
WANITAINDONESIA.CO — Mal Ciputra Jakarta memiliki konsen tinggi dalam mendukung dunia pendidikan.
Salah satu upayanya dengan berbagi pengetahuan, dan pengalaman praktis, sekaligus membuka ruang kolaborasi yang bermanfaat antara industri dengan institusi pendidikan.
Pekan lalu, Selasa (20/10) Mal Ciputra Jakarta menerima kunjungan mahasiswa, dan dosen pendamping Universitas Ciputra Jakarta dalam program Real Business Experience (RBX).
Konsep belajar lewat interaksi langsung bersama pelaku usaha, menjadi program menarik yang disukai mahasiswa dikarenakan lekat dengan praktik metode dari pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman.
Tentunya ada banyak insight menarik yang diperoleh para mahasiswa tersebut, salah satunya karena para pemateri merupakan sdm handal, yang bernaung di bawah pelaku usaha ritel dengan rekam jejak panjang.
Sebanyak 45 mahasiswa, dan 2 dosen pendamping dari Universitas Ciputra Jakarta berkunjung ke Mal Ciputra Jakarta. Mereka melaksanakan Real Business Experience (RBX), agar para mahasiswa dapat mengenal lebih dekat operasional bisnis perbelanjaan, sekaligus mendalami tantangan nyata di industri ritel.
Mahasiswa asa bangsa ini, diajak untuk berpikir kreatif dengan menanyakan banyak hal, layaknya dalam sebuah diskusi interaktif. Tak perlu takut, sungkan karena mereka dibebaskan untuk mengeksplorasi sisik melik dunia ritel Indonesia, yang memiliki perjalanan panjang serta mampu menorehkan namanya dengan tinta emas di industri ritel Indonesia.
Kegiatan diawali dengan tur ke mal untuk memperkenalkan lingkungan, fasilitas, serta area operasional Mal Ciputra Jakarta. Salah satunya dengan menyambangi Wall of Clan di lantai 3. Di sini terhampar sejarah marga keturunan yang merujuk pada asal-usul marga Tionghoa dari suku Han.
Acara kemudian berlanjut di CL Corner, Function Room Lantai 5 dengan menyimak pemaparan company profile oleh General Manager Mal Ciputra Jakarta, Ferry Irianto.
Ferry menyampaikan, “Pengalaman langsung serta keterbukaan untuk berpikir kritis merupakan bagian penting, dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia profesional.”
“Kami berharap, program RBX yang diimplementasikan dalam kunjungan ini dapat memberikan gambaran nyata bagi mahasiswa, mengenai dinamika bisnis pusat perbelanjaan. Mulai dari memahami perilaku pengunjung, membangun hubungan dengan tenant, hingga menjaga akurasi proses bisnis.”
“Kami juga mengapresiasi antusiasme serta pertanyaan kritis yang disampaikan mahasiswa. Semoga pengalaman ini dapat memperluas wawasan mereka, mendorong pola pikir yang solutif serta dapat menjadi bekal dalam menghadapi tantangan dunia kerja ke depan, “papar Ferry.

Terobosan Inovatif
Gong acara yakni sesi diskusi studi kasus bersama para pemateri Stefanus Chandra mewakili bagian leasing, Silvia Marketing, dan bagian Finance diwakili oleh Desy Wijaya.
Ada 3 bahasan utama yang mewakili ketiga bagian tersebut yakni Strategi Meningkatkan Okupansi Penyewaan di Tengah Tantangan Ekonomi. Upaya Meningkatkan Jumlah Pengunjung, dan Penjualan Tenant Melalui Aktivitas Pemasaran, dan Penyempurnaankan Proses Pencatatan Transaksi untuk Menghasilkan Informasi Keuangan yang andal.
Dari topik bahasan Strategi Meningkatkan Okupansi, Traffic, dan Penjualan Tenant dari bagian Leasing melakukan penyesuaian tenant mix, menyelaraskan dengan kebutuhan pasar serta tren konsumen. Penting untuk membangun kemitraan dengan tenant lewat pendekatan berkelanjutan.
Jurus Marketing tak kalah jitu, mereka aktif menghadirkan beragam event menarik yang mengacu ke tren. Melakukan promosi di media sosial dengan memanfaatkan beragam platform.
Dan yang selalu dinanti program belanja berhadiah agar pengunjung khususnya CL Club mendapatkan keuntungan yang maksimal.
Tak kalah penting kolaborasi dengan komunitas yang dapat meningkatkan traffic, mendorong transaksi serta memperkuat daya saing para tenant. Pun halnya dengan program CSR rutin diselenggarakan dengan mengambil sejumlah momen penting yang melibatkan pengunjung, masyarakat, tenant, dan juga karyawan Mal Ciputra Jakarta.
Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) saat ini menyadari perubahan tren pembelanja mal di Indonesia yang telah bergeser, dari sekedar tempat transaksi jual-beli menjadi community hub, dan lifestyle.
Pengunjung lebih selektif dalam mengeluarkan uangnya saat berbelanja. Mal Ciputra Jakarta justru menganggap hal ini sebagai tantangan, dan adanya peluang besar.
Ketertarikan pengunjung dengan layanan f&b, entertainment serta value shopping dapat dimanfaatkan untuk menciptakan traffic yang akan berdampak pada tenant fesyen.
Mal Ciputra Jakarta menerapkan strategi jitu dengan sinergitas apik antar tenant, mengintegrasikan promosi lintas kategori serta menghadirkan pengalaman berbelanja yang relevan, dan kompetitif.
Upaya ini tentu tak hanya sekedar untuk mendatangkan pengunjung, melainkan mengubah traffic menjadi transaksi, dan pertumbuhan bisnis bagi seluruh tenant.
Suasana diskusi berlangsung dinamis, dengan antusiasme mahasiswa yang tinggi. Para peserta aktif mengajukan pertanyaan kritis, menggali perspektif praktisi, serta mendiskusikan berbagai pendekatan untuk menjawab tantangan bisnis yang diangkat.
Hal ini dipatik oleh beragam insight menarik dari temuan terbaru para pemateri menyikapi perubahan pengunjung mal di Indonesia.
Interaksi ini menjadi ruang pembelajaran dua arah, yang menghubungkan teori perkuliahan dengan praktik pengelolaan pusat perbelanjaan secara langsung. (Rp)




