WANITAINDONESIA.CO – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mendorong perluasan akses perempuan terhadap teknologi digital, pasar dan pendampingan usaha untuk meningkatkan kemandirian ekonomi. Langkah tersebut krusial dan perlu diikuti penguatan kapasitas dan kesempatan yang setara agar perempuan tidak hanya mampu memulai usaha, tetapi juga mengembangkan usahanya secara berkelanjutan.
“Transformasi digital yang sesungguhnya bukan hanya tentang seberapa cepat teknologi berkembang, tetapi tentang seberapa banyak perempuan yang mampu tumbuh dan maju bersamanya. Karena itu, kita harus memastikan perempuan bisa memulai usaha, bertahan, berkembang dan pada akhirnya naik kelas,” kata Arifah dalam keterangannya, Jumat (30/10/2026).
Sebelumnya, Arifah menghadiri peluncuran Prima Go (Digital Market Hub) di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Kamis (29/10/2026).
Lebih lanjut, dia mengungkapkan, sekitar 64,5 persen pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia merupakan perempuan. Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan peran penting perempuan dalam menggerakkan perekonomian nasional. Namun, perempuan pelaku usaha masih menghadapi berbagai hambatan, seperti keterbatasan akses permodalan, informasi pasar, teknologi, jejaring bisnis dan pendampingan.
Selain itu, tanggung jawab pengasuhan yang masih banyak dibebankan kepada perempuan juga menjadi tantangan dalam mengembangkan usaha.
Menurut Arifah, pemberdayaan ekonomi perempuan tidak cukup diukur dari jumlah peserta pelatihan atau produk yang berhasil dipasarkan melalui platform digital. Peningkatan kepercayaan diri, kemampuan mengelola sumber daya, keberanian mengambil peluang, serta kendali dalam menentukan keputusan ekonomi juga menjadi bagian penting dari keberhasilan pemberdayaan.
“Perempuan yang berdaya bukan hanya perempuan yang mampu menghasilkan pendapatan, tetapi juga perempuan yang memiliki suara, pilihan, dan kendali atas masa depannya. Untuk itu, kita perlu memastikan transformasi digital memberikan manfaat bagi perempuan dari berbagai latar belakang, termasuk mereka yang menghadapi keterbatasan akses dan kesempatan,” ujar Arifah menerangkan.
Sementara, Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X mengemukakan perkembangan ekonomi digital membuka peluang pasar lebih luas. Namun, kesempatan tersebut belum dapat dinikmati secara merata terutama oleh perempuan kepala keluarga yang harus menjalankan tanggung jawab ekonomi sekaligus memastikan keberlangsungan kehidupan keluarga.
“Prima Go menemukan makna strategisnya melalui upaya menghubungkan teknologi dengan pendampingan manusiawi. Hadir utamanya untuk perempuan kepala keluarga yang memikul tanggung jawab ekonomi sekaligus menjaga keberlangsungan kehidupan keluarganya,” kata Wakil Gubernur DIY.
Ia menjelaskan, transformasi digital perlu memperhatikan kondisi dan kebutuhan perempuan yang beragam. Melalui pendekatan We to Women, peserta Prima Go tidak hanya memperoleh akses terhadap teknologi dan pasar digital, tetapi juga pendampingan secara bertahap untuk meningkatkan keterampilan dan kepercayaan diri dalam mengelola usaha secara mandiri.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY, Erlina Hidayati Sumardi menambahkan, Prima Go merupakan layanan Digital Market Hub yang ditujukan bagi perempuan rentan anggota Kelompok Ekonomi Produktif (KEP) Desa Prima. Layanan ini dikembangkan untuk membantu perempuan memperluas pemasaran produk dan memanfaatkan pasar digital secara optimal.
Erlina mengungkapkan, pemanfaatan pasar digital oleh perempuan pelaku usaha masih terbatas. Penggunaan akun media sosial dan lokapasar untuk pemasaran produk masing-masing masih di bawah dua persen. Kondisi ini dipengaruhi berbagai faktor mulai dari keterbatasan ekonomi, tanggung jawab pengasuhan, modal hingga literasi digital.
“(Karena itu) Prima Go hadir sebagai respons atas kebutuhan perempuan pelaku usaha, khususnya perempuan rentan, untuk tidak hanya mampu berproduksi, tetapi juga mampu memanfaatkan pasar digital secara lebih optimal,” ungkap Erlina.
Sebagai informasi, produk unggulan kelompok usaha Desa Prima mencakup beragam olahan pangan dan kerajinan lokal. Beberapa di antaranya berupa bakpia, wingko, eggroll, brownies, aneka keripik, olahan salak dan pisang, jamu instan, serta produk kerajinan seperti batik, shibori, dan ecoprint. Keragaman produk tersebut mencerminkan potensi usaha perempuan di DIY yang dapat dikembangkan melalui perluasan pemasaran digital.
Desa Prima atau Perempuan Indonesia Maju Mandiri merupakan program DP3AP2 DIY untuk memberdayakan perempuan di tingkat kalurahan melalui kegiatan ekonomi produktif.
Sejak 2021, program ini memperoleh dukungan Dana Keistimewaan (Danais) yang dikelola Paniradya Kaistimewan DIY. Berdasarkan catatan DP3AP2 DIY, sekitar 21 persen perempuan di Desa Prima merupakan kepala keluarga. Mereka masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan skala usaha, terutama terkait akses teknologi, informasi pasar, jejaring, pembiayaan, dan pendampingan.
Peluncuran Prima Go juga menjadi bagian dari kolaborasi Kementerian PPPA, Pemerintah Daerah DIY, dan UGM untuk memperluas akses perempuan terhadap ekosistem ekonomi digital.
Kolaborasi itu diharapkan dapat memperkuat pendampingan, memperluas jangkauan pemasaran produk, serta membuka kesempatan bagi perempuan pelaku usaha untuk meningkatkan skala bisnis dan kemandirian ekonomi. (Yud)

