alat pertanian, dan objek yang berhubungan dengan pekerjaan hewan, kemudian ditransformasi, dan diintegrasikan kembali melalui pakaian.

Proses kreatif terstruktur di tiga arketipe yang mendefinisikan alam semesta. Untuk BRI JF3 Fashion Festival, Voegelin mempresentasikan 6 looks dari tari total 20 looks yang diproduksinya. (*)