64,5 Persen UMKM Dikelola Perempuan, Didukung Jadi Motor Industri Halal hingga Perluas Akses Pasar

Event ICWSCE 2026 yang antara lain dihadiri Menteri PPPA Arifah Fauzi di Jakarta, 14-18 Oktober 2026. (Foto: Dok KemenPPPA)

WANITAINDONESIA.CO — Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mendukung penguatan ekosistem pemberdayaan ekonomi perempuan agar perempuan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mampu menjadi penggerak inovasi dan mengambil peran strategis dalam ekosistem rantai nilai industri halal.

Penguatan tersebut perlu didukung melalui peningkatan kapasitas, pemanfaatan teknologi, akses pembiayaan, penguatan jejaring usaha, serta perluasan akses pasar nasional dan global.

Demikian dikemukakan Arifah pada Indonesia Conference on Women and Sharia Community Empowerment (ICWSCE) 2026. Kegiatan ini bagian dari rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 yang berlangsung di Jakarta, 14-18 Oktober 2026.

“Tahun 2025 ICWSCE menghubungkan perempuan Muslim pelaku usaha dengan ekosistem bisnis halal dan pasar global. Tahun ini, melalui tema “Perempuan Penggerak Inovasi Ekosistem Rantai Nilai Halal”, ICWSCE 2026 membawa kita pada tahapan berikutnya. Perempuan tidak cukup dibekali kemampuan menjalankan usaha, tetapi juga didorong menjadi penggerak inovasi, memperkuat keterhubungan antarpelaku usaha, serta mengambil peran strategis dalam setiap mata rantai industri halal, mulai produksi hingga pemasaran dan distribusi,” kata Arifah dalam keterangannya, Senin (19/10/2026).

Baca Juga :  Kementerian UMKM Bersama Pegadaian dan SRC Perluas Akses Pembiayaan UMKM Aceh

Dia menjelaskan, peningkatan langkah tersebut menunjukan pemberdayaan perempuan perlu terus diarahkan agar tidak hanya meningkatkan kemampuan berusaha, tetapi juga memperluas akses terhadap peluang ekonomi yang lebih besar. Terlebih, potensi Indonesia di pasar ekonomi syariah global cukup luas dan perlu ditingkatkan.

“Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi syariah global. Berdasarkan State of the Global Islamic Economy Report 2025/2026, Indonesia menempati peringkat keempat dunia dalam ekonomi Islam, dengan posisi pertama pada sektor modest fashion, kedua pada pariwisata ramah Muslim, dan ketiga pada makanan halal,” katanya.

Capaian itu menunjukkan peluang pasar halal terbuka luas dan Indonesia telah memiliki pijakan yang kuat untuk mengambil bagian pada sektor tersebut.

Lebih lanjut, Arifah mengapresiasi peran Bank Indonesia (BI) dalam menyelenggarakan rangkaian kegiatan ISEF 2026 yang membuka peluang bagi UMKM perempuan untuk memperluas akses pasar melalui pertemuan bisnis dengan calon pembeli domestik maupun internasional.

Baca Juga :  Yourcheese Dorong UMKM Manfaatkan Peluang Ekspor Melalui Transformasi Digital

Menurut dia, upaya itu perlu diiringi penguatan kolaborasi antara UMKM perempuan dengan dunia usaha, lembaga keuangan, marketplace, komunitas, penyedia teknologi, dan pihak pembeli. Tujuannya, agar produk unggulan perempuan Indonesia semakin berdaya saing dan mampu menjangkau pasar global.

Sementara, Deputi Gubernur Senior BI, Aida S. Budiman menyampaikan, perempuan mengelola 64,5 persen UMKM di Indonesia berdasarkan (data Kemenkop UKM tahun 2023) atau sekitar 37 juta pelaku usaha (data BPS tahun 2024), dengan nilai ekonomi mencapai 4.290 triliun rupiah pada 2024 (data KADIN tahun 2024).

Selain itu, kontribusi perempuan juga mencapai sekitar 35 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional. Capaian ini menunjukan besarnya peran perempuan dalam perekonomian sekaligus potensi penguatan peran mereka dalam rantai nilai halal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi syariah yang inklusif dan berdaya saing.

Baca Juga :  Merintis dari Rumah, UMKM Bumbu Kemasan Ini Ubah Kesulitan Menjadi Peluang Berkat Pemberdayaan BRI

“Perempuan itu mempunyai arti ekonomi yang sangat penting. Satu rupiah yang diinvestasikan oleh perempuan untuk kepentingan keluarganya, seperti pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan sehari-hari, memberikan efek berganda, baik bagi ekonomi maupun sosial,” kata Aida.

Aida menjelaskan, BI berkomitmen memperkuat pemberdayaan perempuan pelaku usaha melalui tiga pendekatan. Pertama penguatan bisnis model, kedua adalah terkait dengan fasilitas sistem pembayaran, ketiga untuk fasilitas promosi

Adapun Senior Vice President Islamic Ecosystem Bank Syariah Indonesia (BSI), Rima Dwi Permatasari mengemukakan realisasi pembiayaan mikro BSI menunjukkan peran perempuan yang sangat kuat. Jumlah rekening antara laki-laki dan perempuan seimbang sebanyak 164 ribu. Namun debitur perempuan mencapai 54 persen dari total pembiayaan atau sebesar Rp15,8 triliun. Angka ini lebih tinggi dibanding laki-laki sebesar Rp13,7 triliun.

Kemudian nilai pembiayaan rata-rata debitur perempuan juga lebih tinggi, yakni mencapai sekitar Rp97 juta per rekening, atau 16 persen di atas rata-rata debitur laki-laki sebesar Rp84 juta. (Yud)