WANITAINDONESIA.CO – Popularitas di dunia maya sering kali melenakan, namun eksistensi sejati sebuah karya diuji saat ia mampu menyentuh kehidupan nyata para penikmatnya. Di era digital yang serbacepat ini, keberlanjutan sebuah kekayaan intelektual (intellectual property) lokal tidak lagi diukur dari deretan angka di layar gawai, melainkan dari kedalaman hubungan kemanusiaan yang terjalin erat dengan komunitasnya.
Perspektif tajam mengenai strategi bisnis ini dibagikan oleh Andrey Noelfry Tarigan selaku perwakilan dari korporasi Infia (INFIA Corp). Dalam sesi diskusi panel pada gelaran Festival Manajer (Manager Fest) 2026 di Jakarta, dia menyoroti tantangan besar dalam komersialisasi bagi para pelaku industri kreatif yang kerap kali terjebak pada popularitas semu di media sosial.
Menurut analisisnya, setiap kekayaan intelektual lokal yang dikelola harus memiliki strategi komersialisasi yang matang agar mampu membentuk ikatan yang kuat dengan komunitas serta melakukan monetisasi lintas platform (cross-platform monetization).
Kehadiran pengikut (followers) yang melimpah di media sosial tidak akan bermakna banyak jika tidak terjadi proses keterikatan (engagement) yang nyata dengan target pasar. Oleh karena itu, membangun jembatan interaksi langsung menjadi kunci utama agar sebuah karya berkembang menjadi sebuah ekosistem bisnis yang mandiri.
“Apa artinya pengikut dari suatu kekayaan intelektual lokal di media sosial, kalau mereka tidak bisa berinteraksi (engage) dengan target pasar (target market) secara langsung,” tegas Andrey Noelfry Tarigan di hadapan para profesional.
Bisnis kreatif pada hakikatnya adalah tentang manusia dan koneksi emosional yang tercipta di dalamnya. Dengan menggeser fokus dari sekadar mengejar angka popularitas menuju pembangunan komunitas yang tulus, para kreator lokal dapat memastikan bahwa karya mereka akan terus hidup, menghidupi, dan menginspirasi banyak orang untuk waktu yang lama. (gdi)

