
WANITAINDONESIA.CO – Christine Hakim kembali menorehkan sejarah dalam ajang Festival Film Wartawan Indonesia (FFWI) 2025. Dalam malam penghargaan yang turut dihadiri Presiden Timor-Leste, José Ramos-Horta, Christine menerima Lifetime Achievement Award atas dedikasi dan kiprahnya selama lebih dari lima dekade di dunia film.
Penghargaan terhadap Christine Hakim ini diserahkan langsung oleh Ahmad Mahendra, Dirjen Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).
Dalam sambutannya, pembawa acara menyebut penghargaan tersebut sebagai bentuk penghormatan bagi perjalanan Christine Hakim yang bukan sekadar karier, tetapi juga pengabdian seni yang menjadi wujud pelayanan tertinggi.
“Christine Hakim adalah bukti bahwa seni bisa menjadi bentuk pengabdian yang paling luhur. Ia telah memberi wajah, jiwa, dan makna bagi sejarah film Indonesia,” ujar narator dalam tayangan pembuka.
Christine Hakim tampak haru saat naik ke panggung. Ia mengucapkan terima kasih kepada para jurnalis, insan film, hingga gurunya, Slamet Rahardjo dan almarhum Teguh Karya, yang membuka matanya akan makna film sejati.
“Saya memiliki keyakinan, tanggung jawab, misi, dan visi dalam dunia film setelah Mas Slamet Rahardjo dan almarhum Teguh Karya membuka mata saya bahwa film berlandaskan ilmu pengetahuan,” tutur Christine Hakim dalam pidatonya.
Aktris kelahiran 1956 itu kemudian mengenang perjalanan panjangnya sejak film Kawin Lari (1975), hingga karya-karya bersejarah seperti Cut Nyak Dien, yang menjadi titik balik pemahamannya tentang makna Indonesia.
“Film Cut Nyak Dien adalah cara saya mencari leluhur saya, tapi juga awal pencarian saya akan makna ke-Indonesiaan,” terang Christine Hakim.
Christine Hakim mengaku bahwa selama ini, film bukan hanya sekadar profesi atau karya, melainkan media komunikasi spiritual antara dirinya, masyarakat, dan Tuhan. “Film bukan hanya media komunikasi saya dengan masyarakat luas, tetapi juga komunikasi saya dengan Tuhan,” ungkapnya.
Ia juga menyinggung hubungan panjangnya dengan media dan para jurnalis film yang ia sebut sebagai “rekan seperjuangan”. “Bagi saya, tidak ada lagi jarak antara saya dan media. Teman-teman media sudah seperti sahabat dan mitra dalam menjadikan dunia ini tempat yang lebih baik,” katanya.
Christine pun menutup pidatonya dengan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah setia mendukungnya selama lebih dari 50 tahun. “Saya bersyukur, karena Tuhan selalu melindungi, membimbing, dan mengingatkan saya. Teman-teman media juga begitu sabar mendukung saya selama lebih dari lima dekade,” pungkasnya. (GIE)




