Bahaya Obesitas: Perut Besar, Kurangi Volume Otak - Wanita Indonesia <
PARENTING

Bahaya Obesitas: Perut Besar, Kurangi Volume Otak

wanitaindonesia.coDi seluruh dunia, anak-anak dan remaja obesitas jumlahnya fantastis. Angkanya naik sepuluh kali lipat dalam kurun waktu 40 tahun, mencapai 200-an juta. Para peneliti mengatakan, epidemi obesitas global ini adalah hasil dari pemasaran makanan dan pembuatan kebijakan yang buruk di seluruh dunia. Bahayanya, obesitas yang menyebabkan tubuh dan perut besar ini bisa berakibat juga pada volume otak.

Obesitas pada anak merupakan faktor penting karena cenderung meningkat dan berpotensi sebagai penyebab gangguan kesehatan serta masalah psikososial. Remaja dengan obesitas cenderung merasa rendah diri, harga diri buruk, depresi, mengalami kesulitan di sekolah dan belajar dibanding remaja dengan status gizi normal.

Bagaimana tidak? Remaja kita yang sedang mencari jati diri, sedang membentuk konsep diri  dan sedang asyik-asyiknya melirik-lirik lawan jenis ini memilki berat badan berlebih. Dalam pergaulan, mereka cenderung dijauhi, mengalami perisakan (bullying), karena bergerak lamban dan dianggap tidak asyik.

Mudahnya akses makanan murah, promosi yang menarik dan aktivitas fisik yang sangat kurang mengakibatkan masyarakat kita kian menggemuk.

Apa Dampak Buruknya?
Sumber daya manusia berkualitas rendah dan beban pemerintah kian berat bila obesitas tidak diatasi.

Ini alasannya:

– Obesitas memicu berbagai penyakit degeneratif seperti darah tinggi, gangguan jantung dan diabetes hingga gagal ginjal. Pemerintah menanggung biaya pengobatan melalui BPJS kesehatan. Tingginya angka kejadian berbagai penyakit, tinggi pula biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk menyediakan fasilitas kesehatan dan pengadaan obat.

– Riset dari University of Cambridge, Inggris, menemukan, tingginya indeks massa tubuh berkaitan erat dengan rendahnya daya ingat atau kemampuan mengingat.

– Riset lain menyebut, kegemukan hingga obesitas mencederai otak di area yang berfungsi sebagai pengendalian emosi dan pengambilan keputusan.

– Riset tahun 2010 di Boston University School of Medicine melaporkan bahwa pada orang dewasa yang sehat sekalipun, ketika perutnya mulai membesar, volume otaknya kian menurun. Orang dengan berat badan berlebihan memiliki hypocampus lebih kecil dibanding orang dengan berat badan ideal atau normal.

– Penelitian yang terdahulu juga menyebut, anak atau orang kegemukan sampai obesitas mengalami penuaan 16 tahun pada sel otaknya.

Bisa dibayangkan betapa sulitnya membangun negeri ini bila masyarakatnya berpikir lamban, bergerak lamban, dan penyakitan.

Selamatkan Anak-Anak dari Obesitas
Mari kita belajar dari Amsterdam. Bagaimana kota ini mampu menurunkan angka kegemukan pada anak-anak?

Pemerintah Belanda melalui sekolah-sekolah memasyarakatkan pentingnya gaya hidup sehat dengan menjaga berat badan sampai batas normal dan ideal. Pihak sekolah tak segan-segan memberi tahu orang tua murid apabila anak mereka memiliki berat badan berlebih cenderung obesitas. Pemerintah kota Amsterdam memberikan konsultan gratis untuk konsultasi gizi, mendorong anak-anak kegemukan untuk bergabung dengan kelas gymnastic, dan memberikan pemeriksaan rutin untuk menjaga berat badan anak-anak.

Selain menyasar anak-anak, orang tua pun diberi pemahaman tentang jajanan sehat untuk anak mereka. Dampaknya sungguh luar biasa. Dari tahun 2012 hingga 2015 presentasi anak kegemukan dan obesitas dari 21% menurun ke 18.5% hingga sekarang 12%.

Hasilnya? Anak-anak yang mengalami penurunan berat badan dilaporkan oleh BBC Health – menjadi lebih gembira. Mereka menjalani pola makan sehat dan latihan fisik secara teratur ditemani orangtuanya dengan riang gembira. Anak-anak ketika diberi pemahaman untuk apa mereka melakukan itu semua, cenderung menerimanya dengan senang hati.

Menurunnya angka obesitas pada anak tentu tak  lepas dari peran para ibu. Sebagai pengambil keputusan akan berbelanja apa, dan memasak apa untuk anak-anak mereka, para ibu dilatih tentang pola makan sehat dan perlunya aktivitas fisik bagi anak mereka. Para ibu inilah yang akan menyebarkan pengetahuan mereka kepada ibu-ibu lainnya.

Untuk menjalankan program hidup sehat, pemerintah Amsterdam tidak perlu merogoh banyak biaya. Hanya 6 juta Euro per tahun. Tak perlu mengadakan tenaga tambahan. Guru-guru di sekolah-sekolah, perawat di rumah sakit, pekerja sosial, dan pemimpin komunitas diberi pelatihan tentang gaya hidup sehat, dan merekalah yang akan menjadi agen, bekerja membantu  masyarakat.

Lakukan Ini pada Anak Kita!
Ma, mari kita cintai anak-anak dan remaja kita. Caranya mudah, jangan ‘besar’-kan tubuh mereka. Bagaimana caranya?

  • Tak perlu membatasi asupan makanan, asalkan aktivitas fisik sepadan. Misalnya bermain outdoor semacam kejar-kejaran, sepak bola dan basket setidaknya 3 kali dalam seminggu. Manfaatkan halaman rumah di masa pandemi ini. Tetapi, jika kondisi sudah memungkinkan, ajak anak bermain di taman sekitar rumah.
  • Tak perlu banyak bicara soal menurunkan berat badan, orang tua harus jadi role model. Cek berat badan dan indeks massa tubuh Anda, jalani pola hidup sehat, konsumsi asupan bergizi bersama-sama anak.
  • Jangan berikan makanan sebagai hadiah pencapaian prestasi. Atau tiap kali anak rewel, Anda menyodorinya makanan apalagi jika kalorinya berlebihan.
  • Cek secara rutin tumbuh kembang putra-putri Anda tanpa menjadi control freak.
  • Ajarkan anak membeli camilan yang sehat.
Menampilkan lebih banyak

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button