WANITAINDONESIA.CO – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Stella Christie membeberkan strategi mendorong ekonomi melalui inovasi berbasis riset di perguruan tinggi.
“Kalau sekedar bangun-bangun infrastruktur tanpa didukung riset maka tidak ada pertumbuhan ekonomi,” kata Stella dalam suatu acara di Jakarta, Kamis.
Menurut Stella untuk mendorong pertumbuhan ekonomi bukan hanya investasi fisik saja tetapi juga diperlukan investasi di bidang sumber daya manusia, pengetahuan, dan inovasi.
Dia menganalogikan di bidang pembangunan infrastruktur, apabila inputnya dan outputnya sama artinya tidak bakal terjadi pertumbuhan ekonomi. Namun apabila dengan input yang sama tercipta lebih banyak output artinya ekonomi bisa bertumbuh.
Wanita yang dikenal dengan kacamata uniknya ini mengibaratkan jalan, dengan kapasitas yang sama dipakai banyak kendaraan maka jatah setiap kendaraan semakin sedikit, berbeda dengan ide (inovasi) yang tidak bakal berkurang meski banyak yang menggunakan.
Dengan demikian, jelas dia, investasi itu bukan semata-mata barang (fisik) tetapi juga ide atau inovasi. Sebagai contoh karyawan yang biasanya menggunakan satu unit komputer. Apabila komputernya ditambah satu unit lagi belum tentu produktivitas dari pekerja tersebut mengalami peningkatan.
Menurut Stella agar Indonesia terhindar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap) maka penting untuk mengejar inovasi dan penelitian agar tidak tertinggal dengan negara lain.
Middle income trap adalah suatu kondisi ketika negara berhasil naik dari negara berpendapatan rendah menjadi menengah, tetapi kemudian laju pertumbuhannya melambat dan terjebak, gagal bertransisi menjadi negara berpendapatan tinggi karena tidak lagi bisa bersaing dengan negara upah murah (karena upah sudah naik) dan belum mampu bersaing dengan negara maju (karena inovasi dan teknologi belum cukup kuat).
Stella memastikan dengan mendorong pertumbuhan riset hingga 10 persen maka dalam jangka pendek dapat mendorong PDB menjadi 0,2 persen dan jangka panjang dapat mendorong PDB hingga 0,9 persen.
Dia berkeinginan agar perguruan tinggi di Indonesia bisa berbasis riset (research university) dengan tujuan inovasi sehingga pengajarannya juga berbasis riset sehingga lulusannya memiliki kemampuan dalam melakukan inovasi.
Dicontohkan Stanford University lewat riset berhasil memberikan manfaat ekonomi tahunan sebesar 2,7 triliun dolar AS setara dengan menciptakan 5,4 juta pekerjaan dan 40 ribu perusahaan. Begitu juga dengan MIT yang mampu menyumbang 2 triliun dolar AS per tahun setara 4,5 juta pekerjaan dan lebih dari 30 ribu perusahaan. Bahkan University of Kansas mampu berkontribusi 7,8 miliar dolar AS per tahun setara dengan 88 ribu pekerjaan.
Sedangkan di Tiongkok, klaster inovasi dan teknologi mampu menyumbang 13.4 persen dari total PDB negara ini, bahkan hanya memakai 2,5 persen dari total lahan konstruksi milik negara ini.
Menurut Stella dengan mendorong perguruan tinggi berbasis riset dengan hasil akhir berupa inovasi di bidang industri dan menghasilkan tenaga kerja berkualitas maka akan mudah mendapatkan hibah untuk riset baik dari pemerintah maupun swasta. (Gdi)





