Dari Gerobak Listrik Keliling Hingga Tembus Panggung Bisnis Dunia di Kanada

Kekuatan ekosistem Jago Coffee memang bertumpu pada pemberdayaan manusia. (Jago Coffee)

WANITAINDONESIA.CO — Secara kasat mata, pemandangan gerobak keliling berdaya listrik yang lalu-lalang di kawasan perkantoran hingga pemukiman mungkin terlihat seperti jualan kopi biasa. Namun, di balik kemudi para pejuang rezeki yang disapa “Jagoan” tersebut, tersembunyi sebuah lompatan bisnis bernilai triliunan rupiah yang kini berhasil menyedot perhatian dunia.

Tiga sosok di balik lini usaha Jago Coffee—Pendiri sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Yoshua Tanu, bersama Daniel Sidik dan Christopher Oentojo—resmi mengukuhkan nama Indonesia di kancah internasional. Mereka terpilih sebagai Endeavor Entrepreneur setelah sukses melewati fase pengujian amat ketat dalam International Selection Panel (ISP) Endeavor yang berlangsung di Montreal, Kanada.

Pencapaian tersebut terbilang luar biasa. Jaringan global pendukung wirausahawan berskala besar yang beroperasi di lebih dari 45 negara itu menyaring lebih dari 10.000 kandidat sepanjang 2025. Dari proses panjang tersebut, hanya 117 kandidat yang berhasil menembus tahap seleksi puncak di Kanada, hingga akhirnya 88 kandidat dinyatakan lolos—termasuk trio pendiri Jago Coffee.

Baca Juga :  Piala Dunia 2026: Kanada Mengamuk, Cukur Qatar Enam Gol

“Kami percaya masa depan kopi bukan hanya tentang membangun lebih banyak kedai, tetapi tentang bagaimana kopi bisa hadir lebih dekat dengan konsumen,” ungkap Pendiri sekaligus CEO Jago Coffee Yoshua Tanu dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Rabu.

Langkah bisnis yang dinamis ini berakar dari keyakinan bahwa tren penikmat kopi menuntut kepraktisan tinggi. Berawal pada 2019 saat desain awal dirancang, usaha ini resmi meluncur pada 2020 dengan modal awal yang teramat bersahaja: tiga peracik kopi (barista) dan dua unit prototipe armada keliling.

Kini, konsep kafe bergerak (mobile cafe) tersebut menjelma menjadi raksasa ritel modern. Kejelian menggabungkan mobilitas armada keliling ramah lingkungan dengan keandalan platform aplikasi digital terbukti ampuh memetakan rute, mengelola armada, hingga membaca ceruk permintaan pelanggan secara presisi.

Daya pikat model bisnis ini terbukti dari kucuran dana segar para penanam modal. Perusahaan tercatat berhasil menghimpun pendanaan kumulatif lebih dari 20 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp357,9 miliar. Bahkan, setelah mengantongi pendanaan Seri B sebesar 12,5 juta dolar AS atau sekitar Rp223,7 miliar pada Februari 2026, nilai estimasi perusahaan (valuasi) melonjak drastis mencapai sekitar 63,5 juta dolar AS atau sepadan dengan Rp1,14 triliun.

Baca Juga :  Piala Dunia 2026: Kanada Mengamuk, Cukur Qatar Enam Gol

Meski demikian, gedoran utama yang memikat enam panelis tingkat dunia asal AS, Inggris, Brasil, dan Kanada pada ajang pamer gagasan 17 September 2026 lalu, bukan sekadar urusan angka di atas kertas. Ada modal sosial yang dinilai jauh lebih bernilai.

“Yang meyakinkan panelis bukan semata angka pertumbuhan Jago Coffee, melainkan kombinasi tiga hal, tim founder yang tajam, visioner, dan sangat memahami bisnisnya. Model bisnis yang kuat dengan strategi dan eksekusi yang solid, serta momentum dan peluang pasar yang membuka ruang pertumbuhan yang jauh lebih besar ke depannya,” jelas Managing Director Endeavor Indonesia Monika Rudijono.

Kekuatan ekosistem Jago Coffee memang bertumpu pada pemberdayaan manusia. Melalui wadah pelatihan khusus bernama Jagoan Academy, para mitra dibekali kemampuan terukur lewat pembelajaran dalam jaringan (daring) dan uji praktik yang dapat dirampungkan dalam kurun waktu singkat, kurang dari 24 jam.

Baca Juga :  Piala Dunia 2026: Kanada Mengamuk, Cukur Qatar Enam Gol

“Yang kami bangun bukan hanya armada kafe bergerak, tetapi budaya wirausaha mikro generasi baru, para Jagoan,” tegas Yoshua.

Keberhasilan menembus jaringan Endeavor kini membuka gerbang emas bagi Jago Coffee untuk mengakses jaringan pembimbing (mentor), sesama pelaku usaha, hingga skema pendanaan bersama (Endeavor Catalyst) di tingkat global.

Kisah sukses gerobak listrik bernilai triliunan rupiah ini menjadi bukti nyata bahwa keberanian merobohkan tembok cara lama mampu meretas jalan menuju panggung dunia. Kisah ini sekaligus menyelipkan pesan mendalam bagi siapa saja yang sedang meniti garis awal bisnis: ide paling sederhana sekalipun, jika digarap dengan ketajaman visi, ketekunan ekosistem, dan keandalan teknologi, sanggup menjelma menjadi kekuatan ekonomi baru yang diperhitungkan mata dunia. (Gdi)