
WANITAINDONESIA.CO – Edukasi mengenai kesehatan reproduksi merupakan bagian penting dalam perjalanan tumbuh kembang anak perempuan. Namun, pembicaraan mengenai perubahan tubuh, pubertas, menstruasi, hingga kesehatan organ reproduksi masih sering dianggap sebagai topik yang sulit dibicarakan secara terbuka di dalam keluarga.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, dr. Caroline Tirtajasa, Sp.O.G., SubSp.F.E.R., DABRM. meluncurkan buku ke-tiganya tentang kesehatan reproduksi berjudul “Sebelum Terlambat: Kesehatan Reproduksi yang Perlu Diajarkan Ibu kepada Anak Perempuannya”, hari ini di Gramedia Matraman-Jakarta.

Melalui buku ini, dr. Caroline mengajak para ibu untuk mulai membuka ruang percakapan sejak dini dan mengambil peran lebih aktif sebagai sumber informasi pertama bagi anak perempuan dalam memahami tubuh dan kesehatan reproduksinya. Sering kali, ibu tidak tahu harus memulai dari mana ketika berbicara tentang pubertas dan kesehatan reproduksi. Buku ini dapat menjadi jembatan antara ibu dan anak perempuan untuk memahami berbagai masalah tersebut, yang sering dianggap tabu untuk dibicarakan.
“Sebelum terlambat, kita perlu membekali anak perempuan dengan pengetahuan yang tepat mengenai tubuh dan kesehatan reproduksinya. Edukasi tidak harus selalu dimulai dari percakapan yang besar. Bisa dimulai dari pertanyaan sederhana, dari rasa ingin tahu anak, dan dari keberanian ibu untuk membuka ruang diskusi.” ujar dr. Caroline.
Judul “Sebelum Terlambat” membawa pesan sederhana namun penting; jangan menunggu sampai anak menghadapi masalah untuk mulai berbicara mengenai kesehatan reproduksi. Dengan pengetahuan yang tepat dan komunikasi yang terbuka, anak perempuan dapat tumbuh dengan pemahaman yang lebih baik mengenai tubuhnya, mampu mengenali perubahan yang dialaminya, serta mengetahui kapan harus mencari bantuan profesional.
Buku ini tidak hanya membahas aspek medis mengenai kesehatan reproduksi, tetapi juga menyoroti pentingnya komunikasi antara ibu dan anak perempuan.Di tengah derasnya arus informasi digital, anak dapat memperoleh berbagai informasi mengenai tubuh dan kesehatan dari beragam sumber. Karena itu, kehadiran orang tua sebagai pendamping yang memberikan informasi sesuai usia dan berdasarkan pengetahuan yang tepat menjadi semakin penting.
Buku ini diharapkan dapat membantu para ibu memahami apa yang perlu diketahui anak perempuan, kapan waktu yang tepat untuk membicarakannya, serta bagaimana memulai percakapan mengenai kesehatan reproduksi secara nyaman dan terbuka.
Melalui buku ini, dr. Caroline berharap semakin banyak ibu yang merasa lebih percaya diri untuk memulai percakapan tersebut. “Harapan saya, buku ini bukan hanya dibaca, tetapi menjadi awal dari percakapan antara ibu dan anak perempuan. Karena terkadang, satu percakapan yang dimulai hari ini dapat menjadi bekal penting bagi kesehatan anak di masa depan,” ungkapnya.
Peluncuran buku “Sebelum Terlambat” juga menjadi bagian dari komitmen EMC Healthcare dan upaya berkelanjutan dalam mendukung peningkatan literasi dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan perempuan, termasuk kesehatan reproduksi melalui berbagai kegiatan edukasi dan komunikasi kesehatan.
Sebagai salah satu layanan unggulan di RS EMC Pulomas, Women’s Health Center menghadirkan layanan kesehatan perempuan secara komprehensif, mulai dari aspek kesehatan reproduksi hingga kebutuhan kesehatan perempuan pada berbagai tahapan kehidupan.
Melalui dukungan terhadap peluncuran buku ke tiga dr. Caroline Tirtajasa yang merupakan bagian dari keluarga besar EMC Healthcare, RS EMC Pulomas turut mendorong pentingnya edukasi kesehatan reproduksi yang dimulai sejak dini, khususnya melalui peran ibu dalam memberikan informasi yang tepat kepada anak perempuannya.
Direktur RS EMC Pulomas, dr. Julia Sutandar menyatakan, “Kami percaya bahwa layanan kesehatan tidak hanya berbicara mengenai pengobatan, tetapi juga bagaimana kita membantu masyarakat memahami dan menjaga kesehatannya sejak dini. Buku ini menjadi salah satu bentuk kontribusi dalam meningkatkan literasi kesehatan reproduksi, khususnya bagi perempuan dan keluarga”.
Peluncuran buku diharapkan menjadi momentum untuk mendorong semakin terbukanya pembicaraan mengenai kesehatan reproduksi di lingkungan keluarga. (wib)




