
WANITAINDONESIA.CO – Di tengah keriuhan suasana Iduladha yang baru saja berlalu, aroma gulai dan satai kambing barangkali masih tercium dari dapur-dapur keluarga Indonesia. Namun, bagi sebagian masyarakat yang sangat memperhatikan kesehatan keluarga, daging kambing kerap kali dipandang dengan penuh kewaspadaan karena dituding sebagai biang keladi naiknya kadar kolesterol dan tekanan darah tinggi (hipertensi). Menanggapi keresahan tersebut, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, memberikan pencerahan menarik melalui unggahan edukasi di akun Instagram pribadinya.
Dalam tayangan bertajuk “Budi Gemar Sharing” (BGS), Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin justru membela citra daging kambing yang selama ini dianggap sebagai “kambing hitam” dalam masalah kesehatan. Beliau menjelaskan bahwa secara ilmiah, daging kambing memiliki kandungan lemak jenuh yang jauh lebih rendah dibandingkan daging sapi. Dalam setiap 100 gram, daging kambing hanya mengandung sekitar 0,79 gram lemak jenuh, sementara daging sapi bisa mencapai tiga kali lipatnya atau sekitar tiga gram.
“Kasihan si kambing, selalu dituduh menjadi kambing hitam. Dibilang kolesterolnya tinggi, lemak jenuhnya tinggi, padahal faktanya tidak seperti itu,” ujar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dengan nada berseloroh dalam video tersebut.
Beliau memaparkan bahwa daging merah, baik kambing maupun sapi, merupakan sumber protein berkualitas tinggi yang sangat dibutuhkan tubuh untuk meningkatkan kualitas darah serta menyediakan asam amino (zat pembentuk protein) yang tidak dapat diproduksi sendiri oleh tubuh. Bahkan, Menkes menganalogikan manfaat protein dalam daging kurban ini setara dengan protein gandum atau susu (whey protein) yang biasanya dijual dengan harga mahal di pasaran untuk menunjang massa otot.
Namun, mengapa banyak orang tetap mengeluh pusing atau kolesterol naik setelah menyantapnya? Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menekankan bahwa kesalahan sebenarnya bukan terletak pada jenis dagingnya, melainkan pada cara pengolahan dan pendampingnya. Penggunaan santan yang berlebihan, tambahan garam dan gula yang tinggi, serta campuran jeroan ke dalam masakan itulah yang sebenarnya memicu gangguan kesehatan.
“Daging kambingnya sudah sehat, tapi saat dimasak ditambah santan yang banyak, jeroan, garam, dan gula. Jadi yang salah bukan kambingnya, tapi cara memasaknya,” tegas Budi Gunadi Sadikin mengingatkan para ibu di rumah agar lebih bijak dalam mengolah hidangan. Beliau juga menyarankan agar konsumsi daging tetap diimbangi dengan asupan sayuran dan buah-buahan sebagai penyeimbang serat bagi tubuh.
Pesan edukasi ini menjadi pengingat bagi kita, terutama para ibu rumah tangga sebagai “menteri kesehatan” di keluarga, bahwa sehat tidak berarti harus berpantang makanan lezat. Dengan teknik memasak yang tepat dan porsi yang terkendali, kelezatan daging kambing tetap bisa dinikmati tanpa rasa waswas. Karena pada akhirnya, kesehatan bermula dari piring kita sendiri, dan menjaga kebahagiaan keluarga lewat hidangan sehat adalah bentuk kasih sayang yang paling nyata. (Gdi)




