
WANITAINDONESIA.CO – Di kota-kota berkembang, hotel bukan sekadar tempat menginap. Ia menjadi titik temu banyak cerita, mulai dari para pekerja, pelaku bisnis, wisatawan, hingga orang-orang yang datang membawa harapan baru.
Di tengah dinamika itu, nama Leo Ramadhanus pernah menjadi bagian dari perkembangan industri hospitality di Timur Indonesia saat dipercaya memimpin Horison Ultima Timika pada 2017.
Bagi banyak orang, Timika mungkin hanya dikenal sebagai kota tambang. Namun Leo Ramadhanus melihat sesuatu yang berbeda. Ia memandangnya sebagai daerah dengan potensi besar bagi pertumbuhan industri perhotelan dan pariwisata.

“Bisnis perhotelan sangat menjanjikan karena tidak terlepas dari pariwisata,” ujar Leo Ramadhanus kepada WanitaIndonesia.co, baru-baru ini.
Bagi Leo Ramadhanus, hospitality bukan hanya soal bangunan hotel atau fasilitas mewah. Industri ini, menurutnya, bertumpu pada pelayanan dan kemampuan memahami kebutuhan manusia.
“Perhotelan adalah menjual pelayanan,” jelas Leo Ramadhanus.
Pandangan itu terlihat dari focus Leo Ramadhanus terhadap kualitas pelayanan dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan hotel.
Perjalanan Leo Ramadhanus kemudian berlanjut di Hotel Horison Lampung. Di tengah situasi pandemi Covid-19 pada 2020, ia tetap menunjukkan optimisme terhadap industri hospitality sekaligus menekankan pentingnya hubungan antara hotel dan media.
“Persahabatan ini penting untuk menjaga kebersamaan, di mana media memiliki peran utama bagi perusahaan dalam menyampaikan kebenaran informasi kepada masyarakat luas,” katanya lagi.
Pengalaman memimpin hotel di daerah dengan karakter berbeda membuat Leo Ramadhanus memahami satu hal penting, bahwa hospitality bukan sekadar bisnis kamar dan gedung megah, melainkan tentang bagaimana sebuah kota menyambut setiap orang yang datang. (GIE)




