34 Juta Lansia di Indonesia Hadapi Ancaman Luka Dekubitus, Dokter Bagikan 5 Cara Pencegahannya

Ilustrasi perawatan lansia. (Foto: Pexels/ilayda 0700)

WANITAINDONESIA.CO – Merawat orang tua yang memasuki usia lanjut sering kali dimulai dari hal-hal sederhana. Menyiapkan makanan, membantu berjalan, mengingatkan minum obat, hingga menemani mereka beristirahat. Namun, ada satu persoalan kesehatan yang masih sering luput dari perhatian keluarga, yaitu luka dekubitus atau luka tekan.

Padahal, luka yang muncul akibat tekanan berkepanjangan pada kulit ini bukan sekadar masalah kulit. Bila terlambat ditangani, luka dekubitus dapat berkembang menjadi infeksi, memperpanjang masa perawatan, hingga menurunkan kualitas hidup lansia.

Isu tersebut menjadi semakin penting ketika Indonesia mulai memasuki fase ageing population.

Berdasarkan data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk berusia 60 tahun ke atas diperkirakan mencapai 34,07 juta jiwa, atau sekitar 12 persen dari total penduduk Indonesia.

Artinya, semakin banyak keluarga Indonesia yang kini memiliki anggota keluarga lanjut usia yang membutuhkan perhatian lebih, termasuk dalam menjaga kesehatan kulit mereka.

Persoalan lain yang tak kalah serius adalah masih tingginya angka kejadian luka dekubitus. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan prevalensi luka dekubitus di Indonesia masih berada di atas 30 persen, menjadikannya salah satu tantangan dalam pelayanan kesehatan lansia.

Mengapa Lansia Lebih Mudah Mengalami Luka Dekubitus?

Menurut dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika Dr. dr. Windy Keumala Budianti, Sp.DVE., Subsp.DAI., FINSDV., FAADV, proses penuaan membuat kulit menjadi lebih rentan mengalami kerusakan.

Baca Juga :  Kapan Sih Perlu Ke Dokter Saat Ada Dalam Darah ASI?

“Lansia berisiko terkena luka dekubitus karena tekanan konstan akibat tubuh berada dalam satu posisi statis terlalu lama. Selain itu, paparan urin maupun kotoran yang terjadi berulang menyebabkan kelembapan meningkat, pH kulit berubah, dan fungsi pelindung kulit menjadi terganggu,” jelasnya.

Akibatnya, kulit menjadi lebih mudah mengalami maserasi, iritasi, erosi, hingga rentan terhadap gesekan maupun pergeseran ketika lansia dipindahkan dari tempat tidur atau kursi roda.

Karena itu, pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan mengobati luka yang sudah terbentuk.

Ilustrasi merawat lansia. (Foto: Pexels/Jsme Mila)

5 Cara Mencegah Luka Dekubitus di Rumah

Merawat lansia di rumah tidak selalu membutuhkan alat kesehatan yang rumit. Menurut Ns. Eka Widiati, M.Kep., Sp.Kep.An., ETN, ada lima langkah sederhana yang bisa dilakukan keluarga maupun caregiver.

  1. Ubah posisi tubuh setiap dua jam

Mengubah posisi tidur secara berkala membantu mengurangi tekanan pada bagian tubuh yang menjadi tumpuan, seperti punggung, pinggul, tumit, dan siku.

  1. Lakukan pemeriksaan kulit setiap hari

Perhatikan apakah terdapat kemerahan yang tidak hilang, lecet, atau perubahan warna kulit. Deteksi dini dapat mencegah luka berkembang lebih parah.

  1. Jangan memijat area yang memerah

Masih banyak orang menganggap pijatan dapat melancarkan sirkulasi darah. Padahal pada area yang mulai mengalami tekanan, tindakan tersebut justru dapat memperburuk kerusakan jaringan.

  1. Pastikan tempat tidur tetap bersih dan kering
Baca Juga :  Triadi Wijaya Dokter Spesialis Bedah dan Traumatologi Ajarkan Wanita Indonesia Lawan Osteoporosis

Sprei yang kusut maupun lembap meningkatkan risiko gesekan pada kulit. Karena itu, tempat tidur perlu dijaga tetap bersih, rapi, dan kering.

  1. Gunakan popok dewasa yang membantu menjaga kulit tetap kering

“Ketepatan memilih popok dewasa penting untuk memastikan area kulit tetap kering, tidak pengap, serta terhindar dari kelembapan berlebih,” kata Eka.

Menurutnya, kondisi kulit yang terlalu lembap merupakan salah satu faktor yang mempercepat terbentuknya luka tekan.

Inovasi Perawatan Kulit Lansia

Selain perubahan posisi tubuh dan pemeriksaan kulit secara rutin, pemilihan produk pendukung juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan kulit lansia.

Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah popok dewasa tipe perekat Lifree yang menggunakan material 100 persen breathable untuk membantu sirkulasi udara sehingga panas tubuh dapat keluar dari dalam popok.

Produk ini juga dilengkapi teknologi jalur serap aktif yang dirancang menyerap urin secara cepat dan merata hingga pemakaian maksimal 12 jam. Sementara itu, perekatnya diklaim tetap kuat meski dilepas dan dipasang kembali hingga 10 kali, sehingga memudahkan caregiver saat melakukan pemeriksaan kondisi kulit.

Menurut Unicharm, inovasi tersebut dikembangkan sebagai bagian dari upaya membantu menjaga kelembapan kulit lansia agar risiko iritasi dapat ditekan.

Edukasi Tidak Kalah Penting Dibanding Inovasi

Presiden Direktur Unicharm Indonesia, Yasutaka Nishioka, mengatakan peningkatan kualitas hidup lansia tidak cukup hanya melalui inovasi produk.

Baca Juga :  Dokter Dermatologis Endi Novianto Pria Muda Rentan Mengalami Kebotakan

“Unicharm memiliki misi mewujudkan masyarakat simbiosis Indonesia yang sehat, mandiri, nyaman, dan bahagia melalui produk penyerapan berkualitas seperti Lifree. Setelah menghadirkan popok dewasa pertama dengan teknologi 100 persen breathable pada 2024 dan memperoleh bukti ilmiah melalui riset klinis bersama CRSU-FKUI pada 2025 yang menunjukkan Lifree tipe perekat terbukti dapat memperbaiki kondisi kulit, tahun ini kami melangkah lebih jauh dengan mengedukasi lebih dari 1.000 tenaga medis melalui kolaborasi Webinar Nasional bersama PPNI,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa perusahaan ingin terus memperluas edukasi mengenai perawatan lansia yang tepat agar target “nol luka dekubitus” di Indonesia dapat diwujudkan.

Merawat Lansia Dimulai dari Hal yang Sering Dianggap Sepele

Bertambahnya jumlah lansia di Indonesia bukan sekadar angka statistik. Di baliknya ada jutaan keluarga yang setiap hari menjalankan peran sebagai caregiver.

Mencegah luka dekubitus pun sebenarnya dapat dimulai dari kebiasaan sederhana: rutin mengubah posisi tubuh, menjaga kulit tetap bersih dan kering, memeriksa kondisi kulit setiap hari, serta menggunakan perlengkapan perawatan yang sesuai.

Semakin dini pencegahan dilakukan, semakin besar peluang lansia menjalani masa tua yang sehat, nyaman, dan tetap memiliki kualitas hidup yang baik. (Rin)