Berburu Pengalaman Unik Lewat Peta Baru Wisata Belanja

Busana wanita masih menjadi pilihan belanja bagi wisatawan. gdi

WANITAINDONESIA.CO – Menjawab tren pergeseran perilaku pelancong dunia, pariwisata Indonesia kini sedang bersiap merombak wajah lewat peta jalan baru. Pemerintah tengah merancang pola perjalanan khusus untuk segmen wisata belanja. Langkah strategis ini diambil demi memperkuat daya tarik destinasi sekaligus mendongkrak pengeluaran wisatawan mancanegara selama menikmati masa liburan mereka di tanah air.

Namun, merancang peta belanja tidak bisa sekadar menyediakan pusat pertokoan. Ikatan Cendikiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) mengingatkan bahwa pemetaan wisata belanja yang ideal harus dikaji mendalam berdasarkan variasi minat, hobi, hingga kebutuhan personal para pelancong. Sejiwa dengan dinamika global, kiblat pariwisata dunia telah bergeser dari pariwisata berkualitas (quality tourism) menuju pariwisata yang disesuaikan dengan kebutuhan pribadi (customized tourism). Paradigma baru ini bermuara pada ceruk pasar yang lebih spesifik, yakni pariwisata minat khusus (special interest tourism).

Ketua Umum ICPI, Azril Azhari, menjelaskan bahwa pelancong modern tidak lagi mencari liburan massal yang seragam. Mereka memburu pengalaman personal yang imersif (bersifat membawa suasana seperti nyata) dan menyatu dengan kearifan lokal. Dorongan personal inilah yang melahirkan segmen tematik, mulai dari wisata kesehatan, lansia, olahraga, alam, hingga wisata belanja.

Baca Juga :  Meriahkan Nataru Dengan Pesta BBQ @jayakartacisarua

“Jadi kalau dibilang wisata belanja, wisatawan lalu tidak pergi ke gunung. Pariwisata minat khusus itu spesial, dia spesifik pada hobi dan gairah (passion), tidak umum. Dampaknya, wisatawan akan tinggal lebih lama di suatu tempat untuk memperdalam pengalaman mereka,” ujar Azril Azhari.

Azril menambahkan, karakter wisata belanja sangat luas karena mengawinkan unsur busana (fashion), kuliner, hingga seni kriya. Setiap negara asal wisatawan membawa pola perilaku yang unik. Pelancong asal Malaysia, misalnya, sangat gemar memadati kawasan Tanah Abang atau Thamrin City demi berburu baju koko dan kain sarung aneka motif. Pemandangan ini kontras dengan wisatawan Singapura yang memanfaatkan momentum melemahnya nilai tukar rupiah untuk memborong kebutuhan bulanan di Kota Batam, bahkan rela membeli koper baru di sana hanya untuk menampung barang belanjaan sebelum langsung bertolak pulang.

Perilaku belanja tersebut tentu berbeda jauh dengan turis asal Australia. Mereka tipikal pelancong yang rela menetap dalam waktu lama demi menantang ombak di Kepulauan Mentawai. Untuk urusan lidah pun berbeda; pelancong rumpun Melayu seperti Singapura dan Malaysia cenderung memburu kuliner mi dengan cita rasa rempah autentik yang salah satunya dapat ditemukan di Bangka.

Baca Juga :  Swiss Belresort Dago Sajikan Magical Christmas Drinks and Christmas Hampers Di Momen Nataru

Melihat keberagaman ini, ICPI mendesak pemerintah untuk menerapkan zonasi wilayah guna mengevaluasi dampak pengganda (multiplier effect) bagi sektor pariwisata dan ekonomi lokal. Semua lini harus siap, mulai dari kesiapan aspek keramahtamahan (hospitality) seperti akomodasi, penginapan rakyat (homestay), bisnis makanan dan minuman, hingga sektor hiburan.

Inovasi di sektor hiburan bahkan bisa dikembangkan menjadi konsep gabungan antara ritel dan hiburan (retailtainment). Azril mencontohkan, pengelola destinasi bisa menyediakan koridor jalanan yang estetik untuk menggelar peragaan busana (fashion week). Ketika pengunjung tertarik, mereka bisa langsung membeli pakaian tersebut di pusat perbelanjaan terdekat dengan stimulus potongan harga.

Di sisi lain, infrastruktur pendukung juga wajib berbenah. Hambatan logistik seperti keterbatasan kapasitas pesawat domestik dalam mengangkut papan selancar milik turis Australia harus segera dicarikan solusi. Indonesia perlu meniru kesuksesan Thailand yang jeli mengemas daya tarik destinasinya, mulai dari pertunjukan budaya kolosal, paket berburu jajanan kaki lima (street food), hingga sensasi meditasi yoga di tepi pantai.

Baca Juga :  Yuk Berlibur Ke Pantai Tanjung Aan

Pada akhirnya, kesuksesan pola baru ini harus terukur secara matematis. Pemerintah perlu menghitung sektor mana yang memberikan kontribusi paling kuat terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Jika sumbangsihnya telah melampaui angka 15 persen, barulah program wisata belanja ini sah menyandang predikat sebagai sektor unggulan nasional.

Rencana besar ini sejalan dengan komitmen Kementerian Pariwisata. Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, menegaskan bahwa pemerintah bersama pelaku industri ritel kini sedang giat menyusun cetak biru pola perjalanan belanja tersebut. Sinergi ini diharapkan mampu mempermudah langkah para pelancong dalam menemukan pusat-pusat perbelanjaan ikonik dan produk unggulan khas dari setiap jengkal daerah di Indonesia.

Melalui strategi yang presisi dan pemahaman mendalam terhadap psikologi pelancong, wisata belanja bukan lagi sekadar aktivitas sampingan, melainkan magnet utama yang siap menggerakkan roda ekonomi bangsa ke arah yang lebih tinggi. (Gdi)