Mengawal Napas Kehidupan di Balik Kilau Debu Batu Bara

Wajah industri pertambangan tak lagi sekadar bicara tentang pundi-pundi rupiah yang digali dari perut bumi. Di balik deru mesin dan kepulan debu, ada napas kehidupan masyarakat serta masa depan lingkungan yang dipertaruhkan.

WANITAINDONESIA.CO – Wajah industri pertambangan tak lagi sekadar bicara tentang pundi-pundi rupiah yang digali dari perut bumi. Di balik deru mesin dan kepulan debu, ada napas kehidupan masyarakat serta masa depan lingkungan yang dipertaruhkan. Itulah mengapa praktik Environmental, Social, and Governance (ESG) kini menjadi ruh baru yang tak boleh sekadar menjadi pajangan di atas kertas laporan tahunan.

Dalam sebuah diskusi hangat bertajuk “Mengawal ESG dan Transisi Energi di Sektor Pertambangan” yang diinisiasi Yayasan Bicara Data Indonesia (YBDI) dan Katadata Green di Jakarta, Rabu (13/5), terungkap bahwa dekarbonisasi bukan hanya soal angka emisi di area tambang. Perjalanan sebuah bongkah batu bara harus dipantau sejak ia digali, diangkut, hingga sisa limbahnya berakhir.

Jessica Hanafi, Ahli Life Cycle Expert Panel KESGI, mengingatkan agar perusahaan tidak menutup mata pada siklus hidup industri yang panjang. Menurutnya, sering kali perusahaan hanya terjebak pada angka listrik atau emisi langsung. Padahal, dampak nyata sering kali tersembunyi pada jejak transportasi dan pengelolaan limbah B3 yang dihasilkan sepanjang rantai pasok.

Baca Juga :  Pencapaian Emas Penanda Sejarah Rawat Bumi dan Kehidupan

Namun, ESG bukan hanya soal “hijau” atau “bersih” secara lingkungan. Ada wajah-wajah manusia yang kerap terlupakan dalam narasi besar keberlanjutan. Isu kesehatan, seperti gangguan pernapasan akibat paparan debu tambang yang menahun, masih menjadi rapor merah yang jarang dibahas secara terbuka.

“Kecelakaan kerja mungkin sudah mulai ditekan, tapi isu seperti gangguan pernapasan akibat paparan debu tambang masih jarang dibahas secara serius dalam laporan ESG,” ungkap Jessica.

Ia menegaskan bahwa transisi energi jangan sampai meninggalkan luka sosial, di mana wilayah tambang berubah menjadi “kota mati” yang ditinggalkan tanpa harapan begitu industri berhenti beroperasi.

Senada dengan itu, Victoria Fanggidae, Direktur Eksekutif The PRAKARSA, menyoroti adanya jurang antara janji manis di atas kertas dengan realita di lapangan. Baginya, komitmen ESG harus memiliki wujud yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar. Ia mendorong para jurnalis untuk tidak hanya terpaku pada laporan keberlanjutan yang rapi, tetapi juga berani turun ke lapangan melakukan verifikasi.

Baca Juga :  Pencapaian Emas Penanda Sejarah Rawat Bumi dan Kehidupan

“ESG yang baik itu bisa diukur, diverifikasi, dan dirasakan. Kalau tidak ada semuanya, ya itu hanya narasi,” tegas Victoria.

Ia menekankan pentingnya mengecek apakah mekanisme keluhan masyarakat benar-benar berfungsi atau sekadar menjadi prosedur formalitas belaka.Tantangan ini kian pelik karena kesiapan antarperusahaan yang belum merata.

Lusye Marthalia, Program Manager for Climate & Circular Economy IBCSD, memotret kontras antara pemain besar dan kecil. Jika perusahaan raksasa sudah mulai berbenah karena tuntutan pasar global, perusahaan kecil masih tertatih-tatih bahkan hanya untuk menghitung jejak karbon mereka sendiri.

Kuncinya, menurut Lusye, ada pada kemauan para petinggi perusahaan untuk memahami bahwa ESG adalah investasi masa depan, bukan sekadar beban regulasi.

Baca Juga :  Pencapaian Emas Penanda Sejarah Rawat Bumi dan Kehidupan

Agar data-data yang rumit ini lebih “bercerita” dan mudah dipahami publik, Katadata Green memperkenalkan dashboard KESGI.

C. Bregas Pranoto, Communication Strategist Katadata Green, menjelaskan bahwa alat ini hadir untuk menyatukan potongan-potongan data yang selama ini tercecer di berbagai laporan dengan standar yang berbeda-beda. Melalui visualisasi yang apik, publik kini bisa melihat apakah sebuah perusahaan benar-benar tumbuh secara berkelanjutan atau justru mengalami kemunduran di aspek tertentu.

Pada akhirnya, mengawal ESG adalah tentang menjaga keseimbangan. Saat eksploitasi alam dilakukan, ada tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa mereka yang tinggal di lingkar tambang tetap bisa menghirup udara segar dan memiliki masa depan yang cerah, bahkan setelah bara terakhir di sana padam. Sebuah komitmen yang menuntut pembuktian nyata, bukan sekadar deretan kata tanpa makna. (gdi)