WANITAINDONESIA.CO – Demam film nasional makin tak terbendung di bioskop Tanah Air, namun potensi besar ini membutuhkan pijakan data yang solid agar garapan sinema Indonesia mampu terbang makin tinggi di panggung global.
Geliat industri perfilman nasional kini tak lagi bisa dipandang sebelah mata. Sepanjang tahun lalu, penguasaan pasar (market share) karya anak bangsa berhasil menembus angka fantastis hingga melampaui 60 persen di bioskop lokal. Tren positif ini terus berlanjut hingga pertengahan tahun ini, di mana sebanyak 15 judul film berhasil menyedot lebih dari satu juta penonton ke gedung bioskop, mengalahkan rekor pencapaian tahun-tahun sebelumnya.
Melihat lonjakan antusiasme masyarakat yang luar biasa tersebut, pemerintah bergerak cepat untuk mengunci momentum emas ini. Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) kini mengambil langkah strategis dengan memperkuat tata kelola data industri perfilman agar lebih terbuka, akurat, dan berkelanjutan. Langkah ini diposisikan sebagai kunci utama dalam menciptakan iklim penanaman modal (investasi) yang jauh lebih segar dan terukur.
“Kementerian Ekraf ingin ekosistem perfilman Indonesia semakin besar, berkualitas, dan berkelanjutan. Selain memperluas akses layar dan distribusi film nasional, kami ingin memperkuat kebijakan berbasis data yang mampu mendorong investasi, penganekaragaman konten (diversifikasi konten), serta kolaborasi internasional,” ujar Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya.
Langkah pembenahan ini disambut konkret melalui penjajakan kerja sama strategis antara Kementerian Ekraf dan Cinepoint, platform pemantau dan penganalisis perfilman. Kedua belah pihak tengah merampungkan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) guna membangun sarana dan prasarana (infrastruktur) data yang dapat diakses secara komprehensif oleh para pemangku kepentingan.
Direktur Kajian dan Manajemen Strategis Kementerian Ekraf, Agus Syarip Hidayat, menguraikan bahwa ketersediaan angka dan tren yang valid sangat krusial bagi pemerintah dalam menentukan arah kebijakan.
“Bagi kami sebagai pembuat kebijakan (policy maker), data-data dari Cinepoint akan sangat bermanfaat sebagai dasar perencanaan, penyusunan program, hingga campur tangan kebijakan (intervensi kebijakan). Kami berharap kerja sama ini dapat memperkuat ekosistem perfilman nasional,” kata Agus Syarip Hidayat.
Di sisi lain, kesiapan teknologi modern juga dipersiapkan oleh pihak industri. Cinepoint tengah merampungkan peluncuran Cinepoint Pro, sebuah platform analisis berbasis Layanan Berorientasi Perangkat Lunak (Software as a Service / SaaS). Fitur ini mampu merekam data capaian pendapatan tiket (box office), riak perbincangan di media sosial, efektivitas promosi, profil kelompok penonton (demographic profile), hingga pemetaan sebaran penikmat film di berbagai daerah.
“Keterbukaan data akan membuka peluang baru bagi seluruh pemangku kepentingan industri, mulai dari rumah produksi, penyalur (distributor), penanam modal (investor), hingga pemerintah,” ungkap Direktur sekaligus Pendiri Pendamping (Cofounder) Cinepoint, Vincent Putera.
Vincent menambahkan bahwa pemanfaatan data terpadu akan menghadirkan tolok ukur yang jauh lebih jernih bagi seluruh pelaku industri. Dengan gambaran angka yang presisi, setiap keputusan bisnis maupun suntikan modal dapat dilakukan dengan tingkat keakuratan yang tinggi, meminimalisasi risiko, sekaligus mempercepat langkah film Indonesia untuk berbicara banyak di kancah internasional.
Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda termasuk salah satu penikmat film lokal yang ikut memadati bioskop minggu ini? Kehadiran Drama Indonesia tinggal selangkah lagi menyaingi Drama Korea, Drama Cina, atau Drama Jepang. (Gdi)

