
WANITAINDONESIA.CO – Berada di Sari-Sari waktu seperti berlari begitu cepat. Wanitaindonesia bersama sahabat karib Christine “terperangkap” dalam kelezatan rasa yang tak akan pernah berakhir.
Mencicipi sepotong kue celorot membuat Wanitaindonesia.co kian yakin, perlu komitmen, dan passion yang kuat untuk menghadirkan nostalgia cita rasa. Dan kami beruntung menemukannya di Sari-Sari.
Sarinah kerap dijadikan rujukan utama masyarakat, khususnya wisatawan mancanegara untuk melihat, mengagumi, kemudian mendapatkan karya dari buah pemikiran kreatif orang Indonesia yang berakar dari generasi sebelumnya.
Christine sahabat karib terlihat bungah memperlihatkan “etalase” kearifan lokal itu kepada Wanitaindonesia.co.
Wanita Indonesia keturunan Suku Dayak Tidayuh, Kalimantan Barat menggandeng suaminya, Mike, pria Amerika Serikat. Mereka kemudian mengambil nampang, cake tong, dan perburuan-pun di mulai.
Awalnya ibu satu anak yang pandai merawat diri, di usianya yang sudah tak lagi muda, secara tidak sengaja menemukan gerai Sari-Sari di Basement Gedung Sarinah.

Kelezatan Mendunia
“Kami ke sini kan awalnya hanya ingin makan di Bali Timbungan. Usai makan, iseng-iseng window shopping deh, sembari melihat perkembangan Sarinah yang terbilang sangat progresif, “cetusnya.
Christine menjelaskan bahwa suaminya merupakan penikmat seni tradisi Indonesia. Menurut belahan jiwanya tersebut, budaya Indonesia terlihat eksotis, menyimpan kekuatan, dan inspirasi dari sebuah bangsa besar. Menjadi pembeda dari budaya negara lainnya.”
Christine menceritakan, “Sari-Sari mencuri pandang dari kerumunan orang. Kamipun tertarik untuk masuk menyaksikan keriaan tersebut.”
Wanitaindonesia.co takjub dengan pemandangan tak biasa. Deretan jajan pasar yang kekinian sudah sangat sulit untuk ditemukan, kecuali pada momen Ramadan, serta hanya ada di daerah tertentu, terhampar di depan mata.
Keseluruhan jajanan yang diklaim pemilik Sari-Sari jumlahnya mencapai ratusan jenis. Dikelompokkan dari rasa, teknik masak, dan juga peruntukan. Kesemuanya ditata rapi di dalam wadah kayu persegi berukuran sama. Di bawahnya di alas selembar daun pisang.
“Wow, terlihat deretan jajanan berbungkus daun seperti Bubur Lemu yang populer di Yogya, dan Solo. Terbuat dari adonan tepung beras, dan santan. Tersaji dengan sayur, beserta lauk pelengkap. Kuliner bercita rasa gurihbmemiliki makna filosofis dari kata Lemu yang menjadi doa, harapan akan kemakmuran, kesejahteraan, dan kesuburan.

Cerita Ongol-ongol
Selain sebagai pembungkus, daun pisang digunakan pula untuk wadah kue. Orang Jawa menyebutnya takir. Lipatan daun pisang berbentuk persegi panjang, yang digunakan sebagai wadah makanan, diantaranya untuk aneka kue seperti Grontol Jagung, dan Bugis Mandi. Takir juga bisa dibuat dengan menggunakan daun pandan berukuran besar.
Daun pembungkus lainnya adalah daun kelapa. Hadir sensasi rasa gurih lezat dari Lepat Kacang Merah, olahan khas masyarakat Tatar Pasundan. Selain menggunakan daun bambu yang ditreatment khusus, untuk menghilangkan bulu halus penyebab gatal pada olahan Bakcang.
Tak kalah menggoda beragam kue Talam diantaranya Gandus (Talam Ebi), Talam Suji Gula Merah, Talam Nangka. “Wah,wah, wah.
Ingatkah Anda dengan Ongol-ongol? Kearifan lokal masyarakat Betawi, dan Jawa lekat dengan sajian gluten free. Diracik menggunakan campuran adonan dari tepung tapioka (tepung yang diekstrak menjadi pati dari singkong), gula merah, santan. Adonan yang telah tercampur sempurna lalu dimasak, sambil diaduk -aduk hingga menjadi kental, dan licin.
Adonan yang telah matang, kemudian dituang ke dalam loyang persegi. Dibiarkan membeku lalu dipotong-potong persegi.
Sebelum disajikan Ongol-ongol dilumar kelapa parut berbumbu garam, untuk menyeimbangkan rasa manis dengan gurih.
Ongol-ongol bermakna kenyal lembut mengingatkan kembali kenangan semasa kecil.
Oleh Eyang Putri dijadikan makanan berkhasiat obat saat cucunya sakit perut, juga sebagai sajian untuk penderita penyakit maag. Kandungan Pati resisten dari tapioka, mampu menjaga kesehatan pencernaan. Salah satunya menjaga keseimbangan bakteri baik di dalam usus.

Murah, Lokasi Prestisius
Pengunjung dibuat kalap. Selain tampilan jajanan nan menggoda, surga kelezatan kue-kue klangenan ini, tarifnya sangat terjangkau. Untuk produk kuliner yang dijajakan di tempat prestisius seperti Sarinah lho say. Didukung oleh ambience, kebersihan, lay-out, serta pelayanan mengacu ke standar internasional.
Harga termurah untuk satu potong kue Talam Ungu, dan Talam Kuning kecil Rp. 1,500,-.
Harga rata-rata jajan pasar di sana berkisar Rp. 3.000, dengan harga tertinggi Rp. 66.300,- untuk sebungkus Dendeng Balado.
Soal rasa, walaupun produk Sari-Sari tak bisa dikatakan otentik seratus persen seperti dari aromatik santan, rempah spekuk, maupun pewarna alami dari daun pandan, dan suji, namun kesemua kue-kue yang dipresentasikan tetap terasa sedap kok. Pemilik yang sekarang merupakan Generasi ketiga mampu menghimpun para supplier terbaik.
Tentunya upaya pemilik Sari-Sari wajib diapresiasi, karena mampu menuntaskan selera masyarakat, yang kekinian sudah terasa “mahal”.
Banyak pelaku usaha yang tak berani untuk melestarikan kue tradisional. Selain proses produksi terbilang panjang, teknik masaknya juga tak mudah, serta harus dijual dengan harga ekonomis dengan pelayanan maksimal, di lokasi prestisius.
Salah satu kue tradisional yang membutuhkan teknik pembuatan rumit adalah Carabikang. Kue asal Semarang mengandalkan adonan tepung beras, telur, santan, garam, dan air. Banyak pemula yang “patah hati” karena gagal menghasilkan tekstur kue Carabikang yang empuk, dengan permukaan merekah sempurna.

Rekomendasi Ramadan Wanitaindonesia.co
Ada pula Krasikan, sejenis jenang yang diolah dari campuran tepung beras ketan, gula merah, santan, dan garam yang berasal dari Purworejo. Namun di beberapa daerah mengenalnya dengan nama berbeda. Masyarakat Garut, dan Tasikmalaya menyebut Ladu, Cirebon dengan nama Rara Gudik, dan masyarakat Melayu Pontianak menamakannya sebagai Cengkarok.
Bagi Gen Z, keberadaan Sari-Sari menjadi salah satu tempat pengayaan kuliner Nusantara dari legacy leluhurnya. Mereka bisa melihat, mengenal, serta menikmati keterampilan memasak tradisional dengan produk berkualitas, yang sanggup menjawab tantangan zaman.
Usai memilah, serta memilih Wanitaindonesia.co menjatuhkan pilihan pada Bubur Lemu, Krasikan, Lalampa, (lemper Manado), Carabikang, Balapis (Lapis Manado), dan Apam Daun Pandan. Kami kemudian antri untuk proses pembungkusan makanan ke staff, dan lanjut antri ke kasir.
Mengingat animo pembeli, Wanitaindonesia.co menyarankan untuk tetap menjaga adab selama berada di Sari-Sari:
- Tahan euforia dengan tidak berteriak atau berbicara keras saat memilah, dan memilih makanan. “Ingat!, droplet Anda bisa keluar mengotori makanan yang sebagian tak dibungkus.
- Jangan terlalu lama memilih seolah-olah ada banyak sekali pertimbangan!. Beri kesempatan, berempatilah ke pengunjung lain yang juga memiliki hak yang sama.
- Selalu gunakan cake tong, jangan memilih dengan cara memegang memakai tangan.
- Jadilah pembelanja bijak dengan membawa wadah makanan sendiri!. Ingat, kewajiban pembelanja untuk aktif berkontribusi mengurangi limbah dari kemasan makanan. (*)




