Site icon Wanita Indonesia

Bara Prancis Usai Paris Fashion Week

Ratu Marie Antoinette simbol kemarahan rakyat Prancis dari masa ke masa, Ratu tega ini, hidup bermewah-mewah dengan menindas rakyatnya. (Foto: Commons.wikimedia.org)

WANITAINDONESIA.CO – Usai perhelatan Paris Fashion Week nan megah, Prancis membara, menunjukkan dua sisi kelam dari tatanan hidup bernegara.

Paris sebagai kiblat mode dunia serta magnet bagi pasangan yang mendambakan romansa dari perjalanan cinta, tercabik-cabik oleh peristiwa aksi kerusuhan yang melanda di berbagai pusat keramaian.

Paris, Marseille, Lyon, Limoges, Bordeaux, Lille, Douai, Wattignies, dan Denain sempat chaos dikarenakan terjadi penjarahan di kawasan Place de la Republique serta distrik perbelanjaan Chatelet-les-Halles. Pembakaran Gedung Balai Kota Limoges yang bersejarah telah menghanguskan menara lonceng, dan menara jam.
Fasilitas publik, dan kendaraan pribadi maupun polisi tak luput dari amarah, dilempari para pendemo serta ikut dibakar.

Awal kemarahan massa dipicu oleh demo para pelajar yang terjadi selama beberapa minggu. Mereka memprotes fasilitas belajar yang sudah tidak layak, kurangnya tenaga pengajar serta kekhawatiran kurangnya anggaran pendidikan.

Gerakan ini kemudian berkembang, dan diikuti oleh Serikat Pekerja, masyarakat umum, dan Rompi Kuning, yakni simbol gerakan protes sosial Prancis yang lahir di tahun 2018. Mereka konsen menyuarakan kebijakan pemerintah, kenaikan biaya hidup.

Kekinian para pendemo menyuarakan kegelisahan tentang biaya hidup yang semakin mahal serta layanan publik di kota Paris

Petaka yang baru saja terjadi itu nyata, negara yang dijuluki sebagai pusat kebudayaan dunia bagi perkembangan seni, mode, kuliner, sastra serta pemikiran filosofis
ternyata menyimpan sisi kelam dari polesan gemerlap gaya hidup mewah kaum borjuis-nya.

Setiap aksi tentunya ada reaksi dari bentrokan kemudian berlanjut ke pengerusakan, dan pembakaran gedung, sejumlah fasilitas umum, dan kendaraan yang terjadi secara masif. Pun halnya dengan penjarahan marak menimpa sejumlah butik barang high end, supermarket, Galeria, hingga toko-toko kecil

Puluhan merek brand mewah dijarah oleh “casseur” penjarah pada saat demonstrasi. (Foto tangkapan layar TikTok.)

Ribuan pengunjuk rasa menyemut di sejumlah fasilitas strategis seperti di pusat-pusat perbelanjaan juga gedung pemerintah. Sebagian terlihat merangsek di sejumlah gerai barang high end Louis Vuitton, Gucci, Celine, Hermes, Apple Store.

Para perusuh terlihat berusaha memecah pintu kaca menggunakan pagar pembatas yang ditemukan di jalan. Lainnya memakai palu. Para pelaku sebagian terlihat menggunakan penutup wajah.

Tentu tak mudah untuk menghancurkan dinding kaca maupun pintu kaca berukuran tebal memakai alat seadanya. Walau mengalami retakan, kaca tak juga pecah. Bahkan terlihat noda darah, luka dari tangan penjarah pada retakan kaca tersebut.

Mereka terus memalu, menendang, menghantam ruang pembatas dengan emosi memuncak untuk menghancurkan sekat tersebut, dan akhirnya bunyi kaca pecah menjadi penanda hadirnya noktah sebuah bangsa besar.

Kerumunan orang langsung merangsek masuk, berlari memburu barang-barang impian banyak umat manusia, yang menjadi salah satu ikon kemewahan negeri yang terkenal akan gaya hidup glamornya di jaman Ratu Marie Antoinette.

Sebagian penjarah masih terlihat berupaya memecahkan etalase kaca, berisi barang-barang luxury berukuran kecil, yang ditata di dalam beberapa kotak kaca.

Selanjutnya mereka berebut mengambil barang mewah tersebut, membawa dengan tangan. Ada juga yang memasukan ke dalam karung. Kemasan orange ikonik dari brand mewah itu berserakan di lantai.

Pierre Collin manajer toko video games Micromania,
aksi heroik lawan penjarah, dia dijuluki Goku di dunia nyata.(Foto tangkapan layar TikTok.)

Pilu! Upaya Pemilik & Pekerja Toko Halau Penjarah

Kejadian pilu terlihat manakala sebagian pemilik toko berusaha untuk menghalang-halangi massa, agar tak masuk mengambil sumber mata pencaharian mereka. Sembari lirih memohon dengan ekspresi kebingungan, mereka berusaha mempertahankan sumber kehidupannya.

Namun hal tersebut
tak lagi diindahkan oleh para perusuh. Wanita paruh baya itu terlihat linglung, kebingungan melihat tokonya diobrak-abrik massa. Ada juga pemilik toko yang menderita lebam di mulut serta sekitar mata karena berkelahi dengan perusuh.

Tak kalah heroik manakala seorang
manajer toko video games “Micromania”, di Nice, Prancis Selatan, Pierre Collin menghalau para penjarah. Awalnya dia berhasil menghalau satu dua massa, namun naas saat dia berbalik menuju toko, tubuhnya diterjang dari belakang lalu terjatuh.

Walau mengalami luka, ekspresinya terlihat tenang. Momen dia bangkit berdiri di depan tokonya, yang kacanya sebagian telah pecah itu menjadi momen epik. Pasalnya posisinya berdekatan dengan poster Son Goku dari Dragon Ball.
Tangkapan layar tersebut langsung viral di internet.

Banyak penggemar menyebutnya sebagai French Goku di dunia nyata, karena keberaniannya menghadapi para penjarah. Walau tokonya tetap dijarah, upaya Pierre selama 6-7 jam menghadapi para penjarah menuai simpati serta dukungan dari Walikota Nice, Prancis Selatan serta masyarakat komunitas games di seluruh dunia.

Pierre mengingatkan masyarakat agar tak melupakan perjuangan para mahasiswa karena ulah para perusuh tersebut. Selama berhadapan dengan para kriminal, Pierre tak pernah mendengar tuntutan politik keluar dari mulut mereka. Yang ada justru hinaan serta cemohan.

Pierre menegaskan bahwa aksi para perusuh jangan sampai mengaburkan pesan yang dibawa kaum muda serta mahasiswa. Dia berkomitmen untuk selalu mendukung perjuangan mahasiswa, walau harus menjadi korban.

Lain lagi cerita pasutri yang berada di depan area sebuah toko busana. Awalnya si isteri terlihat bungah membawa puluhan baju bermerek bersama hanger dengan kedua tangannya. Sembari tersenyum ia berjalan santai ke arah orang yang diduga suaminya.

Tak lama berselang sang suami merampas semua baju yang didapat dengan cara yang tak halal tersebut, sembari memarahi isterinya, pria simpatik itu bergegas mengembalikan baju-baju tersebut ke dalam toko.

Ini menjadi pengingat bahwa di tengah situasi yang tak kondusif, masih ada hati nurani, kejujuran serta kebaikan dari seorang anak manusia.

Bagaimana dengan nasib barang jarahan Apple Store?, mereka harus gigit jari karena semua perangkat iPhone serta gadget yang diambil selama kerusuhan, semuanya telah dilengkapi dengan sistem keamanan kill switch. Perangkat otomatis akan terkunci, tidak bisa diaktifkan serta mudah dilacak oleh Apple.

Sebagian barang jarahan dijual bebas dengan harga di pedestarian Prancis juga di sejumlah platform jual beli.(Foto tangkapan layar TikTok.)

Harga Kaki Lima Brand High End Jarahan

Lantas dikemanakan barang-barang high end yang sudah dijarah? Tas, pakaian, sepatu, parfum, kosmetik dan lain sebagainya ternyata dijual murah, tapi Anda jangan pernah tergoda lho untuk membelinya.

Terlihat barang hasil jarahan di jual di kaki lima di sebuah pedestrian serta sejumlah platform jual beli daring seperti Amazon, eBay, Vinted, dan TikTok.

Pemerintah Prancis tentu saja tak berdiam diri, selain telah menangkap ribuan orang diantaranya para penjarah dengan sanksi ancaman hukuman buat para kriminal, mereka meminta sejumlah platform jual beli daring untuk mengidentifikasi serta menurunkan iklan, yang diduga terkait dengan barang jarahan tersebut.

Alert Diaspora Indonesia

Seorang pejabat pemerintah Prancis sedang memberikan penguatan mental kepada wanita pemilik toko, wajahnya sembab meratapi sumber penghidupannya yang habis dijarah “casseur”.(Foto tangkapan layar TikTok.)

Dari sudut pandang diaspora Indonesia, Beatrix yang tinggal di Paris menyoal hal penting dari kejadian tersebut, yang kemudian sampai ke Indonesia lewat opini pribadi yang tak mendasar.

“Kita harus bedakan demonstrasi dengan kerusuhan.
Penting untuk diketahui sebagian massa yang turun ke jalan tujuannya adalah demontrasi damai. Memang terlihat telah terjadi aksi penjarahan di banyak butik, toko, toserba. Juga monumen, kendaraan serta fasilitas umum yang dibakar, “ungkapnya.

“Ini murni kriminal yang memanfaatkan momentum gerakan. Karena tidak semua orang yang turun ke jalan punya tujuan yang sama.”

“Ada yang murni untuk menyampaikan aspirasi mereka, ada juga kelompok yang berniat untuk melakukan kekerasan, dan penjarahan.”

“Di Prancis dikenal dengan istilah “casseur” yakni orang-orang yang melakukan tindakan penjarahan pada saat demonstrasi.”

“Ini jadi tak adil bila kita menggambarkan kondisi demonstrasi di Prancis, dengan menyamaratakan sebagai sebuah gerakan secara general, yang bertujuan negatif.
Pada akhirnya sebuah gerakan yang menuntut sebuah perubahan, malah dinilai secara general sebagai sebuah kerusuhan.”

“Dampaknya tuntutan para pelajar, dan masyarakat akan tenggelam dengan berita-berita kerusuhan tersebut. Dan ini bisa saja dimanfaatkan secara politik untuk mendiskreditkan sebuah gerakan sosial.”

“Hal yang tak kalah krusial, aku sempat membaca komentar dari beberapa orang Indonesia bahkan ada lho dari diaspora Indonesia yang tinggal di Prancis, kejadian ini karena ulah para imigran, “cetusnya.

Prancis memiliki dua sisi wajah, glamor, dan kelam, diagungkan sebagai pusat budaya namun menyisakan ketidakadilan di berbagai aspek kehidupan. (Foto tangkapan layar TikTok.)

“Ini jelas stereotip bahwa kelompok minoritas tertentu dianggap lebih baik, lebih sukses serta terintegrasi dibandingkan dengan komunitas lainnya, “terangnya.

“Bahkan lewat stereotip ini kemudian bisa terinternalisasi dalam kelompok minoritas tersebut. Hingga pada akhirnya ada kelompok minoritas yang merasa mereka lebih baik dari kelompok minoritas lainnya.”

“Disayangkan cara berpikir seperti ini justru malah akan menciptakan hirarki di dalam kelompok minoritas itu sendiri.”

“Jadi sangat tak bijak untuk mendiskreditkan imigran dalam gerakan ini. Sangat tak adil dengan menyalahkan imigran serta menjadikannya sebagai kambing hitam.”

“Narasi yang sering digunakan untuk mendiskreditkan imigran adalah narasi yang sering dipakai oleh kelompok politik sayap kanan di Prancis. Ini akan dijadikan senjata untuk mendorong kebijakan imigrasi yang lebih ketat, “jelas Beatrix.

Dan ketika sebagai minoritas ikut menyebarkan narasi tersebut, tanpa mengecek faktanya, disadari atau tidak, kita telah ikut memperkuat narasi politik tersebut.

“Tentu saja aku tak hendak berkata bahwa imigran tidak bisa melakukan tindakan kriminal, namun patut diingat jika ada orang yang melakukan tindakan kriminal, merekalah yang harus bertanggung jawab. Bukan seluruh komunitas yang berasal dari sebuah negara maupun warna kulit.”

“Sebagai diaspora Indonesia, kita harus lebih kritis melihat narasi seperti ini. Kita boleh mengkritisi demokrasi, mengecam kekerasan maupun punya pandangan politik yang berbeda, tapi jangan sampai terlalu berisik untuk mencari kesalahan tanpa melihat akar permasalahan yang sesungguhnya, “tutupnya. (rp)

Exit mobile version