Strategi Pink Rabbit Lens Pahami Sikap Konsumen, Perkuat Posisi di Bisnis Lensa Kontak

Pink Rabbit Lens didirikan pada 2018, berawal dari pengalaman menemukan produk softlens yang nyaman sekaligus mampu memberikan tampilan cantik.

WANITAINDONESIA.CO — Persaingan bisnis lensa kontak di era digital tidak lagi semata-mata ditentukan oleh desain, warna, maupun harga produk. Perubahan perilaku konsumen membuat brand perlu memahami bagaimana konsumen membentuk sikap, persepsi, kepercayaan, hingga akhirnya mengambil keputusan pembelian.

Hal tersebut menjadi salah satu pembelajaran penting dari Pink Rabbit Lens, brand lensa kontak yang menjadi study case dalam buku Customer Behavior in The Digital Era, Teori & Studi Kasus Perusahaan-Perusahaan Sukses. Pink Rabbit Lens dibahas dalam Bab VIII tentang Sikap Konsumen, yang mengulas arti sikap dan kepercayaan, fungsi sikap, strategi mengubah sikap konsumen, model sikap, serta pengaruh komponen kognitif, afektif, dan konatif terhadap perilaku belanja dan pembelian online.

Owner Brand Pink Rabbit Lens, Dirda Muthi Kemala, mengatakan bahwa memahami konsumen di era digital tidak cukup dilakukan melalui asumsi internal perusahaan. Menurutnya, brand perlu mendengarkan secara langsung apa yang disampaikan konsumen melalui berbagai kanal digital.

“Kami tidak menebak apa yang konsumen inginkan, kami mendengarkan langsung dari kolom komentar, DM, dan review. Karena persepsi konsumen sekarang bisa terbentuk hanya dari satu video atau satu pengalaman saja,” ujar Dirda menjelakan.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari strategi Pink Rabbit Lens dalam membaca perubahan sikap dan persepsi konsumen. Konsumen saat ini semakin kritis dalam mengevaluasi sebuah produk. Mereka tidak hanya mempertimbangkan apakah produk terlihat menarik, tetapi juga memperhatikan bagaimana brand berkomunikasi, merespons pertanyaan maupun keluhan, serta bagaimana pengalaman konsumen lain setelah menggunakan produk.

Berangkat dari Masalah Konsumen

Pink Rabbit Lens didirikan pada 2018, berawal dari pengalaman menemukan produk softlens yang nyaman sekaligus mampu memberikan tampilan cantik. Dari persoalan tersebut, Pink Rabbit kemudian mengembangkan produknya sendiri dengan mengusung pendekatan yang memadukan aspek kenyamanan dan kecantikan.

“Softlens yang nyaman adalah softlens yang mempercantik, bukan kecantikan yang mengorbankan kenyamanan. Bahkan untuk tampil sebagai karakter favoritmu sekalipun,” jelas Dirda.

Kini, Pink Rabbit Lens memiliki lebih dari 100 varian desain, warna, dan ukuran, mulai dari tampilan natural hingga bold. Brand ini juga memperluas pilihan produknya dengan meluncurkan lini softlens cosplay, merespons permintaan dari komunitas cosplayer yang membutuhkan detail visual kuat.

Dari sisi konsumen, sekitar 90% target Pink Rabbit Lens merupakan perempuan yang peduli terhadap penampilan sekaligus kesehatan mata. Mereka cenderung selektif dan melakukan riset sebelum membeli. Sementara sekitar 10% lainnya merupakan laki-laki yang menginginkan keleluasaan beraktivitas tanpa menggunakan kacamata.

Perluasan target ke komunitas cosplay juga menunjukkan bagaimana Pink Rabbit membaca kebutuhan konsumen yang semakin spesifik. Bagi brand, kebutuhan akan tampilan visual tidak boleh mengesampingkan aspek keamanan dan kenyamanan penggunaan.

Bangun Brand di Titik Temu Beauty dan Comfort

Di tengah pasar softlens yang banyak menonjolkan aspek kecantikan, Pink Rabbit Lens memilih positioning pada titik temu antara comfort dan beauty. Produk Pink Rabbit telah disetujui Kemenkes RI, diproduksi di Korea dengan teknologi mutakhir, serta menggunakan material lensa premium dengan permeabilitas oksigen yang optimal.

Strategi tersebut dirangkum dalam tiga pilar utama, yakni Care, Beauty, dan Comfort.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa sikap konsumen terhadap sebuah produk tidak hanya dibentuk oleh aspek visual. Ada komponen kognitif berupa pengetahuan dan keyakinan terhadap produk, komponen afektif berupa perasaan dan pengalaman, serta komponen konatif yang berkaitan dengan kecenderungan konsumen untuk membeli, menggunakan kembali, maupun merekomendasikan produk.

Karena itu, Pink Rabbit tidak hanya berupaya membuat konsumen tertarik, tetapi juga membangun keyakinan bahwa produk yang dipilih mampu memberikan pengalaman sesuai ekspektasi.

Review Konsumen Jadi Faktor Penting

Dalam ekosistem digital, pengalaman konsumen lain turut memainkan peran penting dalam membentuk sikap terhadap sebuah brand. Sebelum membeli, konsumen dapat mencari informasi, membandingkan produk, membaca review, hingga melihat pengalaman pengguna lain di media sosial.

Dirda menilai suara konsumen bahkan dapat memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap keputusan pembelian. Menurutnya satu review yang jujur bisa mengalahkan pengaruh sejuta anggaran iklan.

Karena itu, Pink Rabbit Lens menjadikan komentar, pesan langsung, dan review konsumen sebagai sumber masukan untuk memahami persepsi pasar. Strategi ini juga menjadi cara bagi brand untuk memastikan bahwa komunikasi yang disampaikan kepada konsumen selaras dengan pengalaman yang mereka dapatkan.

Pink Rabbit membangun kepercayaan melalui empat aspek, yakni kualitas produk yang konsisten sesuai standar kesehatan, komunikasi yang jujur, review konsumen di media sosial, serta pengalaman konsumen yang konsisten.

“Iklan membuat orang tahu. Konsistensi yang membuat orang percaya,” ujar Dirda.

Bagi Pink Rabbit, kepercayaan bukan sesuatu yang dapat dibangun hanya melalui satu kampanye pemasaran. Kepercayaan terbentuk melalui akumulasi pengalaman konsumen terhadap produk dan brand.

Tidak Defensif Menghadapi Persepsi Negatif

Strategi memahami sikap konsumen juga diuji ketika muncul persepsi negatif. Dalam kondisi tersebut, Pink Rabbit Lens memilih untuk tidak bersikap defensif, melainkan terlebih dahulu mendengarkan dan memahami akar persoalan.

Jika memang terdapat aspek yang perlu diperbaiki, brand memilih untuk mengakuinya dan melakukan perbaikan. Pendekatan tersebut dinilai lebih penting daripada sekadar memberikan klarifikasi di permukaan.

“Sebuah brand tidak jatuh karena memiliki masalah. Brand jatuh karena bagaimana ia menghadapi masalah tersebut,” jelasnya lagi.

Bagi Pink Rabbit, respons terhadap masalah merupakan bagian dari pengalaman konsumen yang pada akhirnya ikut membentuk kembali sikap dan tingkat kepercayaan mereka terhadap brand.

Dari Transaksi Menuju Hubungan

Pembelajaran lain yang diperoleh Pink Rabbit dari pemahaman mengenai perilaku konsumen adalah bahwa kepercayaan merupakan proses bertahap. Keputusan pembelian bukanlah titik akhir hubungan antara brand dan konsumen. Justru pengalaman setelah pembelian menjadi fase penting yang menentukan apakah konsumen akan kembali membeli atau merekomendasikan produk kepada orang lain.

“Konsumen tidak pernah loyal pada produk. Mereka loyal pada rasa percaya,” katanya.

Melalui strategi tersebut, Pink Rabbit Lens berupaya membangun hubungan jangka panjang dengan konsumennya. Pemahaman terhadap sikap konsumen tidak hanya digunakan untuk mendorong transaksi, tetapi menjadi dasar dalam mengembangkan produk, komunikasi, pelayanan, serta pengalaman konsumen.

Kisah Pink Rabbit Lens dalam buku Customer Behavior in The Digital Era, Teori & Studi Kasus Perusahaan-Perusahaan Sukses pada akhirnya memperlihatkan bahwa memahami perilaku konsumen digital membutuhkan kemampuan untuk mendengar, membaca persepsi, menjaga konsistensi, serta merespons pengalaman konsumen.

Bagi Pink Rabbit Lens, strategi tersebut menjadi bagian dari perjalanan membangun brand di industri lensa kontak Indonesia—dengan menggabungkan Care, Beauty, dan Comfort, sekaligus menjadikan kepercayaan konsumen sebagai fondasi hubungan jangka panjang.(Ver)

 

Baca Juga :  Jaminan Produk Halal Resmi Berlaku, Bisa Perkuat Kepercayaan Konsumen dan Produsen