
WANITAINDONESIA.CO – Di balik kesuksesan Bumi Aki yang kini dikenal sebagai salah satu restoran Sunda favorit di Bogor dan Puncak, ada sosok perempuan tangguh bernama Anisa Desiliana Resti.
Tak banyak yang tahu, perjalanan Bumi Aki bermula dari sebuah warung sederhana yang menjual kopi dan mi instan di kawasan Puncak pada era 1980-an.
Orang tua Anisa yang memiliki latar belakang perhotelan membangun usaha tersebut dari nol, dengan harapan dapat memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga. Seiring waktu, warung kecil itu berkembang menjadi rumah makan yang semakin dikenal masyarakat.
Namun perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Pada 1999, usaha keluarga mereka mengalami musibah kebakaran yang memaksa semuanya dimulai kembali dari awal.
Semangat pantang menyerah itulah yang kemudian diwariskan kepada Anisa.
Setelah menyelesaikan pendidikan dan sempat berkarier di dunia perbankan sebagai legal officer, Anisa mendapat permintaan dari sang ayah untuk ikut mengembangkan usaha keluarga. Meski awalnya ingin membangun karier profesional, ia akhirnya memilih pulang dan turut membesarkan Bumi Aki.
Keputusan itu menjadi salah satu titik penting dalam hidupnya.
Tak lama setelah bergabung, sang ayah meninggal dunia. Di tengah suasana duka, keluarga harus menghadapi tantangan besar berupa kewajiban utang bernilai miliaran rupiah dari bisnis lain yang dijalankan sang ayah.
Bagi keluarga yang saat itu belum terbiasa mengelola dana dalam jumlah sebesar itu, situasi tersebut menjadi ujian berat. Namun Anisa bersama keluarga memilih bertahan. Mereka fokus melakukan pemulihan usaha, berhemat, dan bekerja keras untuk menyelesaikan berbagai kewajiban yang ada.
Masa-masa sulit itu justru membentuk karakter kepemimpinan Anisa.
Baginya, bisnis bukan sekadar mengejar keuntungan. Sebuah usaha harus mampu memberikan manfaat bagi banyak orang, mulai dari pelanggan, karyawan, hingga masyarakat sekitar.
Filosofi tersebut juga tercermin dalam nama Bumi Aki yang berarti “rumah kakek”, sebuah tempat yang identik dengan kehangatan, kebersamaan, dan kenangan keluarga.
“Bagi saya, Bumi Aki bukan sekadar bisnis kuliner. Bumi Aki adalah ruang yang mempertemukan keluarga, cerita, dan kenangan,” ujar Anisa.

Ia percaya makanan memiliki kekuatan untuk menghubungkan manusia. Karena itu, setiap hidangan yang disajikan tidak hanya membawa cita rasa, tetapi juga nilai budaya, kehangatan, dan rasa kebersamaan yang menjadi bagian dari identitas Bumi Aki.
Menurut Anisa, kebahagiaan terbesar bukanlah melihat angka penjualan semata, melainkan menyaksikan pelanggan datang kembali bersama anak, orang tua, bahkan lintas generasi.
“Melihat pelanggan datang kembali bersama anak, orang tua, bahkan lintas generasi, memberikan makna yang jauh lebih besar daripada sekadar angka penjualan. Bumi Aki adalah tentang menjaga warisan, menciptakan pengalaman yang berkesan, dan menjadi bagian dari momen-momen penting dalam kehidupan banyak keluarga Indonesia,” katanya.
Di bawah kepemimpinannya, Bumi Aki terus berkembang melalui berbagai konsep baru, termasuk Bumi Aki Heritage dan Bumi Aki Signature. Meski demikian, fokus utamanya tetap sama, yaitu menghadirkan pengalaman terbaik bagi pelanggan.
Di tengah persaingan industri kuliner yang semakin ketat, Anisa memilih lebih fokus menjaga kualitas layanan dan kepuasan pelanggan dibanding terlalu memikirkan kompetitor.
Bagi Anisa, kesuksesan sebuah bisnis tidak hanya diukur dari besarnya perusahaan, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain.
Sebagai perempuan, ibu, sekaligus pemimpin bisnis, ia juga memiliki pesan bagi generasi muda yang sedang berjuang membangun usaha maupun mengejar mimpi.
“Jangan pernah merasa harus memilih antara menjadi pribadi yang baik, memiliki keluarga yang hangat, atau membangun karier yang besar. Kita bisa bertumbuh di ketiganya, meskipun prosesnya tidak selalu mudah,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa kesuksesan bukan tentang seberapa cepat seseorang mencapai tujuan, melainkan tentang konsistensi untuk terus belajar, bangkit dari kegagalan, dan tetap memegang teguh nilai yang diyakini.
“Jangan takut memulai dari langkah kecil, jangan takut terlihat berbeda, dan jangan berhenti belajar. Pengetahuan akan memperluas cara berpikir kita, sementara keberanian akan membawa kita melangkah lebih jauh,” tuturnya.
Di akhir pesannya, Anisa mengingatkan bahwa pencapaian terbesar dalam hidup bukan hanya tentang apa yang berhasil dibangun, tetapi juga manfaat yang dapat diberikan kepada sesama.
“Bermimpilah besar, tetapi tetap rendah hati. Karena pada akhirnya, bukan hanya apa yang kita bangun yang akan diingat orang, melainkan juga bagaimana kita memberi manfaat dan membawa nilai bagi sesama.”
Dari sebuah warung kecil di Puncak hingga menjadi nama besar di dunia kuliner Indonesia, perjalanan Bumi Aki menjadi bukti bahwa ketekunan, keberanian menghadapi tantangan, serta komitmen menjaga nilai-nilai keluarga dapat menjadi fondasi yang kuat untuk terus bertumbuh dari generasi ke generasi. (GIE)




