Petani Wanita Asal Banten dan Aceh Raih Penghargaan FAO

Direktur Jenderal FAO Qu Dongyu memberikan penghargaan FAO 100 Women Heroes kepada petani dan pengolah Talas Beneng Rulyantina dari Banten, Indonesia, dalam World Food Forum di Roma, Italia, pada Kamis (15/10/2026). FAO.

WANITAINDONESIA.CO Di balik harumnya seduhan kopi khas Aceh dan gurihnya olahan talas beneng asal Banten, tersimpan kisah dedikasi luar biasa yang kini bergema di panggung Internasional. Dua petani asal Indonesia, Istiqamah dan Rulyantina, secara resmi mengukuhkan nama mereka di tingkat global setelah dianugerahi penghargaan 100 Pahlawan Perempuan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO 100 Women Heroes).

Pengakuan bergengsi ini diserahkan langsung oleh Direktur Jenderal FAO Qu Dongyu dalam rangkaian Forum Pangan Dunia (World Food Forum) di Roma, Italia, pada Kamis (15/10).

Langkah kedua petani ini menggarisbawahi betapa besarnya potensi inovasi lokal dalam menggerakkan roda ekonomi perdesaan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Istiqamah, yang menjabat sebagai sekretaris sebuah koperasi kopi di Aceh, menjadi sosok penting bagi 980 anggota yang mengelola lahan kopi secara kolektif seluas lebih dari 1.200 hektare.

Melalui wadah tersebut, ia menerapkan praktik produksi kopi berkelanjutan berbasis wanatani (agroforestry), sebuah metode penggabungan kegiatan pertanian dengan pelestarian lingkungan yang terbukti memperkuat keberlanjutan rantai pasok. Bagi Istiqamah, dorongan nyata bagi para pelaku pertanian tidak hanya berhenti pada semangat kerja semata, melainkan membutuhkan dukungan infrastruktur yang menyeluruh.

“Model pendidikan dan pemberdayaan berbasis komunitas yang menempatkan perempuan bukan sekadar sebagai tenaga pendukung, melainkan sebagai pengambil keputusan dalam rantai pasok kopi sangatlah krusial,” ungkap Istiqamah dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Jumat.

Ia menekankan bahwa para pelaku di sektor ini memerlukan akses yang jauh lebih luas terhadap pelatihan, teknologi, pembiayaan, pasar, hingga perlindungan sosial demi meningkatkan kesejahteraan secara menyeluruh.

Cerita inspiratif lainnya mengalir dari tanah Banten melalui tangan dingin Rulyantina. Berbekal komoditas talas beneng, ia menciptakan inovasi pengolahan pangan bernilai tambah tinggi dengan menerapkan pendekatan minim limbah (zero waste). Terobosan ini tak hanya memperkaya diversifikasi pangan lokal, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat sekitar. Keinginan Rulyantina sederhana namun berdampak luas, yakni menciptakan kemandirian ekonomi dari lingkungan terdekat.

“Saya ingin membantu perempuan, terutama ibu rumah tangga di lingkungan saya, untuk memperoleh penghasilan sendiri tanpa harus pergi jauh dari rumah untuk bekerja,” tutur Rulyantina.

Guna menjaga keberlanjutan dampak positif tersebut, Rulyantina berharap pemerintah daerah dapat mengoptimalkan potensi komoditas lokal melalui perluasan akses permodalan, pelatihan, teknologi, serta jaringan pasar. Pengalaman lapangan para pelaku pertanian juga dinilainya patut dipertimbangkan dalam penyusunan kebijakan agar program yang dirancang tepat sasaran.

Keberhasilan luar biasa ini menuai apresiasi tinggi dari berbagai pihak. Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Suwandi menegaskan bahwa pencapaian tersebut menjadi bukti nyata bagaimana inovasi dan penambahan nilai mampu membuka potensi besar komoditas lokal. Kementerian Pertanian berkomitmen terus meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat partisipasi aktif dalam agribisnis, serta memperluas akses teknologi demi mendukung pembangunan ekonomi perdesaan. Senada dengan hal tersebut, Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste Rajendra Aryal menyatakan bahwa penutupan kesenjangan produktivitas dan investasi pada sumber daya manusia di sektor pertanian akan memberikan manfaat besar bagi ketahanan pangan global.

Penghargaan ini terasa kian istimewa karena menjadi bagian dari peringatan Tahun Internasional Petani Perempuan 2026 serta rangkaian kegiatan menjelang Hari Pangan Sedunia pada 16 Oktober. Kedua pahlawan lokal ini berhasil menyisihkan ratusan kandidat melalui proses seleksi ketat terhadap 609 nominasi dari 131 negara anggota FAO.

Prestasi dari Aceh dan Banten ini menjadi bukti nyata bahwa keberanian untuk berinovasi dari akar rumput mampu menembus batas dunia. Kisah Istiqamah dan Rulyantina mengajarkan kita bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil di pekarangan sendiri—sesebuah pengingat hangat bahwa setiap jengkal tanah Nusantara menyimpan potensi tak terbatas yang menanti untuk diperjuangkan. (gdi)