Cetak Pelaut Kelas Dunia, MultiIntegra Suntik Teknologi Simulator Canggih ke Kampus Maritim

CEO MultiIntegra Technology Group (MITG) Aloys Sutarto (kanan) menyerahkan penghargaan kepada Direktur Polimarim AMI, Dr. H. Amrin di Aula Kampus Polimarim. (HO-MITG)

WANITAINDONESIA.CO – Masa depan industri maritim Indonesia tidak hanya bergantung pada kecanggihan armada, tetapi pada keunggulan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mengoperasikannya. Menyadari hal tersebut, MultiIntegra Technology Group (MITG) mempertegas komitmennya dalam mentransformasi pendidikan maritim melalui penyediaan teknologi simulator dan laboratorium mutakhir.

Sebagai pionir rekayasa teknologi, MITG tak hanya sekadar menjual alat. Mereka hadir dengan solusi total, mulai dari penyediaan alat peraga hingga layanan purna jual yang memastikan keberlanjutan proses belajar mengajar. Komitmen ini diperkuat dengan pemberian penghargaan khusus kepada mitra strategis mereka, Politeknik Maritim (Polimarim) AMI Makassar.

CEO MultiIntegra Technology Group (MITG), Aloys Sutarto, menyerahkan langsung penghargaan tersebut sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi Polimarim AMI Makassar yang telah bekerja sama selama lebih dari 15 tahun.

“Polimarim AMI Makassar adalah bukti nyata bagaimana konsistensi dalam menjaga kualitas pendidikan membuahkan hasil luar biasa. Mereka adalah lembaga diklat maritim pertama yang bersinergi dengan kami, dan hasilnya bisa kita lihat dari kualitas lulusan mereka,” ujar Aloys dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu.

Menghadapi tantangan global seperti International Maritime Organization (IMO) Green Voyage 2050 dan teknologi kapal otonom (Maritime Autonomous Surface Ship – MASS), MITG membawa solusi yang cerdas.

Aloys menjelaskan bahwa penyediaan simulator kini dibuat lebih fleksibel agar tidak membebani lembaga diklat secara finansial. MITG menawarkan berbagai opsi teknologi tinggi, antara lain: Part Task & Full Mission Simulator untuk simulasi kendali penuh, Smart Simulation berbasis Cloud sehingga akses latihan bisa dari mana saja, dan
Mixed Realities (VR & AR) yang memadukan dunia nyata dan virtual untuk pelatihan Nautika, Teknika, hingga Electro Technical Officer (ETO).

“Kami ingin teknologi ini bisa dijangkau oleh semua lembaga diklat agar taruna kita tidak gagap teknologi saat berada di atas kapal yang semakin modern,” tambahnya.

Prestasi Polimarim AMI Makassar memang sulit ditandingi. Kampus ini berhasil mempertahankan approval program diklat kepelautan dari Dirjen Perhubungan Laut selama lebih dari satu dekade. Tak hanya itu, akreditasi dari BAN-PT dan LAM menunjukkan peringkat “Baik Sekali”.

Data statistik berbicara mengenai dampak nyata kampus ini bagi pembangunan nasional:

  • 13.785 Lulusan: Hingga tahun 2025, Polimarim telah menyumbang lebih dari 10.000 tenaga ahli di sektor transportasi laut.
  • 1.920 Mahasiswa Aktif: Per Januari 2026, minat mahasiswa tetap tinggi, menunjukkan kepercayaan publik yang besar.
  • Terbaik di Wilayah IX: Mendapat predikat Perguruan Tinggi Maritim Swasta terbaik di Wilayah Sultan Batara (Sulsel, Sultra, Sulbar).

Standar Global

Direktur Polimarim AMI Makassar, Dr. Ir. H. Amrin, S.E., S.T., M.M., M.A.P., CRP., C.IQA, menegaskan bahwa fasilitas simulator dari MITG memegang peranan kunci.

“Kami tidak hanya mengikuti aturan nasional, tapi juga standar internasional STCW Code. Simulator berkualitas tinggi sangat krusial sebagai media asesmen dan ujian sertifikasi keahlian pelaut. Dengan alat yang sanggup menyimulasikan skenario sempurna, taruna kami siap menghadapi tantangan laut yang paling ekstrem sekalipun,” tegas Dr. Amrin.

Selain program kepelautan, Polimarim juga unggul dalam program non-kepelautan seperti Manajemen Logistik dan Bisnis Maritim, hingga Program Magister Terapan (S2) Pemasaran, Inovasi, dan Teknologi.

Selama 20 tahun, MITG telah menjadi pemain utama dalam system integrator di Indonesia. Fokus mereka meluas mulai dari solusi ICT, pertahanan militer, keamanan siber, hingga pengembangan energi hijau dan kesehatan. Dengan sentuhan AI dan navigasi tingkat tinggi, MITG terus berkomitmen membawa teknologi Indonesia ke level internasional. (Gdi)