
WANITAINDONESIA.CO – Janji kemerdekaan Indonesia untuk membebaskan rakyat dari kemiskinan dinilai masih jauh dari kenyataan. Delapan puluh satu tahun setelah proklamasi, bayang-bayang kemiskinan dan ketergantungan mental masih cermat mencengkeram bangsa ini.
Pembina Dompet Dhuafa, Yudi Latif, menegaskan bahwa akar masalah belum terwujudnya cita-cita kemerdekaan adalah ketiadaan kaki-kaki kemandirian yang kokoh. Menurutnya, kemerdekaan saat ini baru sebatas deklarasi formal tanpa isi yang kuat.
Secara mental dan kultural, masyarakat masih terperangkap dalam kompleks inferioritas (inferiority complex).
Masalah kedirian yang belum selesai ini mencakup ketidaktahuan akan potensi diri, ketiadaan rasa percaya diri, hingga minimnya kesadaran diri yang berujung pada ketidakmandirian.
Pendidikan nasional juga dinilai gagal membongkar pola pikir ini karena cenderung melanjutkan warisan sistem kolonial. Sistem tersebut dirancang bukan untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan, melainkan sekadar mencetak buruh atau kuli untuk perkebunan.
Dalam ranah ekonomi, Indonesia membutuhkan sedikitnya 5 persen wirausahawan dari total populasi agar mampu meraih kemakmuran. Kebijakan subsidi pemerintah yang selama ini berfokus pada konsumsi dinilai perlu diubah menjadi subsidi produksi yang lebih memberdayakan, sebagaimana strategi yang diterapkan di Tiongkok.
Dalam sambutannya saat Kongres Kemandirian yang diselenggarakan Dompet Dhuafa, Yudi juga menyoroti
sistem politik yang dinilai kehilangan kedaulatan akibat sekadar meniru model luar negeri. Pola perwakilan tunggal (single entry) melalui partai politik dinilai mempersempit ruang partisipasi dan memperkuat dominasi kelompok pemilik modal.
Mewujudkan kemerdekaan sejati menuntut keberanian untuk merombak mentalitas, pendidikan, dan sistem politik agar berpihak pada kemandirian serta kebajikan umum.
“Mari kita bersama-sama memperkuat kaki-kaki kemandirian bangsa agar cita-cita Indonesia yang sejahtera dan berdaulat tidak sekadar menjadi mimpi di atas kertas.” (Gdi)




