Site icon Wanita Indonesia

Yenny Wahid: Pesan Gus Dur Lawan Ketidakadilan Tanpa Memandang Latar Belakang

Yenny Wahid bersama Ibunda Sinta Nuriyah menerima penghargaan untuk Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di acara Lifetime Achievement Awards (penghargaan pengabdian seumur hidup) 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026). LAA

WANITAINDONESIA.CO — Pesan kemanusiaan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tetap relevan di tengah masyarakat yang kerap terjebak dalam perbedaan identitas, agama, dan status sosial. Bagi Presiden ke-4 Republik Indonesia tersebut, kemanusiaan tidak boleh dibatasi oleh latar belakang seseorang karena setiap manusia memiliki harkat dan martabat yang harus dihormati tanpa terkecuali.

Putri Gus Dur, Yenny Wahid, menegaskan bahwa ayahnya bukan semata-mata pembela kelompok minoritas, melainkan pembela siapa pun yang mengalami ketidakadilan. Prinsip tersebut menjadi salah satu landasan utama dalam pemikiran dan perjuangan Gus Dur sepanjang hidupnya dalam merawat nilai-nilai kebangsaan.

“Gus Dur bukan pembela minoritas. Gus Dur adalah pembela orang-orang yang dizalimi. Kalau yang kebetulan dizalimi adalah minoritas, akan dibela. Sampai, bahkan sampai mati,” ujar Yenny di acara Lifetime Achievement Awards (penghargaan pengabdian seumur hidup) 2026 di Jakarta, Senin (26/10).

Menurut Yenny, keberpihakan Gus Dur tidak ditentukan oleh identitas mayoritas atau minoritas, melainkan oleh ada atau tidaknya ketidakadilan. Karena itu, siapa pun yang menjadi korban penindasan berhak mendapatkan pembelaan, sebaliknya jika seseorang atau kelompok melakukan penindasan maka tindakan tersebut harus dilawan tanpa memandang latar belakangnya.

“Kalau yang dizalimi adalah mayoritas, juga pasti akan dibela. Kalau yang minoritas kebetulan melakukan penzaliman, pasti juga akan dilawan,” kata Yenny.

Yenny menjelaskan bahwa salah satu karakter Gus Dur yang paling membekas baginya adalah keberanian untuk menyampaikan kebenaran, termasuk ketika sikap tersebut membawa konsekuensi berat bagi dirinya dalam perjalanan hidup bermasyarakat dan bernegara.

“Buat Gus Dur, ketidakadilan itu harus dilawan. Nah, banyak karakter Gus Dur yang saya sangat kenal, terutama adalah keberanian beliau untuk mengatakan apa yang benar dan mengatakan apa yang salah,” ujar Yenny.

Ia menambahkan bahwa Gus Dur menempatkan nilai kemanusiaan di atas segala bentuk identitas yang melekat pada seseorang, di mana agama, keyakinan, maupun kedudukan sosial tidak seharusnya menjadi alasan untuk membedakan perlakuan terhadap sesama manusia.

“Buat Gus Dur, kemanusiaan itu mengalahkan identitas. Buat Gus Dur, semua orang, semua makhluk, beliau adalah makhluk Tuhan. Mereka adalah makhluk Tuhan, harus dilindungi,” tutur Yenny.

Keteladanan dan perjuangan besar tersebut turut mendapatkan apresiasi luas dalam penganugerahan penghargaan yang diselenggarakan oleh Katadata yang memberikan Lifetime Achievement Award (penghargaan pengabdian seumur hidup) kepada B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan William Soeryadjaya dalam acara bertajuk Tiga Tokoh Satu Indonesia pada Senin (26/10).

Penghargaan ini diberikan untuk mengenang kontribusi ketiganya dalam membangun Indonesia sekaligus menghidupkan kembali semangat persatuan dalam momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda. Ketiga tokoh tersebut memiliki latar belakang dan jalan pengabdian yang berbeda, mulai dari B.J. Habibie melalui ilmu pengetahuan, teknologi, dan industri dirgantara; Gus Dur atas perjuangannya dalam merawat kemanusiaan, toleransi, dan kebhinekaan; hingga William Soeryadjaya yang berkontribusi melalui dunia usaha dan pembangunan industri.

Meneladani warisan pemikiran para tokoh bangsa ini menjadi pengingat penting bagi seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat keadilan, kemanusiaan, and persatuan demi masa depan Indonesia yang lebih kokoh dan beradab. (Gdi)

Exit mobile version