Mas Ruh Cerita Kucing, Jokowi & Batik Penutup Jenazah “Slobog-Parang”

Putra bungsu Sang Fajar, Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, Maestro seni flamboyan bermata indah, tinggalkan legacy tak ternilai bagi Indonesia. (Foto: Dokumentasi Perpustakaan Nasional)

WANITAINDONESIA.CO — Maestro Seni dengan sorot mata indah, Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, putra bungsu Sang Fajar, Ir. Soekarno dengan Fatmawati telah kembali keharibaan ibu pertiwi.

Ada banyak memoar indah nan inspiratif, yang kembali dihidupkan paska kepergiannya.
Mas Ruh panggilan akrab circlenya merupakan pria flamboyan berhati lembut. Penuh perhatian, cinta kasih serta kepedulian ihwal sesama serta seni budaya Indonesia.

Darah seni mas Ruh mengalir kuat dari kedua orang tuanya, Soekarno, dan Fatmawati. Soekarno memiliki selera seni tinggi, pintar melukis, gemar mengoleksi lukisan para maestro serta benda seni berkualitas tinggi. Bagi mas Ruh seni, dan budaya
menjadi nafas di perjalanan hidupnya.

Bungsu dari lima bersaudara itu pernah bercerita bagaimana sejak kecil saat berusia 5 tahun, dia serta kakak-kakaknya telah digembleng untuk belajar menari beragam tarian seperti Jawa, Sumatera maupun Bali.

Orang tuanya menjadikan kesenian sebagai bagian penting dalam pendidikan keluarga.
Pengalaman berharga tersebut telah membentuk pemahamannya, bahwa seni memiliki fungsi luhur dalam perkembangan jiwa manusia.

Upaya kedua orang tuanya itu bernilai strategis karena mengenalkan kekayaan tradisi serta menanamkan karakter nasionalisme dapat dilakukan sejak dini kepada anak-anak.

Saat berlatih menari, latihan dilakukan profesional karena kedua orang tuanya menginginkan Guruh bersama saudaranya mahir menari layaknya penari profesional.

Bak dirahmati oleh semesta dari putra-putri Soekarno -Fatmawati seperti Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati, hanya Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra yang konsisten terus bertumbuh, hingga akhir hayatnya menjalani lakon hidup sebagai seniman. Sosok mas Ruh menjadi keturunan Putra Fajar yang menutup aliran darah seniman di keluarganya.

Walau sebagai seniman, pemeran Sunan Muria di Film Walisongo (1985) pernah tercatat sebagai Anggota DPR RI Fraksi PDIP Perjuangan, dan dikenal sebagai kader senior partai PDIP Perjuangan.

Passion sebagai seniman serta berkat didikan orang tuanya, mas Ruh dikenal oleh masyarakat sebagai pria dengan kehalusan budi serta kelembutan hati.

Baca Juga :  Nasabah Mekaar Ini Dipuji Jokowi Karena Disiplin Bayar Angsuran

Kepribadian yang membuat circlenya respek tersebut, dituangkan Guruh lewat koreografi tari nan indah. Aransemen musik, lirik lagu megah menyentuh jiwa.

Pembaca Wanitaindonesia.co senior pasti terpesona dengan lagu “Janger 1897 Saka” yang direkam bersama Guruh Gipsy di tahun 1977.

Menyala pada masanya lewat pertunjukan koreografi, dari pola dasar tari Janger Bali. Para penari pria & wanita membentuk formasi barisan yang masif serta ekspresif.

3 Persona putra-putri terbaik Ibu Pertiwi di satu generasi, mas Ruh kecil diapit orang tuanya Fatmawati, dan Soekarno. (Foto: Dokumentasi Perpustakaan Nasional)

Disentil Soekarno Ceburkan Kucing ke Kolam

Selain mencintai seni-budaya, Mas Ruh diajar oleh Soekarno untuk mencintai sesama mahluk seperti hewan. “Waktu kecil saya kerap terpikat dengan tingkah polah kucing. Bisa melompat, naik ke pohon tinggi tanpa cidera serta banyak hal-hal unik lainnya yang menjadi kemahiran hewan lucu itu.”

“Satu yang membuat saya penasaran, mampukah kucing berenang? Didorong oleh rasa ingin tahu yang tinggi, saya ambil seekor kucing lalu menceburkannya ke kolam istana. Namun apa daya, waktu itu bapak melihat ulah saya tersebut. Beliau buru-buru mendatangi saya, lalu menanyakan kenapa saya tega melakukan hal tersebut?

“Spontan saya menjelaskan bahwa saya tak bermaksud untuk mencelakai hewan lucu itu. Tapi saya hanya mencari tahu apakah kucing bisa berenang?”

“Bapak kemudian menasihati saya bahwa hal tersebut tak elok untuk dilakukan. Kalau betul ingin mencari tahu, belajarlah dengan membaca buku! Mahluk hidup seperti hewan apapun wujudnya tak layak untuk disakiti, karena mereka adalah ciptaan Allah. “Saya hanya bisa terdiam, dan menyesal.”

“Saya jadi terkenang semasa hidup, alm.bapak tak pernah sekalipun menyakiti hewan, walau itu sangat mengganggu seperti nyamuk. Kalau sedang digigit nyamuk, bapak tak pernah menepuknya. Beliau hanya mengusir agar tak mengganggu.”

“Pun halnya dengan semut, pantang untuk disakiti. Malah yang saya tahu bapak kerap menghindar, mencari jalan lain agar tak menginjak semut, “jelas Guruh.

Baca Juga :  Presiden Prabowo Sampaikan Doa bagi Guruh Soekarnoputra Sang Maestro Seni

Cerita hubungan dengan sesama manusia, Guruh juga menyerap ajaran dari kedua orang tuanya. Ketika ditanya ihwal huru-hara partai PDIP dengan mantan Presiden Jokowi, Mas Ruh menjawab lugas bahwa dia tak merasa terzalimi oleh sikap Jokowi itu.

“Saya hanya heran kok bisa ujug-ujug Pak Jokowi sikapnya berubah seperti itu.” Guruh menegaskan dia tak mau memikirkan peristiwa tersebut secara mendalam, untuk apa kilahnya.

Ihwal sikapnya ini, mas Ruh memaknai dengan berfilosofi, “Bila seseorang telah memiliki penerangan spiritual yang tinggi, maka di hati orang itu sudah tidak ada lagi perasaan sakit hati, benci, marah serta beragam sifat buruk lainnya.”

“Bagi saya kejadian tersebut adalah bagian dari takdir, yang sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Menurut saya semuanya sudah selesai, tak perlu lagi untuk dibahas.”

Batik tulis klasik motif Slobog , dan Parang warisan Ibunda Fatmawati, tanda alam yang telah dipersiapkan mas Ruh sebelum ajal menjemputnya. (Foto : Dokumentasi PDIP Perjuangan)

Menguri-uri Budaya Makna Batik untuk Kematian

Salah seorang sejawat menceritakan ke Wanitaindonesia.co,mas Ruh memiliki kepribadian serta jiwa yang lembut. Beliau juga ramah, dan tak pernah bersikap bossy kepada orang-orang yang bekerja dengannya.

“Waktu singgah ke rumahnya di Sriwijaya, mas Ruh terlihat sedang sibuk menjemur kain batik tulis miliknya dibantu asisten. Tak seperti orang kebanyakan, mas Ruh melakukan pekerjaan itu dengan penuh penghormatan.”

Batik merupakan karya seni yang merefleksikan identitas, spiritualitas serta sejarah bangsa. Di tangan terampil para pengrajin sepuh, batik klasik seperti yang diwariskan ibundanya Fatmawati, diproduksi lewat sejumlah ritual.

Sebelum membatik mereka melakukan ritual bersih diri seperti wudhu maupun mandi.
Berpuasa, dan berdoa untuk membersihkan jiwa, dan selalu fokus saat bekerja. Juga melakukan meditasi. Proses ini dilakukan agar kain batik tulis memiliki energi baik.

Agar tak rusak, batik tulis harus ditreatment apik agar dapat bertahan lama. Kain batik tulis yang selesai digunakan harus diangin-anginkan (digantung tanpa terkena sinar matahari).

Baca Juga :  Debby Sahertian Kenang Momen Bersama Guruh Soekarnoputra: “Sekarang Mas Guruh Sudah Tidak Sakit Lagi”

Batik tak boleh dijemur karena dikhawatirkan warna alaminya akan berangsur pudar. Cukup diangin-anginkan setelah digunakan agar keringat, debu serta kotoran yang menempel di kain hilang.

Jika ditanya kepada orang-orang terdekatnya ihwal tampilan paripurna
Wanita Indonesia, mas Ruh menginginkan agar semua kaum perempuan mahir mematut diri. Lekat dengan kepribadian, penampilan anggun, sopan serta menyelaraskan dengan tradisi budaya yang terpancar dari keberadaan mereka.

Mas Ruh akan merasa bungah, melihat dengan sorot mata berbinar manakala tamu-tamu istimewanya tersebut, membusanai diri dengan kebaya lengkap.

Sebagai persona dengan tingkat spiritual tinggi, mas Ruh sadar manakala akan tutup usia. Semesta memberi tanda, sebelum wafat, mas Ruh telah mempersiapkan, dan memilih dua lembar kain batik tulis, warisan ibundanya Fatmawati.

Tahukah pembaca Wanitaindonesia.co motif batik yang dipilihnya? Batik tulis klasik bermotif Slobog. Motif Slobog memiliki arti melapangkan. Dimaknai sebagai upaya untuk melapangkan jalan arwah ke alam barzah. Dalam tradisi Jawa, motif Slobog digunakan sebagai penutup jenazah.

Batik motif Slobog terlihat khas dari motif hias segitiga tumpal, yang dibuat berbentuk belah ketupat atau bintang. Warna-warna gelap serta warna bumi seperti warna cokelat tua, hitam, dan putih menjadi ciri khas lainnya.

Warna itu perlambang seperti cokelat tua tentang kebijaksanaan, ketabahan serta kedekatan manusia dengan tanah. Putih identik dengan kesucian serta ketulusan hati dalam menghantarkan ruh kepada Tuhan YME.

Sedangkan kain kedua adalah batik motif Parang. Khas dari bentuk pola hiasnya yang menyerupai hurup S, yang dibuat berderet, dan miring. Batik Parang memiliki makna mendalam tentang semangat yang tak pernah padam, kekuasaan juga keteguhan hati.

“Selamat jalan mas Ruh. Pergilah kembali ke pelukan Rabbmu.” (*)