Bawa Romansa Klasik “PS. I LOVE YOU”, 5 Brand Naungan Lakon Indonesia Menginterpretasikan CINTA lewat Gerakan “Recrafted A New Vision”

Ki-ka : Arsya Prasetiawan, Merchadiser & Fashion Stylist LAKON Store, Brian Sutedja, Founder Oxford Society, Imelda, Founder Kyrra, Vilan, Founder Senja Sore, Faustina, Founder By Dree, Yaafi, Founder Saroengan lewat P.S. I LOVE YOU hadirkan narasi yang merangkum perjalanan cinta dalam berbagai bentuk, dan nuansa (Foto : Wanitaindonesia.co)

Wanitaindonesia.co, Serpong, Tangerang – Jawa Barat –
Cinta merupakan kekuatan yang melekat dalam narasi busana (Arsya Prasetiawan, Merchadiser & Fashion Stylist, LAKON Store).

LAKON Store punya cara unik agar brand mode yang dinaunginya, mampu mengejawantahkan tema dan gerakan JF3 Fashion Festival 2025 “Recrafted A New Vision” dalam karya mereka.

Lewat P.S. I Love You, film drama yang menceritakan perjalanan cinta mengharu-biru, yang kemudian diinterpretasikan melalui keterampilan tangan – tangan kreatif, hingga menjelma menjadi kekuatan pakaian yang mampu ‘berbicara’ di Re-Crafted Hall, Summarecon Mall Serpong.

Bersama tema, LAKON hendak menghidupkan kembali bara cinta dalam berbagai medium dari rindu yang terpendam hingga identitas budaya yang lahir di era baru.

Arsya Prasetiawan, Merchadiser, dan Fashion Stylist LAKON Store menjelaskan, “Semua yang ada hadir karena cinta. Apapun itu pasti landasannya cinta. Karenanya cinta menjadi spirit tema P.S. I Love You.”

Arsya menambahkan, “Konsep show dibuat lebih kekinian, ceria dengan memadukan elemen musik, tari serta busana yang tentunya akan membangun mood serta membangkitkan spirit manakala para model melenggang di catwalk.”

LAKON Store merupakan ruang apreasi seni, dan mode yang menghadirkan koleksi busana siap pakai, aksesori, dan perhiasan berkualitas, dengan mengedepankan aspek estetika tinggi. Produk hadir lewat keterampilan tangan yang cermat. Paduan dari kekayaan budaya dengan konsep modern. Desainnya relevan dengan tren tanpa menghilangkan identitas khas di setiap karya.

“Untuk show spesial ini, LAKON Store bersama 5 brand lokal di bawah naungannya menghadirkan 90 look, dari LAKON Store, Oxford Society, Kyrra, By Dree, Saroengan, dan Senja Sore, “terang Arsya.

5 Brand di bawah naungan LAKON STORE buktikan sebagai yang terbaik lewat P.S. I Love You. ( Foto : Istimewa.)

Arsya menambahkan, “Lewat narasi hadir lima subtema yang merangkum perjalanan cinta dalam berbagai bentuk, dan nuansa. Lewat kerinduan mendalam, semangat membara, proses kelahiran kembali, cinta yang tersembunyi hingga cinta yang mengalir secara naluriah yang
menjadi benang merah kemudian membentuk keseluruhan cerita. Saudade, Rebirth, Eternal Flame, Shadowed Love, dan Savage Love.”

Kelimanya hadir lewat palet warna sarat makna, motif-motif simbolik, tekstur nan kaya beserta siluet dinamis. Menggabungkan kelembutan, dan ketegasan lewat satu kesatuan visual yang intens serta emosional.

Koleksi yang dipersembahkan untuk estetika sekaligus merefleksikan koneksi antar manusia, seperti emosi juga kerentanan lewat kolaborasi para desainer.

“Ini adalah sebuah surat terbuka, tentang cinta yang memakai bahasa visual untuk mengajak setiap mata yang melihatnya, larut serta mampu melihat kembali. Merayakan apa cinta dan tentu saja harus mengikhlaskannya. Karena pada akhirnya, cinta itu akan pergi meninggalkan kita. Apapun kisah yang menyertainya cinta layak untuk disebarkan bahkan untuk dikenang, “pungkasnya.

“Undeserved Love” dari Oxford Society hadirkan refleksi cinta & pengendalian diri.. ( Foto : Istimewa.)

Brian Sutedja “Undeserved Love”

Brian Sutedja, Founder Oxford Society unjuk karya lewat “Undeserved Love”. Menghadirkan refleksi keanggunan, cinta serta pengendalian diri. Koleksinya terinspirasi oleh busana kantor klasik, yang diinterpretasikan ulang dengan menggunakan jahitan halus.

Layaknya keahlian tailoring klasik yang dipadukan dengan kelembutan, menghadirkan siluet yang menyatu antara disiplin, dan emosi.

Menawarkan pakaian basic dengan kualitas tinggi bergaya kampus ternama. Dapat dipakai dengan gaya kasual classy atau preppy look.

Lewat tema cinta digambarkan sebagai hal yang universal. Kasih sayang, dan cinta bisa ditujukan kepada buah hati, pasangan.
Brian menghadirkan koleksi bergaya kasual, dan busana kantor. Palet warna kelabu nan lembut, catchy dengan sulaman mawar merah. Simbol klasik cinta yang akan terus bertumbuh.

Koleksi ini merupakan penanda kolaborasi editorial pertama dengan LAKON Indonesia yang menajamkan pemahaman ihwal kekuatan elegan itu hadir lewat kehalusan.

Harmonisasi terlihat dari kepekaan Oxford Society yang halus dengan keahlian LAKON menghadirkan narasi tentang kekuatan yang tenang, keanggunan nan halus serta nilai-nilai abadi.

“Ini adalah tentang cinta yang tenang tak meletup-letup. Tak selalu lantang melainkan mengakar, “pungkas Brian.

Saudade By Dree, spesial material denim yang dicuci berulang kali agar lembut mengikuti irama tubuh.( Foto : Istimewa.)

Saudade By Dree

Tak kalah memesona koleksi “Saudade” By Dree. Menyoal rindu mendalam yang sukar untuk diungkapkan, related dengan Cinta.

Siluet yang ditampilkan apa adanya namun puitis. Rok lebar dipadukan kemeja longgar atau jaket struktural beraksen simpul, yang menyajikan harmoni, fungsionalitas serta ekspresi bebas.

Busana hadir untuk memperkuat citra diri, persona wanita tangguh, cantik sekaligus seksi, yang merasa nyaman dengan dirinya.

Sang kreator, Faustina memanfaatkan material denim yang menjadi lambang kekuatan, ketangguhan, kesederhanaan serta kenyamanan abadi.

Denim bukan sekedar bahan melainkan fashion statement, yang menyatukan beragam perbedaan lewat jahitan kuat.
Hadir pesan bahwa setiap wanita itu layak, untuk melangkah dengan kepercayaan diri. Bersemangat tak hanya sekedar untuk bergaya.

Agar menjadi medium yang nyaman, material denim sengaja dicucinya berulang kali untuk mendapatkan efek lembut nan lentur, mengikuti lekuk tubuh.

“Oasea” by Kyrra lekat dengan motif print indah, terstruktur, dan berani..( Foto : Istimewa.)

“Oasea” Ketenangan di Tengah Kekacauan

Kyrra menjadikan Oasea yang berasal dari kata Oasis menjadi tema pada kolaborasinya bersama LAKON Indonesia. Diartikan ketenangan diantara kekacauan.

Mengedepankan keunikan wanita. Koleksi dikembangkan dari nol dengan mengedepankan kolaborasi bersama artisan berbeda.

Hadir motif print di atas lembar kain yang indah, terstruktur, dan bold. Hadir warna-warna lembut dengan siluet berani.

“Bayang” eksplorasi sarung sebagai fashion statement generasi muda..( Foto : Istimewa.)

Tinggikan Marwah Sarung Jadi Fashion Statement

Bayang merupakan koleksi brand Saroengan. Eksplorasi kelahiran kembali yang tak sekedar dimaknai kembali secara fisik, melainkan kelahiran kembali dengan mengedepankan makna serta ingatan.

Yaafi, Founder Saroengan menjelaskan, “Brandnya ingin memperkenalkan kembali kain sarung sebagai identitas busana masyarakat Indonesia. Ini tentang identitas yang hidup, yang diolah serta dimanfaatkan penggunaannya secara fungsional.”

“Sarung dalam look modern kiranya akan menyertai beragam aktivitas, tak lagi sekedar artefak yang teronggok usang di dalam lemari, “ujarnya.

“Bayang memperkenalkan kembali sarung tenun Indonesia dalam nuansa modern serta sangat relevan dengan generasi muda. Ini menjadi fashion statement dengan interpretasi baru, “cetus Yaafi.

Tak kan berpaling dari wastra “Bara” by Senja Sore, “wow, harmonisasi beragam wastra dalam satu karya..( Foto : Istimewa.)

“Bara” Harmonisasi Ragam Wastra dalam Satu Rancangan

Brand Senja Sore menyajikan koleksi “Bara” yang didominasi palet merah, dan hitam. Philant sang pemilik menjelaskan, “Koleksi yang mengeksplorasi relasi tentang perasaan dan busana melalui implementasi warna, tekstur, siluet.

Kesemuanya menyuarakan emosi halus. Warna merah dilambangkan sebagai cinta membara. Hitam menyuarakan kedalaman nan sunyi serta keteguhan yang lebih personal. Lewat tema besar JF3 Fashion Festival 2025, Recrafted A New Vision, Philant menggunakan material wastra Nusantara seperti batik, dan tenun karya pengrajin perempuan dari Lasem, Tuban, Pekalongan, dan Bali.

Tantangan saat mengkurasi kain lewat warna serta motif. Harus hadir harmoni lewat benang merahnya seperti pada tenun Bali, dan batik Lasem.