Dari Tenun Hingga Karhutla: Bakul Budaya Nusantara Rayakan 4 Tahun dengan Merawat Kalimantan

Bincang-bincang Budaya: Berkenalan dengan Tenun Kalimantan, diadakan di FIB UI, Minggu, 13 September 2026, menghadirkan dua desainer sekaligus pelestari tenun, Dian Oerip (kiri) dan Wilsen Willim (tengah), didampingi moderator Heni Wiradimaja, dalam rangka Hari Tenun Nasional 2026 dan HUT ke-4 Bakul Budaya Nusantara

WANITAINDONESIA.CO — Di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kalimantan, Yayasan Bakul Budaya Nusantara (BBN) memilih merayakan hari jadinya yang ke-4 dengan cara berbeda: merawat ingatan tentang Kalimantan. Perayaan HUT ke-4 BBN yang dirangkai dengan Hari Tenun Nasional 2026 digelar pada 12-13 September 2026 di Kampus Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UI, Depok, dengan tema “Kolaborasi dalam Aksi: Berkenalan dengan Tenun dan Budaya Kalimantan”.

Perayaan yang didukung Kementerian Kebudayaan RI dan Badan Penghubung Provinsi Kalimantan Selatan ini menjadi penanda empat tahun perjalanan BBN sejak lahir pada 3 September 2022. Bagi BBN, Kalimantan bukan sekadar tema, melainkan ruang hidup tempat tenun, tari, dan musik tumbuh.

“Bakul Budaya Nusantara menyadari betul pentingnya berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam menjalankan misi pemajuan kebudayaan nasional. Tahun ini kami mengangkat budaya Kalimantan, mulai dari masyarakat Singkawang yang toleran, permainan tradisional yang edukatif, seni tari dan musik yang kaya, hingga wastranya yang memukau, termasuk tenunnya,” tutur Ketua Umum Yayasan Bakul Budaya Nusantara, Dewi Fajar Marhaeni.

Baca Juga :  Dampak Karhutla Semakin Memburuk Kualitas Udara, Dompet Dhuafa Gencar Bagikan Masker

Kemeriahan hari pertama, Sabtu (12/9), dibuka dengan workshop Tari Japin Rantauan Kalimantan Selatan yang diikuti 100 peserta. Tari yang berpola langkah empat ini dipandu oleh Sri Hermina bersama Badan Penghubung Kalsel. Workshop dilanjutkan dengan Tari Manasai Kalimantan Tengah oleh guru tari BBN, Sufiania Naya Subrata. Di hari yang sama, digelar pameran “Keliling Kalimantan”, bazar kuliner Nusantara, hingga Beauty Class. Seluruh peserta juga diajak berdonasi untuk korban karhutla Kalimantan.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan dan Pembinaan Kebudayaan Kemenbud RI, Judi Wahjudin, yang hadir mewakili Dirjen, mengapresiasi langkah BBN. Menurutnya, ruang edukasi budaya yang dekat dengan masyarakat seperti ini menjadi kunci pelestarian kebudayaan di tengah gempuran budaya populer.

Tanisha, anggota termuda Bakul Budaya Nusantara, menerima sepiring nasi Astakona khas Banjar, Kalimantan Selatan, dari Ketua Umum Bakul Budaya Nusantara, Dewi Fajar Marhaeni, di FIB UI, Minggu, 13 September 2026 dalam rangka HUT ke-4 Bakul Budaya Nusantara

Puncak acara pada Minggu (13/9) di Auditorium Soe Hok Gie dipenuhi warna-warni wastra Nusantara. Panggung dibuka dengan Tari Radap Rahayu sebagai tari penghormatan tamu, dilanjutkan dengan Bincang Budaya “Berkenalan dengan Tenun Kalimantan”. Dua pelestari tenun, Dian Oerip dan Wilsen Willim, hadir sebagai narasumber.

Baca Juga :  Karhutla Ancam Pemukiman, Dompet Dhuafa Evakuasi Ternak dan Padamkan Api

“Kalimantan sangat kaya dengan tenun,” ujar Dian Oerip. Perempuan yang telah menjelajahi sentra tenun Iban di Kalimantan Barat hingga ulap doyo di Kalimantan Timur itu bercerita, tenun bukan sekadar kain. Di balik selembar tenun Dayak Iban dari Danau Sentarum dengan teknik sungkit yang rumit, ada kehidupan perempuan penenun yang menggantungkan biaya hidup dan sekolah anak dari hasil tenun.

Senada, Wilsen Willim yang didukung Cita Tenun Indonesia, melihat tenun sebagai warisan yang harus hidup di pasar masa kini. “Memperkenalkan tenun Kalimantan kepada masyarakat yang lebih luas dan generasi masa kini menjadi salah satu cara untuk membuat tenun tetap dikenal dan diminati,” katanya. Ia memilih motif geometris non-sakral tenun Iban untuk dikembangkan dalam karya fesyen agar relevan untuk pasar dalam dan luar negeri.

Baca Juga :  Potensi Wastra Maluku, Kemenperin dan Dekranas Kembangkan IKM Tenun di Ambon

Pernyataan para pelestari ini diperkuat oleh Dekan FIB UI sekaligus Pengawas BBN, Dr. Untung Yuwono. Menurutnya, tenun adalah teks budaya yang merekam hubungan manusia dengan alam. Karena itu, ketika hutan Kalimantan terbakar, yang hilang bukan hanya pohon, tetapi juga pengetahuan.

Pesan itu terasa kuat di sesi pementasan. Tari Bhawi, Tari Enggang, Tari Dadas dari Dayak Ma’anyan, hingga alunan Sape Beruaan dari Sanggar Slaras Budaya, semuanya lahir dari kedekatan masyarakat dengan hutan dan sungai. Pementasan ditutup dengan prosesi syukuran yang berbeda dari tahun sebelumnya. Jika biasanya BBN mengeruk nasi tumpeng, kali ini Nasi Astakona khas Banjar yang disajikan, melambangkan unsur kehidupan di tanah, air, dan udara.

Bagi BBN, perayaan ini menjadi pengingat bahwa merawat kebudayaan tidak bisa dipisahkan dari merawat alam yang melahirkannya. (Ver)