Sasar 204 Titik, Kebun Pangan Perempuan Didorong Jadi Pintu Masuk Kesejahteraan Keluarga

Wamen PPPA Veronica Tan (tengah belakang) saat Training of Trainers (ToT) Nasional KPP dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Keterampilan ProduksiĀ  Ketahanan Pangan Keluarga di Medan, Sumatera Utara, akhir pekan lalu. (Foto: Kemen PPPA)

WANITAINDONESIA.CO – Pemerintah terus menggencarkan implementasi program Kebun Pangan Perempuan (KPP) di tengah masyarakat. Pasalnya, program ini bukan sekadar kegiatan berkebun, melainkan pintu masuk menuju kesejahteraan keluarga melalui perempuan.

“Ini adalah program entry point kita untuk bisa mencapai kesejahteraan keluarga melalui perempuan, melalui mama-mama, melalui ibu,ā€ kata Wakil Menteri (Wamen) Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan dalam keterangannya saat Training of Trainers (ToT) Nasional KPP dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Keterampilan Produksi Ketahanan Pangan Keluarga di Medan, Sumatera Utara.

Kegiatan tersebut diikuti 74 peserta dari Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Lebih lanjut, Veronica menjelaskan, KPP dirancang sebagai program afirmatif bagi perempuan yang menyasar 204 titik di tiga wilayah itu. Langkah bagian upaya rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Hasil yang diharapkan bukan hanya kebun, tetapi juga tumbuhnya komunitas perempuan di desa yang memahami dan menggerakkan program. KPP pun akan menjadi program unggulan yang dibawa Wamen PPPA dalam kunjungannya ke berbagai daerah.

Menurut Veronica, akses perempuan terhadap lahan menjadi kunci. Akses tersebut memberi perempuan posisi tawar dan rasa percaya diri di dalam keluarga. Tujuannya bukan menempatkan perempuan di atas laki-laki, melainkan agar keduanya memiliki posisi yang setara dalam menjaga kesejahteraan keluarga.

Baca Juga :  Perkuat Ekonomi Keluarga, Wamen PPPA Pacu Implementasi Kebun Pangan Perempuan

ā€œKetika perempuan mendapatkan akses lahan, mereka bisa ikut berkomunikasi dengan pasangannya. Sehingga yang mereka bahas ini adalah bersama-sama membahas kebun mereka, bersama-sama membahas ekonomi keluarga,ā€ tutur Veronica.

Dia mengungkapkan, KPP lahir dari pembelajaran Kemen PPPA dalam menangani kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak serta dampak bencana bagi kelompok rentan.

Veronica memandang, kerja di hilir harus diiringi langkah yang lebih maju pada bagian hulu.

ā€œKalau kita harus membereskan urusan di hilir, kita juga harus lebih maju di urusan mitigasi dan urusan pemberdayaannya supaya kita bisa keluar dari lingkaran-lingkaran masalah,ā€ tegas Wamen Veronica.

Karena itu, dia menyatukan pengetahuan para akademisi, pegiat, dan pendamping yang telah lama memahami persoalan di lapangan menjadi program yang bisa langsung dijalankan.

ā€œSaya selalu yakin ketika kita tahu permasalahan kita, kita bisa mencari solusi,ā€ imbuh Veronicq.

Tak hanya itu, KPP juga diyakini menjadi wujud pelaksanaan Ruang Bersama Indonesia yang dirintis Menteri PPPA bersama Kementerian Desa dan Kementerian Dalam Negeri, agar program prioritas Presiden, program pemerintah daerah, dan program Kemen PPPA dapat sampai ke tingkat desa melalui para penggerak perempuan.

Baca Juga :  Wamen PPPA Dorong Kolaborasi Demi Kembangkan Kebun Pangan Perempuan

Wamen Veronica juga menekankan agar KPP tidak menjadi program yang datang sekali lalu selesai. Karena itu, pendampingan dan pemantauan menjadi bagian dari desain program, didukung perguruan tinggi melalui teknologi, riset, dan inovasi.

Lahan KPP diharapkan menjadi living lab, ruang untuk terus belajar bersama. Program dirancang berjalan selama tiga tahun dan, setelah kebutuhan pangan keluarga terpenuhi, diarahkan pada penguatan ekonomi perempuan melalui pengolahan hasil bumi lokal.

Kepada para peserta, Wamen PPPA Veronica berpesan agar selama pelatihan mereka menyamakan pengetahuan, hati, dan tujuan, sebelum kembali mendampingi kelompok perempuan di daerah masing-masing. Ia juga mengingatkan agar kebun pangan dikembangkan tanpa merusak lingkungan.

ā€œTanam yang kita makan, makan yang kita tanam, tapi tidak merusak alam, kembalikan kepada alam, karena alamlah yang akan menjaga kita juga,ā€ ujar Veronica menambahkan.

Sementara itu, Anggota Dewan Pembina Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda, Felix Iskandar Harjatanaya menyambut baik kolaborasi dengan Kementerian PPPA. Ia menyampaikan, hasil panen kebun universitas direncanakan kembali kepada ibu-ibu yang membutuhkan melalui jaringan bidan dari Program Studi Kebidanan, sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting sejak masa kehamilan.

Baca Juga :  Perkuat Ekonomi Keluarga, Wamen PPPA Pacu Implementasi Kebun Pangan Perempuan

Adapun, Sekretaris Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (P3AKB) Provinsi Sumatera Utara, Devi Wahyudi menyampaikan, KPP bukan sekadar kegiatan bercocok tanam, melainkan gerakan transformasi sosial ekonomi yang memadukan ketahanan pangan dan gizi keluarga, kemandirian ekonomi perempuan, serta pemberdayaan berkelanjutan.

Dalam kegiatan tersebut, turut dilakukan penandatanganan nota kesepahaman pengembangan living hub antara Universitas Satya Terra Bhinneka, Yayasan Bambu Lingkungan Lestari, dan Yayasan Akademi Amati Indonesia.

Kemudian, Wamen PPPA meninjau lokasi Kebun Pangan Perempuan di lahan ST Bhinneka, Jalan Sunggal, Pekan Sunggal, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan, Sumatera Utara. Dalam kunjungan tersebut, pihak ST Bhinneka memaparkan profil dan potensi lahan, dilanjutkan dengan penjelasan perwakilan peserta ToT mengenai hasil praktik pengembangan kebun pangan.

Pada kesempatan yang sama, turut dilaksanakan soft launching Living Lab dan KPP sebagai bagian dari penguatan kolaborasi dan keberlanjutan program pemberdayaan perempuan. (yud)